Awalnya aku hanya ingin mencapai suatu tujuan. Tentu kupilih kendaraan yang punya sebaik-baik keadaan. Tapi lambat laun, bukan sekadar sesederhana itu aku punya alasan. Tidak hanya aku, kuyakin ini pula yang sahabat lain rasakan kebanyakan. Oleh karenanya, mantaplah sebuah keyakinan.

Ingat, Hims, Rhenald Kasali menyebutkan, “Setiap langkah yang terasa berat, artinya kamu sedang meningkat. Setiap langkah yang terasa biasa, artinya kamu turun tingkat.”




Catatan 15-17 Desember 2017 Wisma Dharmais, Kulon Progo. Ini kali keempatku berkunjung kemari. Bagaimana tidak mengenang? TM 1, TM 2 sebagai peserta, pelatihan ustadz/ah Badko Kraton, dan kegiatan kali ini.


Ditulis sambil menyimak lagu yang diputar Bunda Ansal dan Bunda Anggit, “Sembilu yang dulu biarlah berlalu…” dan dilanjutkan lagu India. Dalam keadaan tubuh luka-luka, betul kusadari memang ini perlu. Sekali lagi, aku berharap penuh biar rasa makin dekat dengan-Mu terus mendekapku. Bismillahirrohmanirrohim.

SEBELUM KEBERANGKATAN
Sebelum segala tetek bengek persiapan keberangkatanku dalam Jambore Perkaderan, aku melalui ujian listening dan speaking. Sedikit bangun telat usai Shubuh sebab tidur lagi dan baru sekian menit memasuki waktu ujian. Hoho, seperti biasa aku disemprot ujaran anak-anak sebab telat tapi masih sempat. Haha, rasanya menyenangkan. MasyaAllah.

Hehe, tapi soal hasil ujiannya? Jangan ditanya. Kalau bukan karena Pak Amin, dosen Listening and Speaking, membiarkan kami mengulang lagi untuk kedua kali, maka nilaiku (lagi-lagi) di bawah semestinya. Alhamdulillah, lumayan. Ayo, Hims! Gaskan! Kita nggak tahu dimana ujung jalan, yang penting terus jalan!

(Kuhentikan dulu, 01.40 WIB habisin ngobrol sama Oase sama Sabrina, enaklah. Tapi nggak penuh, sebab akhirnya aku harus tepar lebih dulu)

JUMAT, 15 DESEMBER 2017
(Tulisan ini tersendat-sendat. Seharusnya perhari ada upaya mengisi sedikit, tapi sayangnya usaha menyempatkan tiada beriringan dengan adanya kesempatan. Baru mulai lagi di hari terakhir, Minggu, 17 Desember 1439 pukul 12.40 WIB saat anak-anak sedang RKTL (Rapat Kerja Tindak Lanjut))

Sepulang ujian, dengan kecepatan super kusempurnakan segala perlengkapan. Ndak banyak dan memang nggak butuh banyak. Langsung gaspol menuju PDM Kota Yogyakarta bersama si Pilek yang setia, kubilang padanya maaf untuk meninggalkan beberapa waktu (hehe, di batin, malu tentu kalau kuucap langsung). Di PDM beberapa bocah yang rajin sekali sudah menunggu di tangga-tangga depan. Bis berangkat ba’da Jumatan, mereka datang sejak ± pukul 10.45 WIB. Ugh. Mana lucu begitu, mereka peserta Taruna Melati I yang notabennya masih anak SMP/MTs. Meskipun ya ada juga beberapa siswa SMA/K/MA.

Bersama Elita, aku membonceng bus. Hehe. Uwenak. Ngobrol dan habis menembus batas-batas kecanggungan. Alhamdulillah. Di momen begini, anak-anak ceriwis dan urakan adalah modal baik yang bisa dimanfaatkan. Karena apa? Adanya mereka mencipta percik-percik interaksi seru yang bisa mengundang ketertarikan banyak orang.

Ada bocah kecil namanya Sandi. Lucu sekali. Masih kelas 7. Di tujuan dia langsung memanggilku Wardah. Hmm, aku tahu ini ajaran siapa. Hahaha. Lalu sosok yang nggak kalah mengagetkan adalah Ni’mal. Tidak terbayang rindunya betul-betul mau ia bayarkan dengan datang kemari. Lalu ada sahabat-sahabat alumni TM 2 yang juga baru kuketahui peran mereka di sini. Izza, Handika, Siraj, dan sebagainya. Ada juga si Uzic, Wafiq, Nida, Ocik, dan lain-lain.

…Sejujurnya sekarang aku jadi kesulitan menentukan cerita apa saja yang sudah terlalui hari itu. Cuma sedikit-sedikit kuingat.

Muehehe, dalam agenda ini aku menjadi panitia Humas Danus. Belum maksimal kupenuhi amanah ini, tapi bismillah hari H ada ya. Awalnya terasa there is nothing I have to do. Tapi bukan berarti there is nothing I can do. Termasuk, jadi babu. Hohoho.

Hari pertama kuhabiskan menikmati buku yang terbawa walaupun ndak maksimal suasananya kondusif. Lalu, beberapa kali sekadar jadi pelengkap persiapan materi. Ngobrol, baper, dll. Di antara segala obrolan sedikit ada sesak saat ngobrol dengan Putra dan Bunda Manda. Waktu beberapa kesempatan rasa kagum mereka disampaikan, aku belum sepenuhnya sanggup menghindarkan diri dari rasa terbang dan melanjutkan cerita. Beberapa saat setelah lama obrolan itu terlewat, aku kepikiran, seharusnya nggak perlu banyak-banyak diceritakan. Tahan, tahan, lebih baik ditahan. Kudu lebih pinter lihat keadaan. Pongahku bisa jadi beban. Huuu.

Hari itu ada materi keislaman yang disampaikan oleh Mas Erfan. Lagi-lagi dipertemukan dengan orang lama. Ingat sekali, beliau dulu Imam of Training pada saat keikutsertaanku sebagai peserta TM 1 dua tahun lalu. Paling gencar ngopyak-ngopyak sholat. Ngajarin bacaan quran yang diriku sendiri nyatanya sampai sekarang juga lupa-lupa ingat nama hukum bacaannya. Allohu. Sudah lama sekali ternyata.

Malamnya ada Stadium General yang diisi oleh Mas Hafizh, Sekum PP IPM. Jujur, diriku baru tahu nama dan pribadi beliau ya malam itu. Kubiarkan jauh tubuhku dari arena peserta, tapi masih sejajar dengan berdirinya Mas Hafizh. Sayang, nggak penuh perhatianku terarah pada materi beliau. Ada merenung. Ada sempat Bunda Apri membersamai yang segera mengundang rasa ingin berbagi kegundahan belakangan.

“Nggak ngerti, Bun, kenapa kepikiran. Remeh banget, nggak penting, tapi rasanya pikiran negatif muncul terus. Aku ini siapa, di sini nggak punya siapa-siapa, temen yang ini sama yang itu, gandengan sendiri-sendiri, nggak paham posisiku.”

Lambat laun, tenang dan sedikit lega. Setelah ngobrol dan sedikit-sedikit diingatkan. Kita emang perlu jauh-jauh dari keyakinan “aku udah berbuat banyak” yang lalu membawa pada harapan muluk-muluk atas respon orang. Kemudian dikatakannya, “Berharap sama manusia emang nggak akan pernah mencapai kepuasan kan, Nduk.” Aku leleh. Kesadaran meremukkan sesaknya dadaku. Aku dilanda rasa terbebas luar biasa. Sadar! Allohuakbar!

Setelah itu sempat aku hendak memenuhi tugas dari Pak Nabhan, cuma di tengah jalan dicegah oleh anak-anak Muhacil yang berkeluh ingin pindah kamar. Kudatangi kamarnya dan memastikan mereka sama-sama mau untuk saling mencipta percakapan. “Kalau sepi, bakar aja!”

Tapi ternyata saat hendak kembali, kita dibuat panik dengan bergetarnya tanah di bawah. GEMPA! Anak-anak teriak histeris keluar. Jujur, aku juga panik. Kepalaku pening. Tapi aku paling tua di sana, nggak lucu kalau ikutan teriak. Kukatakan, “Wait, santai, santai.” Sambil meminta anak-anak yang memakai jaket untuk dipinjamkan ke yang nggak sempat berkerudung. Rasanya deg-degan.

Selesai gempa, kepalaku masih pening. Tapi sok-sokan kukukuhkan jalan.

Sebelum sampai pada menutup mata, ada evaluasi malam dan persiapan agenda besok. Malam itu aku tidur di lantai bareng Sabrina, beralas backdrop acara SA – LC lalu. Hehe, enak. Meski bangunku jadi berat.

(Usai di dalam bis TM 1, saat berpulang pukul 15.29 WIB.)


HARI SABTU, 16 DESEMBER 2017
Sedikit kesal dan kecewa pada diri pribadi sebab terlena untuk menyempatkan menutup mata (lagi) saat jelas-jelas adzan berkumandang. Lemah sekali imanku ini. Kalau begini, bagaimana bisa bilang siap mati?

Aku berjamaah dengan Bunda Rifa di ruang panitia. Segera bersiap untuk senam. Pada kenyataannya yang seharusnya Wafiq menjadi penanggungjawab, entah rimbanya, jadilah aku ditemani sahabat idaman segala bangsa, Nida, menjadi instruktur senam abal-abal.

Pagi-pagi itu syukur sekali bisa menggila dan receh bersama anak-anak PKTM 1 dan 2. Sesuatu yang eman-eman untuk tidak dimanfaatkan. Rindu begini. Rindu sekali.

Setelahnya kesenggangan waktuku semakin berkurang karena Bunda Rifa yang menjadi fasilitator TM 2 harus berpulang sejenak dan aku diminta menggantikan. MasyaAllah! Dalam kelompok 3 yakni Sobron, Febty, Tiyok, Be, Aci, Rian, dan Enta. Tiga di antaranya adalah ketum dari ranting IPM sekolahnya. Hmm, ngeri.

Jadi fasilitator artinya fokusku kepada pematerian juga tidak boleh banyak lepas. Aku pun senang sekali. Dua pemateri hari ini cukup mengundang keceriaan berlebihan. Mas Fathya Fikri untuk materi Appreciative Inquiry (AI) dan Mas Nurcahyo atau Mas Dede untuk materi Literasi. Menurutku keduanya sangat mantap sukma dan punya rekam jejak yang pas untuk mengupas materi masing-masing.

Jujur, waktu pematerian aku sempat terkantuk-kantuk. Sehingga segera saja memilih menjadi operator, lumayanlah, mau nggak mau tetap harus terjaga. Apalagi, kupikir aku harus mendapat sesuatu di pematerian kali ini.

Kemudian aku juga memenuhi targetku bersama Elita membeli susu sore harinya. Kami berjalan kaki dan bercerita sampai habis soal tanggungjawab menjadi fasilitator. Elita sedikit-sedikit gemas sebetulnya dengan tanggungjawabnya, sebab harus selalu memperhatikan anak-anak bimbingannya di TM 1. Sedangkan ada hasrat sendiri dalam batin tiap fasilitator untuk sibuk dengan dirinya sendiri. Hehe. Aku juga merasa begitu. Kadang aku membutuhkannya. Tapi kami sadar, itu akan menjadi sesuatu yang mengajarkan kita untuk makin dewasa dan memahami setiap pribadi orang.

Hari itu aku juga banyak mengobrol dengan Mirza soal buku-buku. Lalu kepada topik soal Cak Nun yang begitu membuatnya kagum dan nggak habis pikir soal kepribadiannya. Kalau begini aku jadi ingat Sukin yang menjadi saudara jauh beliau, dulu sekali saat aku masih di SMA dia senang menceritakannya. Duh, Kin, sukses UN-mu ya.

Sampai sore aku mendampingi anak-anak fasilitator TM 2. Kami tertawa, kebanyakan menertawakanku (dibully). Haduh. Tapi aku bahagia. Sayang masih sering aku kecolongan membiarkan sebagian memenuhi ambisinya untuk aktif sedangkan beberapa masih diam dan kurang berkontribusi. Hingga pada persiapan malam keakraban, kutanyai, “Udah nyiapin untuk pentas nanti malam?” beberapa kali. Kata mereka belum, masih bahas, dan lain-lain. Sampai pada akhirnya mereka meminta bantuan untuk dibuatkan puisi berantai. Kuiyakan. Tapi dengan ketidak enakan hati.

Kusuka memandang langitnya dari sini. Belakangan langit barat memang enak untuk dipandangi.
Mereka sebagian meminta maaf karena merepotkan. Emosiku di situ entah bagaimana juga sedikit menampilkan rasa jengkel. Bukan sebab merasa direpotkan (walaupun awalnya merasa begitu), tapi lebih karena ketidakberdayaan meminta mereka mengerjakan sendiri.

Sedikit kubumbui mungkin ya aku sampai kan, walaupun ini jujur, “Aku merasa berat dan payah jadi fasilitator.” Sebagaimana kualami juga saat di PDPM lalu.


“Maaf ya Sahabat, terlalu banyak ikut campur dalam tugas kalian. Terlalu banyak pengen memastikan sebetulnya malah membuatku jadi nggak enakan. Kesempatan kalian untuk banyak-banyak menunjukkan potensi dan mengasah diri malah kukurangi. Harusnya aku cuma jadi fasil.”


Serius. Kurasakan begitu. Ikut menimpali dalam beberapa pematerian, banyak memberi usulan dalam diskusi tugas, duh. Hims, tahan, tahan! Harus ditahan! Aku minta maaf pada mereka. Sobron bilang, “Malah bagus kok, Mbak!”


Tapi aku ndak setuju, ini namanya menghambat peningkatan mereka. Aku mendesah. Katanya, “Nggak papa, Mbak. Ada plus minusnya.” Tapi bagiku, ini sudah sampai ambang batas. Besok lagi, harus ngerem.


Akhirnya mereka pun latihan dengan hatiku masih muncul penyesalan. Maafkan. Semoga bagaimanapun kalian tetap mampu memperoleh kebaikan dan manfaat.


Setelah itu menuju waktunya, kami segera mencapai lokasi makrab yang sudah dipersiapkan begitu romantis suasananya. Lilin yang menyala menyenangkan, kayu-kayu yang sudah disiram minyak tanah. Siapa lagi yang mengaturnya kalau bukan kader HW kebanggaan kami, Bapak Farizqy TA. Walaupun yeah, saat proses penyalaan api unggun terdapat insiden kegagalan. Tapi secara keseluruhan, memuaskan.


Aku menjadi pembawa acara bersama Bima. Seru meskipun agak krik-krik karena recehnya aku. Isinya dibully mulu. Tapi enak, serius aku bisa melepas gilaku malam itu. Mana beberapa lagu yang didengungkan makin membuat samudra perasaan dipenuhi ombak-ombak yang menggegerkan.


Baru saja berakhir

Hujan di sore ini
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa diberi
Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Lagu Ipang berjudul Sahabat Kecil itu didengungkan dalam film Laskar Pelangi berhasil membangkitkan suaraku untuk bernyanyi bersama sekalian alam. Seolah semesta menyadari rinduku terpenuhi. Allah! Romantisnya diri-Mu!


Malam itu Pak TA sukses mengajarkan kami bernyanyi dan menari ala anak-anak HW, anak-anak Gunung.


Pada Hari Sabtu

Yok kita bergembira
Aha! Masak! Omaigat!

Badan bau keringat

Yok kita bergembira
Aha! Masak! Omaigat!

Senang sekali! Alhamdulillah! Alhamdulillah! Alhamdulillah! Nikmati sekali! Penampilan kemudian ditutup dengan persembahan Bunda Manda, Pak Alwan, Jay, dan Abyan. Tentu saja heboh suasana saking kecenya mereka. MasyaAllah Allah! Aku setuju bila setelah itu, semua orang akan berkesempatan untuk merasakan kerinduan.


Malam itu pula batinku diliputi rasa bersalah yang lepas. Sebab seorang sahabat di damping dudukku berbisik sesuatu—tidak perlu kuungkap apa itu. Mungkin belum masanya. Apa aku salah? Beri aku petunjuk-Mu ya Rabbi.


Setelah semua usai, suara itu, tawa itu, tarian itu, kegilaan itu, para peserta segera kembali ke dunia mimpi. Sedang panitia menyiapkan agenda untuk esok hari hehe. Sedikit mengevaluasi dan dilanjutkan briefing outbound besok. Wafiq yang menjadi penanggungjawab game sawah mengusulkanku menemaninya, segera kutimpali, “Hmm. Kemarin ada yang minta jadi partner senam tapi malah ilang lho ya.” Haha. Tapi aku mengiyakan.


Rasanya capai sekali. Aku sudah mulai menggelepar di ruang transit. Di lantai tentu saja. Tempat ternikmat untuk tidur menurutku. Sampai akhirnya pukul 02.00 WIB aku dibangunkan.

(diusaikan di kampus sore ini)

HARI MINGGU, 17 DESEMBER 2017
Nggak terasa sudah mencapai jadwal dimana waktunya untuk berpulang. Setelah tidur beberapa waktu dan harus berjaga dari jam 02.00 WIB sampai Ibadah Shubuh, akhirnya tidak tahan juga aku. Ambruk. Waktu itu di ruang transit aku ingat sekali ada Pak Aufar dan Mas Rama. Oleh bapakku itu aku ditertawakan sebab bentukan nggak menguatkan. Kalau tidak salah aku ambruk lagi di tempat panitia. Pukul 8 kalau tidak salah aku tersadar dan dibarengi panik. “Outbound!”

Fanin buru-buru berseru, “Tadi kamu dicariin Wafiq, aku bilang tidur. Katanya yaudah biarin. Akhirnya dia ditemenin Ocik.”

Aku bergegas memakai celana panjang dan menuju sawah. Ingin kukenang setahun yang lalu. MasyaAllah. Lagi-lagi kenangan itu membeku. Dingin bila kusentuh. Aku tertawa-tawa sambil melempar lumpur ke anak-anak. Tapi sebetulnya dalam batinku ingin sekali menangis, ingin kupeluk semua ini. Sawahnya, baunya, lumpurnya, sejuk anginnya, semua-muanya, orangnya (yang boleh aja sih, hahaha), ingin kupastikan semuanya nggak hilang dariku!

Aku terkekeh melihat kelompok Hanif Indhie yang menyerukan yel-yelnya. “Kami memang sudah mandi, tapi tetep aja jelek!” yang setelah bermain di sawah berubah menjadi “Kami memang sudah mandi, sekarang jadi makin jelek!” Haha, memang bocah-bocah itu.

Kami naik lagi dan beranjak menuju sungai yang telah melegenda. Hehe. Aku cuma berendam. Nyaris sama seperti tahun lalu, aku ditanya orang-orang, “Nggak loncat, Him?” dan direspon sama pula, “Nggak bisa renang, heh.”

Sampai waktunya aku sudah keluar dari air dan benar-benar nyaris meninggalkan. Aku berhenti. Aku meragukan imanku. Apa yang aku takutkan? Aku diam. Bergeser ke depan belakang. Ditanya bocah itu lagi, “Ngapain?”

Kubilang, “Memutuskan mau nyebur atau nggak.” Lalu aku diberi jempol terbalik. Hmm, mengingatkanku kepada seorang sahabat baik. Lalu aku mundur dan berbalik. Ke sungai.

Ada Pak TA, Ian, Reqyan, Mirza, Hammam, dan beberapa teman. Kupegang pinggiran sungai. Kata Pak TA, “Jangan ngelawan arus. Biarin aja.”

“Lah, berarti aku diem aja?”

“Ya, jangan diem aja, gerak tapi jangan ngelawan arus.”

Nggak paham teorinya. Tapi, bismillah, aku nggak mau mengecewakan iman. Aku lepaskan pegangan. Gilak! Ternyata kepalaku dibawa arus masuk ke air, nggak kubayangkan. Tapi inget lagi, jangan panik. Aku mencoba tenang dengan berupaya melambaikan tangan ke udara. Entah bagaimana tubuhku segera muncul ke permukaan mencapai tepian. Seorang bocah berseru padaku, “Keren kok, Mbak. Pertama kali dan nggak panik. Tadi ada anak yang panik, dibantuin malah bikin yang nolong ikut nyaris tenggelem.”

Duh. Alhamdulillah. Untung aku denger ceritanya habis nyebur, coba kalau sebelumnya, nggak jamin tadi aku mau menuntaskan. Ugh. Setelah itu masih juga sosok yang tadi memberiku jempol ke bawah. Aku senyum. Pikiranku melayang jauh, hehe.

Untuk kedua kalinya kucoba lagi. Dan kali ini malah betulan tenggelem. Katanya sih. Sejujurnya aku bingung. Hehe, serasaku sama aja kaya yang pertama. Telingaku penuh air, kepalaku pening. Cuma orang di sana bilang aku tenggelam. MasyaAllah. Lalu kubiarkan tubuhku istirahat sebentar sambil menatap ombak-ombak kecil yang di buat arus sungai. Aku merasa tenang, damai. Seingatku aku merenungkan sesuatu, tentang ruhani, tapi aku lupa. Payah sekali. Semoga saja itu memberi efek positif untuk langkah selanjutnya.

Lalu aku tidak mencoba nyebur lagi. Alhamdulillah. Semoga ada kesempatan lain kali.

Setelahnya aku lupa-lupa ingat ngapain aja. Yang jelas, aku menghindar dari RKTL karena nggak mau ikut campur. Aku ke ruang transit dan mencoba mengusaikan tulisan ini, ternyata nggak kuat dan ambruk lagi. Hehe, pemalas sekali ya diriku ini. Melewati penutupan ternyata aku dibangunkan Pak TA untuk sesi pemotretan. Duh. Sebentar lagi pulang dong? Aku sudah janji dengan Atim untuk memastikan anak-anak sampai PDM dengan selamat. Aku lupakan soal pemotrertan karena belum membereskan barang-barangku di rumah panitia. Aku ingat banyak hal tercecer di luar tas. Sekali lagi, aku nggak mau kehilangan. Ternyata payah, kupikir semuanya sudah kumasukkan, beberapa waktu kemudian kusadari mukenaku ketinggalan. Syukurlah ada yang membawakan. Rasanya sedih, masa yang kulupakan adalah mukena. Huhu. Ampuni aku.

Setelah itu kami kembali naik bus. Panitia selain aku dan anak Mualimat masih di sana dan berbenah. Aku di bus dengan membawa segenap rasa lelah. Kupikir aku biasa saja, sampai Jaka Dan Arsyad menanyakan, “Mbak, kenapa e Mbak? Kok nggak semangat Maya kemarin? Capai po?”

Aku merasa ndak enak. “Iyakah? Kelihatan po?” Diriku sendiri pun penasaran. Pada mereka aku jadi ndak enakan. Harusnya kulepas anak-anak dengan kesan akhir yang menyenangkan.

Ketika sampai aku hanya bisa mengalami satu-satu, memastikan mereka ada yang jemput. Begini, aku belajar dari Yasmin (yang kurindukan sekarang kehadirannya), dia pernah baper dengan teman laki-lakinya yang saat jadi ketua panitia acara peka sekali memastikan semua anggotanya pulang dengan selamat. Batinku, oh iya, betul juga.

Aku sempat merasa kalah dengan seorang Sahabat, sebab tidak gereget mendahulukan sholat. Kalau bukan karena diingatkan oleh anak Muha, bisa jadi kuabai dengan ibadah. MasyaAllah, astaghfirulloh. Saat aku kembali tinggal tersisa anak Muha itu (sedih, kulupa nama anak cantik ini) dan Hanum dari Mutu. Kami mengobrol. Anak Muha berceletuk soal anak Mupat yang barusan saja mendekatinya di acara ini. Aku tertawa. Lucu sekali memikirkan hal semacam ini, bahwa cerita lelaki dan perempuan itu berputar berulang-ulang seperti sinetron FTV dengan judul dan nama tokoh berbeda. Alurnya, ya, begitu-begitu saja.

Setelah beberapa saat anak itu dijemput oleh kakaknya. Nggak disangka sang kakak berseru, “Loh, Ahimsa!” bingung aku, siapa itu. “Inget nggak? Ini lho yang waktu seminar literasi!”

Oalah! Buru-buru kuserukan, “Oiya, milad di UMY itu kan Mbak!” Hehe, lupa-lupa ingat, sekadar terlintas kalau nggak salah orang Piyungan dan ternyata betulan. MasyaAllah! Hims! Indahnya hidup! Lalu mereka berdua berpamitan.

Selanjutnya tersisa aku dan Hanum. Dia menunggu Jay. Tentu saja. Kami menghabiskan waktu mengobrol soal Mutu. IPM-nya, gurunya, anaknya, dan sebagainya. Seru, aku jadi makin tahu. Jay datang nyaris pukul 17.30 WIB. Lalu segeralah aku berpulang. Nikmat.

Kututup dengan alhamdulillah. Semoga tiap pribadi yang membawa diri ini menjadi Ahimsa seperti yang dilihat orang sekarang ini, diberi balasan barokah dan kemudahan dalam setiap jalan.

“Semoga dimanapun langkah, kami temukan rumah, pada-Mu kami pasrah.”

Kulon Progo, 26 – Yogyakarta, 29 Rabbiul Awwal 1439

Bunda Ansal. Aisyah. Putri.

Materi Mas Erfan.
Pembukaan? Rindu.

Fida Fathina Atifa, lihat? Aku masih hapal namamu Sahabat. Its nice to talk with you, my dear.

Yuhuuuuu ketua LIM dan angbid PKD MTs Muat, ugh.


Tinggalkan Balasan