Kilas Balik Perjalanan

Sebetulnya sejak berangkat, seharusnya padaku sudah tersemat gelar sebagai ‘bonek’, wkwk alias bocah nekat. Ughhh, bukan maksudnya ‘bonek’ pada umumnya yaa, hihi. Bagiku sendiri yang keluar kota aja nggak pernah sendirian dan selalu ada yang dijadikan pembimbing, perjalanan ke Korea waktu itu emang itungannya nekat sekali! Tanpa pengetahuan yang memadai soal manca negara, aku nekat pergi jauh seorang diri.

 

 

Di hari kepulangan, aku disambut oleh angin pagi yang segar di bandara Adisucipto, di Kota Yogyakarta. Seperti ada tangis mau pecah, tapi nyatanya tidak ada. Mungkin senyum lebar membendungnya, “Kok bisa ya aku berhasil melewati semuanya?” Langkahku dituntun oleh rasa rindu keluar dari lapangan pesawat. Di lorong luar, dua sosok dengan wajah cerah berdiri menungguku: Babe dan dek Sobat. Kami kemudian menyusuri lorong dan naik turun tangga untuk betul-betul bisa keluar bandara. Adikku itu tumben berbaik hati mau membantu mendorongkan tas koper yang kubawa. Di tengah rasa haru itu, Babe bertutur, “Tau nggak, Mbak? Bapak kemarin denger kiriman pesan suaramu ke Ibuk awalnya biasa aja, tapi habis itu, kerasa takuuut banget. Gimana kalau kamu gabisa pulang?!!”

 

Aku mengingat-ingat isi pesan suara yang kukirimkan ke Ibu. Allohuuu.

 

Alhamdulillahhhh!!! Kuasa Allah!!! Betul-betul masih jelas saat itu cerita beberapa jam sebelumnya. Masih terpatri dalam dadaku rasa deg-degan dan kerisauan.

 

Saat itu, aku baru menyadari, kepulanganku adalah sebuah keajaiban. Sungguh, kuasa Allah.

 

***

 

12 Juli 2019

Setelah nyaris dua minggu diperkenankan menyusuri kegiatan demi kegiatan, tibalah saatnya aku harus kembali ke tanah air. Kurang matangnya aku menyimak jadwal menyebabkan jadwal pulangku jadi kurang tepat disiapkan. Penutupan dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2019 dan selesai sekitar pukul 20.00 waktu Korea. Tiket kepulangan kupesan sehingga terjadwal berangkat dari Bandara Incheon sekitar pukul 08.00 pagi di tanggal 13, artinya minimal aku sudah harus sampai di bandara pada pukul 04.00 atau 05.00 bukan? Sebetulnya mungkin terlihat aman-aman saja waktunya kalau aku bisa berkendara pada tengah malam. Sayangnya oh sayangnya, nggak ada kendaraan yang bisa membawaku ke sana di malam hari. Kecuali taksi, hehe, yang harganya, hehe. Dua ratus ribu won dong yaa, kan ndak mungkin yaa, sanguku juga cuma berapa. Satu-satunya yang bisa diharapkan adalah kereta lokal yang maksimal beroperasi sampai tengah malam. Artinya, segera setelah selesai acara penutupan di tanggal 12, aku harus memburu waktu untuk cepat bergerak ke stasiun sebelum tengah malam.

 

Closing! I miss you Enfys and Sophia<3

 

Sebetulnya ini tampak menyedihkan dan mengharukan sekaligus. Aku menjadi orang pertama yang harus pulang.

 

Sediiih karena sudah akan berakhir. Dan, terharuuu ketika semuanya memelukku waktu itu—yang perempuan maksudku, wkwk. Aku nyaris ndak percaya semua drama, cerita, obrolan, dan persinggungan dengan mereka harus ditutup pada senja itu (itungannya masih senja, soalnya jam 20.00 masih terang tjuy). Rasanya baru aja kita mulai dekat dan mengenal satu sama lain, kini harus rela melepaskan. Huehuee, wkwk, maaf yaa rada bucin. Kalau para mbak-mbak saling berpelukan, para mas-mas Korea yang sudah paham bahwa aku tidak bisa bersentuhan jadi hanya mengibaskan tangan seolah-olah kami bersalaman tapi tanpa bersentuhan. Hihihi, lucu sekali! Momen bersejarah!

 

My photo with friends from Russia, Sayana and Lidiia!
I’ve already miss you both, Sayana and Lidiia!

 

Ughhh, aku bahkan masih ingat detil-detilnya. Apa yang kusampaikan, apa yang mereka sampaikan. Bener juga kalau ada yang bilang, setiap yang ‘sebelum berakhir’ selalu indah untuk diingat. Huhuu. Heheee.

 

Beberapa menit setelah itu, semua lenyap. Tinggal tiga empat kawan menemaniku menunggu taksi yang menjemput. Sahabat El ada di situ.

 

Beberapa menit selanjutnya, taksi datang dan barang-barangku mulai diangkut. Sedikit barang sebetulnya, muehehe, jangan berekspektasi aku seperti mbak-mbak yang bawa oleh-oleh bejibun habis pulang jalan-jalan.

 

Sebelum aku masuk ke taksi, seorang sahabat Korea yang dari awal program membuatku agak nerves dengan kemampuan bahasa Inggris dan kelihaian interaksinya berkata, “I like your smile.” dan tentu saja kusambut dengan senyum. Sok-sok malu-malu gitu dech, wkwk, terus ketawa, aku berpikir, “Ah, iyaa, selama di Korea kalau pas bingung ngomong apa pakek bahasa Inggris, aku pasti cuma senyum. Dan tentu saja, intensitas senyumku lebih besar dari intensitas obrolanku…,” hehehe.

 

Tidak bisa kuhitung secara tepat betapa cepat taksi itu membawaku ke stasiun terdekat. Tahu-tahu aku sudah mempraktekkan ilmu minimal yang bisa kuingat sampai sekarang, “Ogiyooo…” sambil menyerahkan uang. Lalu, aku sudah turun di depan stasiun Namchuncheon. Deg-degan rasanya. Tapi, bismillah, niat pulang yang kuat menggugurkan keraguan yang hinggap. Aku membuka note di handphone, urutan stasiun tempatku berpindah dan tujuan kereta yang selanjutnya harus kuambil. Untuk memastikan ketepatan jalurku, aku mengunduh dua aplikasi yang membantu perjalanan kereta lokal, yakni: Kakao Maps dan Subway Korea. Agak bingung sih awalnya karena nggak paham kosakata Korea. Tapi setidaknya, kemampuan membaca tulisan Korea membantuku, huhu.

 

Aku memasuki stasiun Namchuncheon dengan menggunakan tangga panjang. Nggak ada jalan lain soalnya. Terus kayak drama gitu ada seseorang yang tiba-tiba tanpa diminta membantuku mengangkut koper yang sulit kuangkat di tangga. Nah, tapi nggak terlalu kayak drama juga sih, karena yang bantuin aku bapak-bapak, buahaha.

 

Nah, di stasiun ini aku mulai agak panik karena aku bahkan nggak ngerti caranya pesen tiket. Nggak ada loket tiket. Huehue. Terus gimana? Ohh rupanya, di sana udah pakek mesin semua. Seorang petugas membantuku mencetak kartu single trip untuk sampai ke terminal 2 Bandara Incheon. Lalu, ia menunjukkan arah ke mana aku harus bergerak. Walaupun udah dijelasin dan dipandu, tapi yaa tapi tapi tapi, aku tetep bingung 🙁 Aku nggak tahu kereta mana aslinya yang harus kunaiki. Huhuhuhu. Untung, untung, untung, ada ide untuk aku berucap satu kata tanya pada seseorang di sekitar sana, “Songbong?” yang maksudku adalah ‘Anda mau ke Songbong?’ dan dia ngangguk! Dan, yaa bener!

 

Aku masuk ke kereta tersebut. Sesuai yang sudah kuhitung-hitung harusnya kereta ini membawaku ke Songbong selama satu jam lebih 17 menitan kurang lebih. Keadaan keretanya sekilas seperti MRT yang pernah kutunggangi di Palembang. Banyak orang berdiri dan sebagian duduk. Aku awalnya berdiri terus dapet tempat duduk. Lucunya aku melihat sepasang sejoli seperti di drama berada di sampingku seolah lekat sekali nggak mau lepas. Uuwuuuw, biasa aja sih akunya, wkwk. Malah beruntung di sisi lainnya ada seorang ibu yang mengajakku mengobrol. Dia bisa berbahasa Inggris syukurnya, katanya beliau guru. Whoaaaa, pantesan.

 

 

Akhirnya aku sampai Songbong. Hamdalahhhh! Selanjutnya aku harus berburu kereta yang akan membawaku ke stasiun Dongdeon. Tapi, lagi lagi, aku bingung lagi. Ke arah mana yaa tempat aku bisa nemuin jalurnya kereta ke sana? Seorang ibu di sekitar situ kudekati dan kutanyai, tapi sepertinya kita tidak sama-sama klik paham satu sama lain. Huhuhu, aku mulai agak panik saat itu.

 

Sampai akhirnya, “Assalammualaikum!”

 

Aku terperangah, “Waalaikumussalam!” Seorang pria berwajah arab menghampiriku dan bertanya, “I am a muslim. Where do you want to go?” MasyaAllah, kuasa-Mu! Pasti, kerudungku memberitahunya. Aku jelaskan padanya bahwa aku ingin menuju Bandara Incheon dan butuh menemukan kereta yang bisa membawaku ke stasiun Dongdeon terlebih dahulu. Dia paham dan menawarkan bantuan. Sambil berjalan, dia menuturkan kalau dia bekerja di stasiun tersebut. Di saat itu, aku sungguh sungguh makin mengagumi kuasa-Mu!

 

“Or do you want to take a bus there? It’s easier actually. I’ll show you the terminal here if you want.”

 

Dia sempat menawarkan hal itu, tapi karena aku khawatir harus mengulang lagi belajar soal transportasi bus sedangkan aku sudah menyiapkan diri dengan segala drama di kereta, jadi sayang kalau tidak kulanjutkan sampai selesai. Sebelum masuk, aku berterima kasih sekali padanya, sambil mendoakannya.

 

Selanjutnya aku bergerak menuju Dongdeon hanya membutuhkan waktu selama 44 menit. Aku bersegera mencari-cari lagi siapa yang kira-kira bisa membantuku menemukan arah. Usai kejadian di Songbong, aku makin percaya diri bahwa aku bisa sampai ke terminal dua dengan selamat. Tidak lama, ada seorang eonnie yang sedikit-sedikit bisa berbahasa Inggris dan membantuku menemukan kereta menuju terminal dua Bandara Incheon. Kebetulan dia juga menggunakan kereta yang sama. Kemudian kami masuk bersama. Tidak disangka, dia ternyata adalah alumni Kangwon National University, tempatku mengikuti program selama di Korea. Waaaw terdengar seperti jodoh sekali!

 

Perjalanan menuju terminal memakan waktu sekitar satu jam dua menit. Aku sampai di bandara sekitar pukul satu dini hari. Rasanya lega sekali. Kalau aku terlambat satu kereta saja, pasti aku sudah tidak sempat mengejar. Huuuhhh.

 

Rasa syukurku begitu membuncah dan ingin tumpah. Sesampainya di bandara aku langsung mencari tempat di mana aku bisa meluapkannya. Sebuah mushola kecil seukuran kira-kira 3 x 5 meter menjadi tempat persinggahan terbaik. Aku menghabiskan waktu untuk memohon doa restu beberapa orang yang menunggu kepulanganku. Satu dua kali merenungkan apa saja yang sudah kulewati sejauh ini.

 

Melihat waktu masih terlampau lama untuk menunggu, ingin kupuaskan keliling bandara. Iseng-iseng sampai ke bagian check in dan aku amati jadwal yang tertera. Lagi, aku kembali mulai panik. Phillipine Airlines yang harusnya aku naiki sama sekali tidak ada di layar jadwal penerbangan. Aku khawatir. Aku berpikir cepat … jangan-jangan …

 

Buru-buru kucek jadwal di internet. Dannn, daan, daan ternyata penerbanganku harusnya ada di terminal satu jaaaal!!! YaAllah, mau nangeeees!!! Udah tenang santai kayak dipantai dong ya aku, tapi ternyata oh ternyata perjalananku belum kelar. Segeralah aku menanyakan kendaraan apa yang bisa gaspol membawaku bergeser terminal. Sempat ada pilihan beberapa kendaraan, sampai akhirnya aku mendapatkan bus terpagi yang bisa kugunakan secara gratis. Alhamdulillahhhh……

 

***

 

 

14 Juli 2019

Maka, pagi itu adalah sebuah keajaiban ketika aku menyadari perjalanan seharian itu telah usai. Allah SWT masih mengizinkan aku menginjakkan kaki di tanah air. Masih melekat jelas beberapa waktu sebelum keberangkatan, di tengah-tengah keriwuhan menyiapkan berkas-berkas keperluan, dua orang sahabat yang tak lain adalah Sahabat Nabila Nurul Husna (bukan Hasyim wkwk) dan Sahabat Rofiqoh Ayu Ningtias membersamaiku dalam sebuah dialog pendek.

 

“Hims, aku masih nggak bayangin kalau pergi jauh sendirian keluar negeri tuh gimana.”

 

“Iyaa, aku juga. Kan nggak ngerti di sana gimana yaa.”

 

Huehuee, pas di sana, jujur masih ada rasa sok-sokan terpelihara padaku. Aku ngrasa kayak ah bisa ah bisa, pasti bisa. Ternyata ketika aku betul-betul sudah dihadapkan pada masanya untuk berkelana sendirian memang rasanya marakke deg-degan. Aku mengkhawatirkan banyak hal sebab banyak hal yang aku tidak tahu. Huehueee. Terima kasih Nabila dan Rofi, aku jadi mengingat obrolan itu sangat-sangat.

 

Hihihi, di saat yang sama, Sahabat Ma’rifatus Sa’adah bilang kapan itu, “Kalau kamu nggak ada momen kayak ini, nggak bakal kamu sampek mau pergi-pergi jauh.” Wkwkwk, aku tertawa, bener jugak. Alhamdulillahhh.

 

 

Terakhir, terima kasih bagi Sahabat yang sudah berkenan membaca tulisan ini hingga akhir. Senang rasanya mengetahui ada yang menemaniku menapak tilas perjalanan penuh drama kemarin ituuu. Sungguh-sungguh, aku semakin yakin kalau kita mau mencoba, dibersamai dengan rasa percaya yang utuh dan usaha yang penuh, banyak jalan akan terbuka. InsyaAllah.

 

Yogyakarta, 11 Dzulhijah 1440 – 10 Muharram 1441 (ketahuan deh nulisnya lama bats yak wkwkwk)

 

Saranghae! Ini El, salah satu temenku selama di KNU. Ehhh, sekarang dia balik lagi ke KNU buat exchange program, wiiiihhhh!!! Suksesss dunia akhirat, Sahabat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *