Kata-kata Berperasaan

Bahwa yang bermain dalam hidup tidak hanya fisik, itu aku sangat percaya. Bahkan jiwa-jiwa yang tampak tenang sesungguhnya menyimpan banyak hal yang lebih kompleks, bisa jadi.

Tidak hanya soal kata, tapi juga apa yang dirasakan oleh “kata” itu sendiri. Akan sangat berbeda bila aku mengatakan, “Aku geram.” dan “Aku marah.” Aku geram ialah emosi yang aku telan dan pendam. Sedang bila kubilang “marah” artinya bisa saja tumpah dan tak mampu kutahan lagi.

Ada hal yang hidup dan kesemuanya memiliki perasaan, meski tidak kelihatan.

Bodohku adalah yang kadang melupakan hal-hal begini. Bahwa setiap tumpahan kata akan menimbulkan banyak persepsi dari berbagai perasaan orang yang berbeda-beda. Setiap diksi yang kuuntai ditangkap dan coba dicerna oleh orang lain yang tentunya tidak secara langsung sejalan dan berkeadaan sesuai denganku.

Fatalnya, ketika kalimat yang kutulis atau kuucap disusun oleh kata-kata emosi tanpa ada upaya perenungan sebelumnya, maka akibatnya bukanlah memperbaiki atau menyulutkan api. Malah kadang, sebaliknya.

Ini masalah.

Keleluasaan seseorang berkelakar bebas, bercurah hingga puas, mencipta kata-kata ganas lewat blog, Instagram, line, tumblr, twitter, dan sebagainya akan menjadi sebuah masalah bila tiada dibarengi kebijaksanaan untuk berbagi. Siapa yang akan membaca ini? Pandangan apa yang mungkin akan mereka miliki? Bagaimana kebaikan dan mudharatnya posting-an ini?

Sepertinya aku harus belajar lagi.

Terakhir, baik betul kupahami, segala gelisah dan resah harusnya pada-Nya saja kubagi. Maha Pemberi Solusi.

Yogyakarta, 20 Rabbiul Awwal 1439

Sedikit banyak kekuatan kata-kata :

Salim A. Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang

“Kita upayakan yang terbaik untuk-Nya, insyaAllah satu per satu hal lain akan diteguhkan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *