Kebangkitan Kepercayaan Diri

Hey!!

Hey!

Heyy!!

HEYYYY!!!

HEYYY, Tayo! Hey, Tayo! Dia bis kecil ramah, melaju, melambat, Tayo selalu senang~

Hehehe.

Yuhu, barusan kucoba membuat sebuah prank, if you don’t get it, well just let it go (nggak mau dibilang gagal ngerjain orang). Belakangan “sapaan” itu menjadi salah satu strategi memenangkan perhatian banyak orang. Kartun bus Tayo yang diproduksi oleh perusahaan Korea menjadi tontonan menarik yang kemudian malah mendorong munculnya prank iseng seperti yang baru saja kulakukan. Seseorang yang berada di tengah kebisingan menarik perhatian dengan berseru, “HEYYYYY!!!!” lalu banyak kepala mengarah padanya dan segera dikecewakan ketika dilanjutkannya dengan senandung lagu kartun itu, “Hey Tayo, hey Tayo!” Hmmm rasanya pengen ngasih tampol (anyway for your information, diriku baru tahu “tampol” artinya “tampar online”).

Singkat berita, aku pun pernah menjadi korban prank ini. Seorang sahabat di kelas, Natasa Adelayanti, usai memohon izin meminjam laptopku, berseru, “Hey! Hey!” tentu segera aku menengok. Rupanya ia menjahili seisi kelas dengan melanjutkan, “Hey, Tayo! Hey, Tayo!” Sangat me-muangkel-kan! Syukurlah kemudian kejadian itu ditutup dengan beragam hujatan, hehe.

Oya, salam sejahtera, wahai sahabat semesta!

Mohon maaf ya, untuk menyapa saja kubutuhkan dua paragraf lebih yang isinya tidak jelas. Semoga tidak menumbuhkan padamu rasa malas untuk menyimak ceritaku kali ini. Sebab, sesungguhnya tidak ingin jarak antara kita yang sebatas kata-kata di dalam layar kaca menjadi semakin lebar karena hambatan kita melakukan interaksi. Doa terbaik untukmu kusampaikan: assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Sungguh, tidak bisa dipungkiri jarum jam tidak pernah mau berhenti. Ia tiada mau menungguku yang terengah-engah berlari mengejar ketertinggalan. Demikianlah namanya waktu, sering sekali terburu-buru. Sekarang aku harus mengambil napas panjang dan mulai memastikan secara perlahan mengenai apa saja sih yang sudah terjadi serta perlu kubagi lewat kiriman ini. Karena ya tahulah namanya manusia kalau sudah diberi ruang kebebasan, kadang tidak mampu menahan mengeluarkan ekspresi berlebihan. Hehe (ketawaku untuk kesekian kali, Gaes).

Salam, perempuan! 🙂

PENEGASAN MIMPI
Jadi, sebelumnya biarlah aku kembali memperkenalkan diri sebagai Ahimsa W. Swadeshi alias Ahimsa yang selalu lebih senang menyingkat nama tengahnya dengan “W.” sebagai simbol kesejatian diri, muehehe, “Siapa dan bagaimana pribadinya? Ah, siapa yang tahu? Hanya aku sendiri dan yang menciptakanku.”

Baik, sedikit yang mampu kubagi adalah bahwa kurang lebih satu tahun lalu diriku sudah berani mengambil sebuah pilihan besar di dalam hidup. Pilihan kecil ding sebetulnya, tapi efeknya besar. As you know, little did. Sekian bulan lalu, setelah aku mondar-mandir dengan berbagai bayangan program studi lanjutan yang akan diambil, akhirnya keputusan kujatuhkan pada program studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Pilihan ini tidak hanya membuat beberapa teman dan termasuk adik-adik angkatan garuk-garuk kepala, “Kok ini ya?” Sebab mungkin mereka tidak percaya aku akan mengambil jalur di luar jurusanku saat SMA, yakni ilmu pengetahuan alam. Bahkan sampai sekarang ada juga beberapa teman yang masih tidak yakin, “Serius Sastra Inggris? Kukira Sastra Indonesia.” Huehue, sangat biasa, maka kataku sekenanya dengan sedikit nada bercanda, “Iya, maaf memang sedikit mengecewakan Anda mengingat diriku yang masih jauh dari mampu berkata-kata dalam bahasa Inggris.”

Tapi, sejujurnya cukup senang mendengar komentar terakhir ini. MasyaAllah, ada yang berekspektasi aku menceblungkan diri ke salah satu program studi yang juga cukup diminati dan memang para mahasiswanya menurutku keren sekali. Hehe, tapi harus balik lagi, “Sadar, Hims, jurusan aslimu, ekekek.” Maka, inilah Ahimsa, yang sempat malu-malu mem-branding diri sebagai mahasiswa Sastra Inggris, saat ini berani mengakui, “Hai! Salam, saya sedang belajar bahasa Inggris!” Tidak hanya bahasanya, kata kunci baru pun kutemui di dalam kelas, yakni sastra dan linguistik.

Jangan tanya padaku di antara keduanya manakah yang lebih condong aku mampu menunjukkan minat dan bakat. Akan kuperlihatkan senyum termanis hingga dirimu tersadar bahwa sebetulnya aku juga tidak yakin—ada suara hujan di luar, semakin membuat suasana mendukung untuk bercerita dalam kedamaian. Pikiranku melambung tinggi menuju spirit di tahun lalu. Aku tahu, salah satu cara untuk menguatkan langkah di tengah perjalanan ketika kita merasa goyah adalah sedikit mengintip ke belakang dan memastikan apa sih sebetulnya tujuan kita mengambil jalan ini.

Ya, bismillah. Sastra dan linguistik semoga dapat memanduku menyingkap rahasia-rahasia manusia yang selalu menyimpan ide dan kekayaan pikiran. Tentunya itu hanya akan berada di kepala dan tidak membuahkan kata, laku, serta sistem di dunia bilamana tiada komunikasi yang efektif dan kreatif untuk mempengaruhi kepala manusia lainnya. Waduh, “mempengaruhi” agaknya terdengar berani sekali. Hehe, atau mari kita ubah dengan “berbagi hal positif”.

Sebetulnya apa sih yang kusampaikan? Hihi, begini, belajar ke negeri-negeri yang mampu membantuku mendalami lebih banyak soal sastra dan linguistik menjelma menjadi mimpi baru lagi. Di mana dari sana aku bisa mulai membuka pandangan dan menemukan alur sejarah dan sastra yang padaku masih kurang dipahamkan. Ugh, iya deh, aku butuh ini. Bukankah aku memang pernah memimpikan ini dulu sekali?

Sejak Marie Curie, Albert Einstein, dan Gandhi menjadi tokoh-tokoh favorit di dalam buku- buku komikku. Sejak Andrea Hirata lebih mengarahkanku memimpikan salah satu negara dambaan untuk dikunjungi. Sejak kesempatan di SMA membukakan gerbangnya untuk kuintip; ya, sebuah program pertukaran pelajar (bisa cek di-posting-an ini). Hanya sayangnya, sebab satu dua sebab belum bisa kumasuk ke kesempatan itu. Sejak dulu! Ya kan? Walaupun memang memimpikan itu sebenarnya masih banyak hal yang menjadi ketakutan.


…takut? Yoi, biyanget. Tapi di tulisan ini, aku harap juga menemukan kemantapan untuk bisa mengubah rasa takut tersebut malah menjadi optimisme baru. Hehe. (1) Aku takut di dalam proses perjalananku jauh dari lingkungan yang menumbuhkembangkanku, ada perubahan yang membuat diri malah tercebur dalam pergaulan atau budaya negatif. Pemikiran ini dulu juga yang membesarkan hatiku, “Ah, mungkin dulu waktu SMA kenapa pada akhirnya belum diridhoi untuk belajar di luar adalah karena ketidaksiapanku saat itu menemui warna-warni pribadi.” Namun, saat pikiran itu kusinggungkan dengan pendapat sahabat Fadia, katanya malah, “Sebenernya kalau masalah siap atau nggak siap dijawabnya tuh pas udah dihadapin langsung kan Mbak?”

Hmmm, iya juga ya? Orang meningkat kan karena diuji, ia berhasil tidak survive dari apa yang dihadapkan padanya. Kemarin di Indonesia belum begini, keluar negeri dapat masalah eh malah semakin mampu mengontrol diri, dan sebagainya. Hehe kalimatku sok paham banget ya, padahal juga belum pernah merasakannya.

Nah, ketakutan ke (2) adalah khawatir nggak bisa berperan bagi bangsa Indonesia. Yah, namanya juga orang keasyikan keluar negeri (emang asyik? nggak tahu), entah bisakah diriku mampu memberi kontribusi baik selama di negara orang maupun saat kembali (emang aku kembali? nah juga nggak tahu). Hiyak, hiyak, hiyak, jadilah sebetulnya yang harus dimantapkan adalah percayanya diriku bahwa kepergianku adalah untuk belajar dan kembali lagi untuk mengajar. Aku pergi mengumpulkan manfaat, pulang pun niatnya berbagi manfaat.

Bismillah, melalui jurusanku yang satu ini!

OPTIMIS DAN PERCAYA DIRI
Selagi aku meyakini bahwa di luar negeri bisa kutemui banyak hal mengagumkan, tidak mau juga aku lupa kalau nama belakangku adalah Swadeshi alias berdikari (berdiri dengan kaki sendiri). Thank you, Babe, for giving me such a meaningful name. Indonesia, tanah yang melahirkanku, tak ayal lagi, ia memiliki kekayaan yang tidak terkira. Tapi betapa miskinnya pengetahuanku soal itu, sebab ruang gerakku selama ini hanya di satu kota. Maka sebuah keinginan juga bagiku untuk menggenggam kebanggaan atas potensi bangsaku, sembari perlahan-lahan kukukuhkan keimanan itu dengan menuai pengalaman bertemu dengan sahabat-sahabat di beda keadaan.

Begitulah InsyaAllah cara pandang yang baru kusugestikan pada diri sendiri. Harapannya, dengan cara yang sama pun aku bisa melatih diri sendiri untuk yakin bahwa meskipun nampaknya orang-orang punya banyak kelebihan dan diriku adalah salah satu dari mereka yang ketinggalan, tapi kebanggaan dan rasa syukurku atas hal-hal yang sudah dianugerahkan padaku juga tidak lantas hilang. Selagi tetap mau belajar dari pengalaman dan pendapat sahabat yang lain, aku pun mengimani bahwa diriku juga punya potensi yang bisa dibagi dan memberi kebermanfaatan untuk banyak pribadi.

Beberapa waktu yang lalu ketika diperkenankan menemani teman-teman PR IPM Madrasah Mu’allimin dalam acara Baitul Arqam, aku mengajak mereka bermain “Where’s the chair?”. Tahu nggak? Jadi, ada beberapa teman yang akan menari sambil memutari beberapa kursi sembari sebuah lagu dimainkan. Ketika lagu tersebut berhenti, mereka yang senang menari harus segera mengambil kursi di tengah ruangan yang jumlahnya selalu lebih sedikit darinya. Nah, serunya apa? Rebutannya? Hehew Apalagi karena yang bermain anak-anak laki-laki, jadi kadang-kadang ganasnya tidak bisa dikondisikan.

Kami akhirnya tertawa-tawa menutup keseruan itu.

“Buat apa nih temen-temen kok kita main-main kayak tadi?

Apa sih yang kita dapetin?”

Kursi menjelma mimpi-mimpi yang diharapkan oleh setiap orang. Kesemuanya memimpikannya, semuanya mengusahakannya. Tapi, keinginan setiap orang acap kali berseberangan dengan yang lainnya. Ketika mimpi yang satu harus terpenuhi, maka yang lain harus mengalah untuk tidak memiliki. Diriku pernah gagal untuk memenangkan perlombaan, meraih ranking pertama di kelas, lolos seleksi olimpiade dalam beberapa bidang, lolos seleksi beasiswa, masuk ke sekolah impian, pindah rumah ke lokasi yang direncanakan, mendapatkan kesempatan exchange keluar, dan banyak lagi yang bisa kutuliskan. Bersamaan dengannya, kusadari bahwa ada banyak sahabat lain yang mendapatkan kesempatan itu.

Haruskah daku iri? Haruskah daku dengki? Atau haruskah daku berkecil hati? Kalau kembali membayangkan mimpi-mimpi dan keinginan kita tadi menjelma kursi-kursi dalam permainan “Where’s the chair?”, maka aku jadi teringat beberapa kenangan di masa taman kanak-kanak yang sering kuobrolkan dengan teman di SMA. Dalam ingatanku, kursi di bangku TK berwarna-warni dan mengundang antusias kami para peserta didik untuk memperjuangkan kursi dengan warna yang kami senangi. Kalau ada yang mau mengambilnya juga, maka berebut adalah jalannya. Kalau menang, senang. Kalau kalah, maka air mata tumpah.

Sehingga rasanya bila kini diriku mau mengaku menjadi pribadi dewasa secara badan dan jiwa, tentu bersikap iri dan dengki adalah pilihan yang sangat tidak bijak. Sebab pada akhirnya bukannya dapat meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik, eh, malah membuat kita semakin mengutuk keadaan diri. Kita semua punya jalan masing-masing, yang kesemuanya merupakan pilihan terbaik Allah SWT.

Caraku melihat dan bangga akan bangsaku, serta kekagumanku pada negeri-negeri nun jauh di sana, seyogyanya juga menjadi cara pandangku untuk melihat diri sendiri. Bahwa seorang Ahimsa, dengan susah senangnya jalan yang dihadapi, juga memiliki kebaikan dan nilai yang merupakan anugerah ilahi. Aku pasti punya sesuatu dalam diriku, tapi syaratnya yakni aku harus percaya. Setidaknya dua poin nilai yang akan aku sampaikan di sini adalah bahwa seorang Ahimsa (1) bermodalkan tulisan untuk mengekspresikan diri dan (2) mampu berusaha bahagia dan membahagiakan dalam setiap keadaan.

(1) Bermodalkan tulisan untuk mengekspresikan diri
Kalimat Babe yang menakjubkan, “Menulis itu menata pikiran” sangat bekerja padaku. Kadang pikiranku acak kadul dan tidak terkendali dengan hal-hal negatif, tapi nyatanya menulis membantuku menata dan merapikannya sehingga mampu menempatkan keputusan. Salah satunya terbukti setiap daku ingin menyampaikan kata, lebih merasa terbantu bilamana poin-poin penting awalnya kutuliskan.

(2) Mampu berusaha bahagia dan membahagiakan dalam setiap keadaan
Sebetulnya pernyataan yang satu ini lebih kepada kemampuan untuk menunjukkan ekspresi bahagia dan mengusahakan sebisa mungkin supaya sahabat lain bisa tertular juga. Kata “mengusahakan” dipakai di sini untuk menunjukkan bahwa tidak semua yang kulakukan hasilnya memuaskan, namun setidaknya aku tidak mau berhenti mengharapkannya.

Semoga Allah membimbingku dan teman sekalian untuk terus mengasah dua nilai ini dan nilai-nilai yang mungkin belum kusadari. Sekali lagi, sama halnya dengan keinginanku belajar dari dunia luar yang jauh dari pijakanku demi mengembangkan potensi yang dimiliki oleh bangsaku, maka begitupun aku harus siap melihat dan berinteraksi dengan teman-teman dengan potensi yang sudah lebih mumpuni dariku untuk belajar dari mereka. Bumi Allah ini luas, jangan sampai keringatku terkuras hanya untuk meratapi kekerdilanku sendiri padahal di saat yang sama aku bisa saja melangkah bebas untuk mengagumi-Nya.

JANGAN MENYERAH
Beberapa hari yang lalu, saat mewawancarai salah seorang Ipmawan dari PAY (Panti Asuhan Yatim) Kota Yogyakarta dalam pendaftaran acara PDPM II, aku dibuat meleleh akan sesuatu. Ketika kuminta menceritakan tentang dirinya, ia menyampaikan, “Saya orangnya nggak mau menyerah, Mbak.” dan menurutku (walaupun ada kemungkinan ia mengatakan begitu untuk seleksi wawancara) penjelasan diri seperti itu cukuplah berani dan menyegarkan sekali. Sampai-sampai aku sebagai yang mewawancarai juga terkena dampaknya

Mari belajar dari seorang pencari ikan yang kesehariannya adalah mencari ikan (ok, informatif sekali, Ahimsa). Hehe, untuk mencari ikan, usaha sekeras apapun dilakukannya. Mulai dari persiapan peralatan maupun mental untuk berani menerjang lautan. Ketika ia mau mencari ikan, ya lebih baik sebar pancing sebanyak-banyaknya, selama-lamanya (ya nggak juga sih). Atau kalau si pencari ikan ini sudah cukup kaya dan punya kapal besar ya pakai jaring supaya mampu memperluas jangkauan untuk menangkap ikan. Intinya sih, jangan nyerah. Sebar pancing sebanyak-banyaknya, soalnya kita nggak tahu pancing mana yang menggoda salah satu ikan di sana.

Terus-teruslah mau belajar dan mencoba. Kemarin Bunda Laila Hanifah dari IPM Jogja yang habis mengikuti konferensi lintas negara di Jakarta, pulang-pulang membawa oleh-oleh, “Aku nyesel karena baru sadar di semester tua ini kalau harusnya agenda-agenda kayak gitu sejak dulu kuikutin.” Mendengar itu kan jadi mikir, wah iya ya mumpung padaku masih banyak kesempatan. Lagi-lagi ditambahi juga oleh Bunda Sepbriyel dari Sastra Jepang yang di awal curhat kalau sulit mengikuti kelas karena ia masuk ke sana nir modal bahasa Jepang. Tetapi seiring berjalannya waktu, sebab ia ndak mau berhenti mencoba dan mengambil kesempatan, ia mendapat forum untuk membantu jurusannya mendampingi beberapa orang Jepang yang sedang melakukan kegiatan di Indonesia. Sungguh uwenak! Setelah itu salah satu dari mereka menjadi sahabat baik Bunda Sepbriyel dan banyak membimbingnya belajar bahasa Jepang.

Oke, untukku sendiri, bismillah semoga bisa mengusahakan setidaknya usaha minimal secara maksimal di setiap forum pembelajaran demi menggapai mimpi-mimpiku.
1. Dengar
2. Catat
3. Praktekan
4. Ulang-ulang

Heuuuuu, finally, alhamdulillah. Tulisan yang diharapkan menjadi obat akhirnya kelar. Setelah berhari-hari mencuri-curi momen sembari mencoba membaginya untuk hal lain, syukurlah bisa matang juga. Hehe, walaupun pasti banyak ndak kesempurnaan, tapi semogalah setiap kali mata membaca lagi, semangat dalam hati kembali berpijar. Terakhir, kututup dengan kalimat motivasi yang dituturkan oleh sahabat baik Firdausa Rizky yaaa. Barakallah! :))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *