Kata Maaf Putri Baginda Rasul

Ah, cinta lagi, cinta lagi.

Lama-lama cita-citaku bisa beralih jadi motivator percintaan akibat seringnya menemui gejolak-gejolak geli pada babagan cinta. Hmmm.

Nggak yakin pantas untuk menyebutkan kata yang dirasa-rasa masih terlalu dini ini, nikah….. waduh, akhirnya kesebut juga. Hehehe, biarlah, mumpung belum ada larangan anak sekolah dilarang bahas pernikahan hehehe.

Fatimah, putri Nabi Muhammad saw. yang selalu dikagumi akan kesholehahan dan keanggunannya bersikap, kali ini membuatku nyes akan salah satu kisahnya bersama sang pujaan hati, suami tercintanya. Siapa lagi kalau bukan salah satu dari yang terdekat dengan ayahandanya, Ali bin Abi Thalib, pemuda sholeh yang memiliki semangat bergelora dan kecerdasan yang menggugah jiwa.

Usai pengukuhan ikatan keduanya dalam naungan pernikahan, sebuah obrolan hangat yang mengundang trenyuh malam dibuka oleh keanggunan putri Fatimah.

“Duhai, suamiku,” sebutnya anggun hingga membuat angin dingin tersanjung. “Maafkan aku…”

“Ada apa, Adinda?” balas Ali dengan nada yang tak kalah mesranya.

“Maafkan aku karena dulu… sebelum kita menikah, aku sudah pernah mengagumi seorang lelaki yang begitu sholeh dan cerdasnya,”  tutur Fatimah.

“Duhai, istriku, lalu bagaimana? Apakah engkau menyesal telah menikah denganku sekarang?”

Fatimah menyambut tanya itu dengan senyum semanis manggis, “Tidak suamiku…”

“…..sebab, engkaulah dia.”

Lalu tiada lagi segan oleh langit memperlihatkan kerlap-kerlip cahaya yang menampakkan kekaguman akan dua insan tersebut. Kesemuanya dibawa haru. Membuatku pun malu.

Betapa romantisnya cinta, ya, ya, ya. Tapi bukan semata-mata perihal life goals yang selalu penuh kemesraan, penuh adegan romantis, dan sebagainya. Namun menurutku ada sesuatu yang merupakan buah dari kisah tersebut dan segera perlu kita petik.

Betapa menyejukkannya kata Fatimah pada sang suami. Tetapi bukan sekadar itu yang diajarkannya pada kita.

Melainkan, ia menggambarkan sebuah penjagaan.

Sebuah permohonan maaf yang diungkapkan karena sempat menyimpan “rasa” pada seseorang yang bahkan belum menjadi halal baginya. Sempat lupa bahwa ada “jodoh” di masa depan yang akan dipertemukan oleh Allah swt dengannya. Ya, meskipun pada akhirnya untuk kisah putri baginda Rasulullah ini ternyata ia dipertemukan oleh lelaki yang memang dicintainya sedari awal.

Hmm, setidaknya supaya tidak lari kemana-mana, dan takutnya tersesat jauh, maka, kita perlu baik-baik menjaga hati dan rasa. Semoga perjalananmu menemuinya dilancarkan ya:)

14 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *