(Muehehe, aku sedikit canggung juga dengan diriku. Saking ngenes jomblonya sampai mau membuat Surat untuk diri pribadi? Ugh, yang benar saja. Haha. Tapi, insyaAllah semoga bukan itu alasannya. Melainkan lebih kepada keinginan untuk menyentil diri sendiri lewat kegelisahan pribadi.)

Kepada
Ahimsa W. Swadeshi,
yang akan kusapa lembut, Wardah
Pribadi dengan ilmu yang masih sedemikian payah
Pun dengan iman yang masih banyak celah

Bismillahirrohmanirrohim.
Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh.

Allah begitu baiknya, yang Maha segala-gala, masih meridhoi kita merasakan apa-apa. Suka, duka, tawa, lara, dan yang selarasnya. Sebuah tanya dalam diriku selalu mengganggu, aku bersyukur bisa menghempaskannya suatu waktu, “Wardah. Apa kabarmu?” dan sepenuh kalbu aku mengharapkan jawaban yang tidak menimbulkan kekhawatiran dan pilu.

Wardah,
Nama yang semoga tidak kau lupa milik siapa itu. Namamu, sayangku. Itu kamu.

Wardah-ku,
Sudah terlewat banyak yang menghambat dan berikutpun akan datang lain lagi yang lebih merintang. Kamu tetap Wardah, bunga berwarna marun agak terang, begitu berani menampilkan duri di tangkai yang tidak jarang. Kata Babemu, “Maka siapa yang memetik, dia pasti sudah tahu betapa mulianya.” Kuyakin muncul senyum dalam pembacaanmu. Aku hanya ingin mengingatkan, dalam perjalanan ini, jangan lupa dan jangan mau dilupakan bahwa kamu tetaplah Wardah.

Wardah-ku,
Dalam pencarian dan semoga akhirnya pada penemuan siapa serta bagaimana seorang Wardah seharusnya, itu panjang sekali dan rasanya tidak akan pernah berhenti. Di situlah aku membersamai. Kadang akan membuatmu jengkel dan tidak tahan lagi. Mungkin kamu mengerutkan kening membaca ini, tapi percayalah, kamu tanpaku bukankah rasanya mati?

Aku membaca langkah-langkahmu makin goyah ketika aku dan takut mendatangimu yang jadi khawatir salah. Aku membawa hasrat untuk berlari dan takut membawa pesimis di tiap hari. Kemudian kamu bukannya sibuk mengobrol dengan kami, malah berkutat dengan rutinitas tanpa arti yang tiada memberimu langkah pasti. “Kemana jawaban dari semua ini?” kamu lari ke buku-buku, kamu cipta temu-temu, bukankah begitu? Hingga akhirnya kamu menyerah lalu menuju ruang paling bawah dari ulu yang berada di tengah-tengah, sambil menghimpun betis-betismu jari tanganmu menengadah, “Kenapa makin berlari mendekat, jarak terasa semakin menjerat?”

Aku tercenung untuk beberapa saat, sampai akhirnya sahabatku, si takut tadi, memberi saran untuk menulis surat. Sederhana, tapi cobalah kubuat.

Aku membersamai sedemikian lama, memori-memori kita nyaris sama. Ingatkah mungkin ketika kamu berbincang soal Imam Al-Ghazali dengan Babe usai dosenmu memutarkan filmnya. Entah mengapa aku begitu ingat perkataan beliau, “Banyak orang yang habis membaca Ihya’ Ulumuddin (karya besar Al-Ghazali yang sepertinya kita berdua belum memiliki memori pernah membacanya), mereka jadi gila.” Selanjutnya berikutpun di momen lain beliau menjelaskan, “Sebab mereka hanya membaca.” Padahal ilmu itu, kata beliau lagi, pikanthuk saka nglakoni, didapat dengan dijalankan. Tidak sekadar hasil pembacaan teks. Bagaimana kita merasakan setiap upaya praktek yang dilakukan, akan membawa pada pemahaman yang sesungguhnya. Demikian alasan Babe banyak-banyak menganjurkanmu makin menguatkan ibadah.

Dapat mencapai maksudku?

Kukira dirimu sedang gencar berlari untuk mengejar ketertinggalan perihal iman dan ilmu dari banyak pribadi. Tapi, sebetulnya ke arah mana pengejaranmu? Pelarian-pelarian itu hanya menjadi sia-sia bila kamu tinggalkan peta petunjuk di titik awal kamu beranjak, kan percuma. Kamu kembali dengan kelelahan dan tanpa hasil memuaskan. Lihat, kekacauan, semua berserakan.

Aku dan takut yang seharusnya jadi teman, nampak ingin kamu singkirkan. Takut memilih diam, karena dia sendiri sebetulnya sedikit geram. Tapi tenanglah, denganmu, kami berdua sebetulnya sangat sayang.

Wardah-ku,
Kami begitu berharap langkahmu mantap, tentu dengan kepribadian yang siap. Iman jangan kamu gadai-gadai dengan ilmu yang kadang belum tentu mampu dicapaiā€”kebenarannya. Mari berjalan bersamaku, genggam tanganku. Tentunya dengan takut juga, yang membuatmu lebih terjaga. Kita lakukan bersama, semuanya.

Sedikit mengurangi hasrat perut, bukan sekadar rutinitas hari Senin – Kamis, melainkan demi merasakan jalan hidup yang memang isinya pasang surut. Lebih-lebih bila mampu yang lebih dari itu. Apakah mampu?

Ibadah malam, berat, sungguh berat. Begitu kuingat betapa besar hasratmu sebelum tidur untuk berjumpa dengan-Nya, tetapi ketika dibukakan pintu rumah-Nya, rasa malas dan penunda-nundaan akhirnya mencipta pagar berduri di antara tubuhmu dan kami berdua (aku dan takut) lagi. Bagaimana supaya kita bisa kuat?

Panggilan-panggilan adzan kadang kamu kesampingkan untuk hal lain yang… mungkinkah bisa dipertanggungjawabkan? Apakah mampu berbenah dan memprioritaskan?

Wardah-ku,
Wardah-ku,
Wardah-ku,

Ini jalannya. Kita berlari bersama untuk semua ini. Getaran tiap menyebut asma-Nya tidak timbul lewat beberapa temu ataupun buku-buku, bila dari situ orientasimu semu. Getar batin tiada kamu temui dalam ibadah, bila tanganmu menengadah untuk meminta benda menyilaukan di dunia tapi gelap di akhirat. Malah bisa jadi tersesat, naudzubillah.

Maka, harapan besarku padamu adalah semakin kuat di dalam, semakin bulat memantapkan. Aku bersamamu. Barakallahulakum, Wardah sayangku.

Alhamdulillah.
Wassalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh.

Relung jiwamu, 21 Rabbiul Akhir 1439
Kegelisahan sendiri
Di samping takut yang sedang bersandar padaku

Tinggalkan Balasan