Belum dibersamai secara lahir sahabat J, sahabat Dias, sahabat Rifa. Kalau secara ruh, jiwa kita selalu bersama. Jiwa advokad mustald’afin. Jiwa membela teman sebaya. Jiwa pemadam api. Insya Allah.

Setiap orang punya kekurangan. Hmmm, atau bukan “kekurangan” yang biasa dianggap sebagai “takdir Tuhan” dan nggak bisa diubah lagi. Maksudku adalah kondisi di mana kita bisanya baru begitu, belum mengalami peningkatan lagi yang menjadikan sesuatu itu bernilai maksimal, makanya disebut ke-kurang-an, hehe. Otewe nambah, maksudnya.

Aku punya. Masih banyak. Huhu. Banget. Kalau aku list, malu juga, tumpah ruah.

Satu dari sekian yang malu-malu kuakui adalah disorientasi-ku dalam beberapa ranah perjuangan. Hueeee. Pertanyaan yang memeras batin dan kepala belakangan adalah, “Kamu mau ngapain di sini?”

Ndak perlu ke mana-mana dulu. Di IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah), tingkat daerah, kota, gilak keren banget. Gilak! Dulu sebelum ini seseorang berseru padaku, “Ya ampun, Sa. Padahal pleno aku mau narik kamu ke daerah!” Buru-buru kutolak mentah-mentah sebab dalam pandanganku PD IPM Kota Yogyakarta diisi oleh manusia yang otaknya udah kemana-mana. Jauh, tak tergapai. Jauh, tak tercapai. Tidak siap. Sangat tidak siap. Muehehe. Lalu hari ini, sudah nyaris tujuh bulan aku bersayapkan PD IPM Kota Yogyakarta. Kok bisa? Aneh aja kalau dipikirkan perlahan. Lebih-lebih, di Bidang Advokasi. Uwadawww. Bayanganku ndak pernah ke sini. Tapi masya Allah, walhamdulillah, aku tidak mau menghianati bahwa begitu luas pembelajaran yang diriku dapati.

Bangga? Bisa jadi.

Menyesal? Bisa jadi.

Pada kenyataannya memang begitu. Sangat ndak bisa dipungkiri, ini menyesakkan. “Kamu ngapain aja tujuh bulan ini?” atau lain lagi “Kamu mau ngapain setelah ini?” huhu, betapa aku jarang punya hubungan baik dengan waktu. Kita jarang mengobrol dan akhirnya lihatlah banyak amanahku jebol.

Bukan aku ndak mengakui apa-apa yang sahabat IPM sudah perjuangkan. Oke, biar kuingat. Ayo Garap Dewe, Ini Hari Apa, Lulus Seru, Fortasi, Syawalan, Sekolah Advokasi, Literacy Camp, PDPM, dan on the Jambore Perkaderan. Pun itu belum masuk berbagai kegiatan-kegiatan kecil yang aku ikut nyempil di dalamnya. Nah, banyak kan? IPM memberiku banyak hal. Banyak sekali.

Semalam ketika rapat Jambore, kubilang, “Kalian ndak baper kah? Dulu kita jadi peserta, sekarang kita yang mikirin acaranya jadi panitianya.” Huhu. Batinku ingin menangis rasanya.

Beberapa waktu lalu, bersama dengan ucapan selamat milad kepada bunda sahabat idaman segala bangsa fasilitatorku dalam Sekolah Advokasi 2016 (di mana aku masih jadi peserta), Bunda Laila, kucipta luapan resah “PESERTA vs PANITIA” via instagram. Huhu. Iya! Batinku ingin menangis!

Aku mengingat-ingat betapa rasa miskin ilmu dan ndak tahu apa-apa menciptakan gereget untuk tahu sini dan sana. Jadi peserta, aku merasa sadar tenan dengan bodohku. Hehe, bukan berarti jadi panitia itu nggak bodoh ya. Tapi, lupa aja kalau bodoh. Keminter. Huhu. Puas akan otaknya yang (sok) pinter, jadi yaudah ndak mau lari maju lagi. Nah, itu malah jauh lebih bodoh kan ya.

Aku mengerutkan dahi. Bingung dan canggung untuk menemui hal di depan.

Kupertanyakan semua sibuk (yang nggak ada apa-apanya sih jane dibanding sibuknya pejuang yang lain) dan semua lelah (yang jelas ketok tenan, hehe) itu, buat apa? Aku jadi panitia ini. Aku jadi panitia itu. Aku begini begitu. Buat apa? IPM yang kubayangkan sebagai kendaraan “berjuang” memang dulu begitu abstrak terbayang implementasinya akan seperti apa. Sekarang, kuhadapi, isinya senarai kegiatan yang menguras pikiran. Allahu, apa untuk ini aku di IPM?

Aku menarik napas dalam-dalam.

Menyadari batas-batas dalam diri, kucoba mengumpulkan sebisa mungkin niat baik apapun lalu memasukkannya dalam kalbu. Bismillahirrohmanirrohim. Tiap kegiatan, punya tujuan. Tiap amanah, punya arah. Untuk apa? Biar begini, begitu. Biar manfaatnya ini, itu. Mungkin aku yang kurang memaknainya, terlalu sibuk pribadi ini dengan hal-hal pragmatis, padahal sasarannya entahlah tercapai atau tidak.

Setidaknya, harus ada sesuatu yang mengarahkan langkahku. HARUS! Akan kubuat indikator keberhasilannya juga (versiku sih seenggaknya) hehe. Kalau ada yang tanya, “Lah, besok kalau udah mencapai indikator keberhasilan terus udah mau lepas IPM?” Uwadawww. Hehe. Pertanyaan yang menohok. Tapi kuungkap, biar mana tiada resah sebab cuma disimpan. “Hmm,” mau bilang sesuatu. “Amanah ini saja belum usai kututup, mana mungkin terbayang melepas? Lagi dan lagi, bila mungkin diridhoi semua amanah terpenuhi, sepertinya tidak akan usai bagi seorang manusia untuk memperbaiki diri, pun tidak akan ada stop bagi IPM meningkatkan kualitas basis massanya lagi.” Seperti kukatakan di depan, selalu ada yang namanya kekurangan, selalu dan akan selalu. Makanya kan, ndak ada stop.

Cuma sedikit dari banyak yang harus dikerjakan.

  • Aku mau ngapain di IPM Jogja? –> Ini Hari Apa (menebar kebaikan), KTA lancar jaya (memudahkan banyak pelajar dalam masalah organisasinya), walking library (ben pinter)
  • Aku mau ngapain di Bidang Advokasi? –> Mari Bercerita (jelas biar tahu kondisi ranting), Advlog (memboomingkan kegiatan biar menginspirasi dan mencipta kesan positif di pelajar), Yayasan IPM (untuk membantu yang kesusahan)
  • Aku mau ngapain buat MAM Saka? –> Rakerpim (biar jelas arah geraknya, supaya kita semua lebih paham cara kerja organisasi), Proker Boom (biar mereka tambah percaya diri oh hei MAM Saka bisa ini)

Bismillah. Betapa limit manfaat sederhana yang kuungkap, harusnya sih masih banyak, tapi setidaknya yang sedikit itu semoga bisa memacu, “Oh, iya aku harus segera begini.” Bismillah. Jangan sampai kehilangan orientasi.

Yogyakarta, 6 Rabbiul Awwal 1439

Tinggalkan Balasan