Aku selalu merasa jadi orang yang punya cita-cita besar. Di kepalaku, banyak sekali ide-ide gila lahir, bertemu, berkenalan, bercinta, dan selanjutnya beranak pinak terus menerus. Di kepalaku, selalu ramai pikiran-pikiran liar yang rajin berdiskusi tentang cita-cita besar, langkah besar, modal besar, dan hal-hal besar lainnya. Aku hidup dengan semua itu di kepalaku.

 

Menarik bukan?

 

Menyenangkan bukan?

 

Hmm, yeah, harus kuakui. Kadang tidak juga. Aku menemukan kesulitan di beberapa hal karenanya. Contoh kecil, dua semester lalu aku mendapatkan mata kuliah yang cukup keren. Namanya book report. Aku bilang keren karena aku jadi dapat kesempatan untuk ditekan dan dipaksa membaca buku bahasa inggris. Tidak hanya itu, bukunya harus klasik. Dan you knowlah ya, buku klasik bahasa inggris itu seperti apa bahasanya, apalagi buku sastra, berkerut-kerut dahiku menerjemahkan tiap katanya. Aku bilang mata kuliah ini keren dan di semester sebelumnya aku semangat dan antusias banget. Aku membayangkan udah bisa gaspol baca segala materi bahasa inggris dan menikmatinya, aku membayangkan bisa presentasi dan menjelaskan soal apa sih makna buku yang aku baca, aku membayangkan bisa menjadikan itu salah satu bahan postingan di caption instagram atau platform manalah. Wididihh, pasti keren biyanget itu jadinya.

 

Hahaha, terus jadi nggak itu semua yang aku bayangkan? Wkwk, jadi kok, tapi tetap jauh dari apa yang aku bayangkan. Aku jadi baca buku bahasa inggris dan insyaAllah paham, tapi ya nggak dapet 100% pahamnya, terus kadang bukunya nggak khatam juga (wkwk, plis banget jangan kasih tau dosen aku). Aku berhasil presentasi di depan dosenku njelasin soal buku yang aku baca, tapi ya banyak dikritiknya hmm, dikelupas kalau aku nggak begitu paham sama bukunya. Aku pernah sih posting buku bahasa inggris jadi konten di instagram, tapi lho, apa, itu doang njuk udah.

 

Aku jadi berpikir soal diriku yang selalu punya cita-cita besar. Am I serious with all the dreams in my head?

 

Kebiasaan lain yang membuatku geleng-geleng sama diri sendiri adalah sukak telat dan jadi deadliners. Baik datang telat ke kelas atau ngumpul tugas telat. YaAllah, kok bisaaaak! Sampai pasti anak-anak angkatan tuh hapal gitu kalau ditanya siapa yang paling suka telat dan selalu pede aja masuk kelas telat. Padahal, misalnya, itu mata kuliah yang rasanya aku banget, aku suka banget, dosennya aku respect banget. Tapi tetep aja, I did not act as if I really liked the subject and respected the lecture. Ya, telatlah, ya, santuylah. Heran kaaan?Heran juga aku tuuh.

 

Aku bertanya lagi, “Am I serious with all the dreams in my head?”

 

Is there no harmony in my body? In my life?” Kalau aku boleh meminjam kata-katanya Gandhi, “Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.”

 

Sampai-sampai baru kemarin seorang teman di museum, Mas Dikky namanya, bilang kira-kira gini, “Him, dikit-dikit aja dulu. Dikit tapi berlanjut. Ki Hadjar dulu juga nggak tiba-tiba melakukan hal besar, beliau mulai dari hal yang kecil-kecil.” Hmmm, aku jadi berpikir sekali. Mungkin aku terlalu banyak bercita-cita tinggi, berkhayal terlalu pagi, sampai lupa bahwa semua itu butuh usaha. Semua cita-cita besar butuh dimulai dengan langkah yang kecil-kecil.

 

Beberapa saat lalu, aku juga jadi ingat sesuatu waktu membantu teman menerjemahkan video di yutub yang kira-kira menyampaikan begini, “Kita harus menggeser bayangan soal hasil menjadi proses, menggeser bayangan soal kata benda jadi kata kerja.” Maksudnya, kalau kita merasa butuh sesuatu atau ingin sesuatu, ya lakukan kerja yang mengarahkanmu untuk mendapatkan sesuatu itu. Contoh yang ada di sana adalah, kalau kamu ingin mendapat kasih sayang, ya mulailah proses menyayangi dan mencintai itu. Hasilnya nanti dulu. Yang penting, lakukan.

 

Akhirnya, aku bisa kembali merenungkan proses belajarku di kampus. Betapa aku sering merasa antusias dan sok bisa memenuhi ekspektasiku sendiri pada banyak mata kuliah, tetapi karena saking sibuknya membayangkan hasil usai berkuliah nanti, jadinya malah usaha-usaha kecil untuk mendalami mata kuliah belum sempat kulakukan. Huhuhu.

 

Oke, gapapa, Ahimsa. Kamu masih punya waktu. Apalagi kuliah semester 6 ini memang sebagian besar isinya mata kuliah yang membahagiakanmu bukan? Ayo, lakukan hal-hal kecil untuk memenuhi ekspektasimu yang besar terhadap mata kuliah ini. Ada usaha kecil yang harus terus kamu lakukan. Terus bergerak, pelan-pelan, yang penting bergerak! Yakin kamu bisa, tapi yang realistis dong, harus ada usahanya!

 

Terakhir, sebagai penutup, di tengah mewabahnya corona di kota dan negaraku yang membuat hariku tambah selow sebetulnya di rumah, seorang teman dari Lampung, Hapis namanya, melempar pertanyaan, “Selama libur berarti mau ngapain aja, Mbak?” Jeng jeng jeng, pertanyaan yang kayanya basa-basi tapi membuatku berpikir sekali. Ah yaa, ini libur harusnya nggak eman-eman. Uwuu.

 

 

Salam anti istirahat dan sambat kalau belum ada usahanya 🙂

Yogyakarta, 25 Rajab 1441