Kado Amirah dan Ririn

Selamat kembali menemui tanggal 6 di bulan terakhir, Sahabatku!

Untukmu, berarti sudah ke-19 dan ke-20 kalinya langit di tanggal 6 ini menyapamu.

Kala lelapmu, ia khidmat memperhatikan wajahmu. Ketika sadarmu, ia sigap menyapa dan membersamaimu menikmati panas dan hujan.

Untukmu, berarti sudah ke-19 dan ke-20 kalinya bumi di tanggal 6 ini memangku bebanmu.

Kala di tengah hiruk pikuk dunia yang membuat lelah, ia mengokohkan langkahmu sehingga masih punya pijakan. Ketika dalam sendirimu, ia menjadi teman mengobrol yang menyenangkan untuk menemukan banyak hikmah;

air bercerita soal menyenangkannya mengalir, pohon bercerita soal bahagianya bercanda dengan angin, burung bercerita soal indahnya melihat bumi dari langit.

Sekali lagi kuucapkan selamat untuk masih diizinkannya dirimu bertemu dengan langit dan bumi.

Mohon dimaklumi,
Selama menjadi sahabatmu, aku mungkin kurang mampu menjadi langit dan bumi. Mungkin condong terlalu melangit atau terlalu membumi, hingga aku tidak bisa menjadi sempurna untuk menyimak, menyapa, membersamai, serta menguatkan di setiap kamu membutuhkan. Malah lebih seringnya menyusahkan, ya?

___

Alhamdulillah. Aku ingin menyenggolmu di pertemuan kita yang hanya beberapa menit malam ini, tapi belum ada kesempatan… Atau aku belum menyempatkan?

Aku ingin memancing obrolan dengan mengatakan, “Hidup ini… lucu ya, Sahabat?”

Penasaran rasanya dengan jawabanmu. Apakah menurutmu kita selama ini sudah terlalu sering dibuat gemas oleh hal-hal yang tidak perlu? Apakah menurutmu keadaan-keadaan sepele-lah yang sebetulnya membuat kita sering menggerutu?

Beberapa waktu lalu aku menumpahkan tangis  tanpa alasan—atau karena kejadian yang sebenernya nggak masuk akal kalau kuanggap sebagai alasan. Hehe, lucu kan? Lucu-lucuan. Aku pernah, kamu juga pernah? Dan kondisi-kondisi seperti itu kian bertambah semakin kita juga bertambah usia.

Kata salah satu sahabat, “Kalo menyangkut perasaan gini, emang ga pasti, Hims.” Dan, menurutku, iyaaaaa betuuuul!

Di mata sebagian orang, fenomena biasa memang hanya akan dianggap hal kecil. Tapi, bagi sebagian lainnya, kadang fenomena itu akan dianggap kayak upil. Bukan diabaikan. Malah di-notice banget. Iya kan? Kalau ada yang ngupil, pasti diperhatiin banget. Ya gitu. Ada orang yang menganggapnya bukan hal remeh temeh. Hal kecil bisa membuat kita terpana, maupun dalam kondisi lain juga bisa merana. Orang bisa bahagia dan sedih tiba-tiba. Alasannya? *geleng-geleng*

Makanya aku bilang, untuk semua tangis dan sedihku yang kemarin-kemarin, pun kalau kalian juga pernah mengalaminya, kesimpulanku ya itu. “Hidup ini… Lucu ya?”

Hati kita menuntut hal-hal yang macam-macam. Mungkin kalau kita berhasil mengungkapkan dan menumpahkannya, kita bisa sampai pada pendapat yang mengatakan bahwa sebenarnya semua lelah lebih banyak berasal dari sebuah perasaan daripada pekerjaan. Oh, berpetualang menyusuri diri sendiri sepertinya memang sama sulitnya seperti menyusuri seluruh alam ini.

Inilah dia, salah satu petualangan yang mungkin harus kita lalui biar tahu sejauh apa langkah yang mampu digapai kaki.

Zzzz

___

Mungkin agak mudah nggak mudah untuk menganggap semua kejadian kecil itu sebagai hal “sepele”. Karena meski kecil, tapi efeknya ternyata bisa membuat kita menye-menye. I feel you. Tapi, memilih pasif dan menunggu saatnya langit menghentikan hujannya dan bumi menyerap semua genangan airnya, bukankah itu hanya akan percuma? Sedangkan, sebetulnya semua cuaca tidak mengasyikkan ini dihadapkan bukan tanpa tujuan sia-sia?

Bukankah ini supaya kita mau mencoba berpikir dan bertindak: harus apakah aku setelah ini?

Keberanian adalah salah satu bekal utama sebelum kita memilih mantap untuk mau menyusuri rimba jati diri. Berhenti berharap hutan-hutan di sana akan membukakan jalannya sendiri, semak-semak di sana akan berbicara sopan dan menggoda sekali, “Mangga lewati kami, terima kasih.” Hueeehueee, itu semak-semak halang rintang apa mbak-mbak Indomaret. Kita sama-sama tahu arti man jadda wa jadda, kita sama-sama tahu juga bahwa Allah tiada mau mengubah nasib sebuah kaum, kalau kaum itupun belum ada usaha untuk mengubah nasibnya sendiri.

Beberapa malam lalu Ibundaku juga mengingatkan anaknya yang masih sering kelewatan menuntut ini itu dari orang lain,

“Jangan banyak berharap sama selain Allah. Karena itu seperti memberi harapan pada rumah laba-laba, yang mana kita tahu kalau itu seolah-olah ada, tetapi saat disentuh… lenyaplah sudah.”

Kembali lagi, semua adalah tergantung kita sendiri. Kalau kita mau memperbaiki semua keadaan maka marilah hati kita rapikan. Selama napas masih diizinkan, sesungguhnya masih banyak waktu untuk kita melakukan perubahan. Semua itu mungkin, kalau kita percaya :))

Selamat melihat sejauh mana langkah kita akan mampu menyusuri diri sendiri!

Semangat Rin, Rah! Terima kasih sudah banyak memberi ruang berkeluh kesah, semoga kapan-kapan gantian aku yang berkesempatan belajar menjadi pendengar kalau memang dibutuhkan❤❤❤

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *