Hello, hello, how are you?

Hello, hello, hello, I am very well~

 

Hehe, begitulah lirik lagu zaman Sekolah Dasar yang dulu diajarkan oleh Miss Erma—guru bahasa Inggrisku yang paling cantik sedunia.

 

Bagaimana kabar kalian, Sahabat-sahabat? Kuharap selalu baik-baik dan penuh semangat. Oya, sepertinya sudah jelas kita mau ngobrolin soal apa kalau melirik dari judulnya. YES! Tes TOEFL! Tahu, kan? Apa tuh? Tanpa mau meremehkan pengetahuan temen-temen yang mungkin sudah tau, mari kita sebutkan kepanjangannya: Test of English as a Foreign Language. Biasanya, kalau temen-temen mau apply sebuah program beasiswa (scholarship), pertukaran pelajar (exchange student), pekerjaan (job), atau apapun terkhusus di luar negeri, kita bisa menggunakan TOEFL sebagai salah satu uji pengukur pengetahuan bahasa Inggris. Sebetulnya, ada beberapa TOEFL seperti ITP, IBT, dan sebagainya. Pada kesempatan kali ini, daku ingin berbagi pengalaman mengenai tes TOEFL PBT (Paper-based Test) yang merangkum tiga jenis pengujian, yakni listening, structure, dan reading.

 

Nah, sebelum mencicipi TOEFL di tahun 2019 ini, sebenarnya aku sudah pernah melakukan tes juga di akhir 2018. Saat itu menurutku, skor yang aku dapat cukup tinggi, fruitahaha (read: buahahaha), sok-sokan sekali. Hehe, alhamdulillah. Tapi entah mengapa program baru yang ingin kuiikuti ternyata menuntut skor yang ‘sedikit’ lebih tinggi. Setidaknya aku masih kurang 7 poin lagi untuk memenuhi target yang dibutuhkan. Nah, kan, menggemaskan. Tujuh poin lagi itu … nyaris sekali 🙁 Sedangkan, waktu terus berjalan dan aku sering jatuh pada penundaan. Ternyata di 2019 aku baru bisa mendaftar TOEFL pada H-1 dan hanya punya waktu belajar semalam saja. YaAllah, deg-degan.

 

Singkat cerita mengenai TOEFL-ku yang pertama pada 27 Desember 2018, telah kusiapkan jauh-jauh hari kurang lebih 1-2 minggu sebelumnya. Telah kukantongi ilmu dan tips-tips dari buku TOEFL yang kubeli pada 2017. Ternyata hasilnya memuaskan. Sehingga, berbahagialah dan bersyukurlah diriku. Kalau teman-teman ada yang penasaran dengan buku apa yang kupakai saat itu, sekalian promosi hehe, berikut akan aku share bukunya.

 

 

Eh, ini memang buku TOEFL IBT (Internet-based Test). Pasalnya waktu aku beli memang diriku belum paham bedanya apa dengan TOEFL biasa. Ternyata IBT ini lebih berkualitas lagi tesnya karena pengujiannya meliputi listening, speaking, writing, dan reading. Harganya pun relatif lebih mahal, sekitar 300-500 ribu.  Jadi ya lebih banyak yang patut disiapkan. Soalnya kalau udah apply ternyata hasilnya belum memuaskan, kan sedih, muehehe. Atau enggak sedih? Mmm, oke, aku aja yang sedih. Apasi, Hims-_-

 

Tanggal 31 Januari 2019 menjadi jadwalku melakukan TOEFL kedua. Sebagaimana tes sebelumnya aku melaksanakannya di Kantor Ions (Jalan C. Simanjuntak). Tes ini sebetulnya sifatnya prediction, namun bagi beberapa program masih diizinkan untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris. Harga tes di sini 150 ribu dan sudah termasuk sertifikat hasil tes. Murah kan? Yuhuu.

 

Untuk tes kedua ini, apa mau dikata, persiapanku begitu minim. Aku mendaftar tepat sehari sebelumnya. Meskipun sebetulnya aku punya waktu kurang lebih 24 jam, tetapi rupanya aku belum bisa memanfaatkan secara maksimal karena tepat di malam sebelumnya aku harus menghadiri sebuah rapat organisasi. Walhasil, persiapan bersihku secara keseluruhan baru bisa dilaksanakan di pagi harinya. Aku sengaja mengambil waktu tes di sore hari supaya masih ada waktu mempersiapkan.

 

Pada sisa-sisa jam mendekati waktu tes berlangsung, tiada lagi hal yang bisa kulakukan untuk menambah ilmu. Semakin aku membaca soal latihan, semakin jantungku berdebar penuh kegelisahan. Kumanfaatkan sebagian besar waktu untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Menenangkan. Bahasa-bahasa manusia dalam doaku seketika menyentuh setiap sikap dan laku. Kesadaran bahwa diri sangatlah terbatas semakin membawaku pada kekayaan iman. Entah bagaimana aku merasa saat itu adalah menit-menit paling romantis dalam hidup, walaupun nanti di masa depan akan aku sadari bahwa itu ternyata salah.

 

Kurang lebih pukul 16.00 WIB aku memulai tesnya.

 

***

 

Dan … SYUSYAH. Allohu. Pengen kumenangis tersedu-sedu.

 

Saat aku mengerjakan soal-soal TOEFL itu, entah ke manalah perginya otakku. Listening yang sudah kuwanti-wanti untuk fokus setiap mendengarkan, peduli apa dengan soal sebelumnya yang sudah terlewatkan, eeeeeh malah membuatku kacau karena banyak yang kelewatan. Structure yang terlalu lama kutunda mengisi karena ragu-ragu akhirnya malah menghabiskan banyak waktu. Reading yang harus dibaca dengan strategi cepat dan tepat menyesuaikan kebutuhan ternyata lupa kulaksanakan, walhasil sering baca-baca ulang yang mana jadi tidak efektif.

 

PANIK! Aku panik di tengah pengerjaan soal! Haduuuh, haduuh, rasanya kurang puas dengan usaha belajar sehari itu. Tapi … ya gimana? “Yaudah, Ahimsa, santai, santaiiii. Ini karena kemarin kamu belajarnya bentar banget,” seru diriku menenangkan diri sendiri. Sambil kuberharap semoga menembus minimal angka 500, yang penting lebih dikit dari yang kemarin atau pas juga gapapa. Malu lah ya kalau kemarin dapet skor sekian, eh terus nanti masa lebih rendah, huhu. Tapi sambil melanjutkan itu, kuikhlaskan semuanya. Meski yaa masih panas dingin juga.

 

HUAAAAH. Oh my Allah. Ketika akhirnya selesai, jedag jedug, ada diskotik di dalam dadaku. Kutenangkan dengan bismillah bismillah. Keduanya beradu luar biasa ingin mengalahkan yang lainnya.

 

Semakin ganaslah perang batinku ketika Mbak-mbak di lobi Kantor Ions menyebut, “Mbak Ahimsa?” Ia bermaksud menyerahkan sertifikat hasilnya. Batinku berbisik mengharapkan skor yang kudapat,  lima ratus plis, lima ratus, tolong. Semakin dekat seadanya, yang terbaik deh, yang terbaik!!! Rasanya pengen menjerit!!!!

 

Sampai akhirnya angka itu sudah ada dalam genggamanku.

 

Aku tertegun.

 

Pas. Oh my Allah. Angkanya pas sebagaimana yang kuharapkan sejak awal. Tanpa kurang, tanpa lebih. Angka yang membuatku nyaris menyerah ketika mengerjakan soal. Aku ingin menganga. “…. kok bisa?”

 

 

Di situlah salahku. Sebelum tes aku merasa itu adalah masa-masa paling romantis dalam hidupku, tapi kenyataannya saat menyadari skorku itulah waktu paling romantisnya. Saat kusadari ada kekuatan lain. Kekuatan ‘lain’ yang membantuku sejak awal. Di situlah momen romantisnya. Seketika aku segera ingin menemukan tempat menumpahkan kecintaanku. Aku ingin mengeluarkan segala rasa syukur yang melimpah dalam dadaku. Aku ingin membebaskannya!

 

Lewat tangis!

 

Lewat sujud!

 

Lewat sikap yang tidak terlihat dalam badan. Lewat kata yang tidak terucap dalam mulut. Lewat tatapan yang tidak terbaca dalam mata. Lewat cara terbaik yang bisa kulakukan demi menyampaikan: terima kasihalhamdulillah.

 

YA ALLAH. Hari itu aku belajar sekali bagaimana si penulis cerita ini sangatlah terbatas dan tidak memiliki kemampuan apapun untuk semua hal. Namun, Engkau-lah yang menyediakan tempat untukku berjalan. Sungguh, sungguh aku merasa sangat tersentuh.

 

Terima kasih. Untuk TOEFL, untuk pembelajaranmu, untuk semuanya.

 

Jakarta, 2 Jumadil Akhir 1440

Tinggalkan Balasan