Kisah Si Tuan Sederhana


          Jalan apa yang Tuhan pilihkan untukku?
          Tiap aku bertanya-tanya, apa yang terbaik untukku, seolah semua berseru meragukanku. Adakah di antara seantero dunia yang merasa kecil dan ciut? Tapi ini terdengar seperti hanya aku saja yang merasakannya. Lagi-lagi aku membenamkan wajahku di antara lutut, aku takut.
          Sebenarnya, aku akan jadi apa?
          Ah, tidak-tidak.
          Pertanyaan itu terlalu sulit dijawab, mungkin lebih mudah bila menjadi: apa yang bisa aku lakukan? Setidaknya, hal yang dapat kulakukan dengan baik. Misalnya bakat atau kemampuan super. Apa aku punya? Tidak? Itu kemungkinan besarnya.

          Hari ini aku menemukannya.
          Sebuah kisah biografi yang kukupas sendiri, bukan buku atau semacamnya, ini kugali dari rasa ingin tahuku tentang lelaki itu. Entah mengapa aku begitu penasaran dengannya.
          Fakta pertama, dia sederhana, biasa saja.
          Kedua: dia spesial, sampai kapanpun. Kujamin itu.

          Namanya, sungguhkah harus kusebutkan?
          Mari kita memanggilnya; Tuan Sederhana.
          Ia hidup sekian tahun lamanya di dunia ini, di tengah kebisingan kehidupan. Membicarakan umurnya, aku tidak mau langsung menjelaskannya, anggaplah kita berkenalan dengannya ketika ia sedang berada di bangku sekolah.
          Sekolahnya favorit. SMP-nya sampai saat ini masih menjadi sekolah paling favorit di Yogyakarta, begitupun karena prestasinya yang unggul. Tapi tetap saja, ia sederhana.
          Meskipun begitu, aku juga takjub. Prestasinya yang kudengar adalah juara reporter se-Jawa dan Bali, ketika itu dipilihnya seorang abangnya yang baru masuk kuliah untuk jadi narasumber wawancaranya. Pulang-pulang dari perlombaan, ia hadiahkan sebuah blender yang ketika itu mungkin bisa membuat iri satu kampung. Sampai sekian tahun lamanya, benda itu menjadi kenangan yang masih bisa dinikmati fungsinya. Aku kadang melihatnya bertengger di atas meja dapur ibunya. Sesekali mengeluarkan suara yang sangat kuhafal ritmenya.
          Kebanyakan teman-temannya adalah dari kalangan atas, yang serba berkecukupan. Tetapi lelaki ini tetap hadir di sana sebagai pribadi yang biasa.
          Sudah kubilang dia terlalu biasa saja, hingga tak bisa kutonjolkan banyak-banyak soal dia.
          Ketika memasuki SMA pun juga seperti itu. Ibunya pernah bercerita padaku kalau dirinya pernah akan ikut kelompok teater di sekolah. Tapi dilarang pula oleh ayahnya, karena tentu saja memakan waktu sampai malam.
          Rupa-rupanya untuk memasuki jenjang perkuliahan, ia tak mempersiapkan apapun. Bahkan target jurusan pun tidak. Kalang kabut dan tidak tentu tujuannya. Adakah yang mampu meramalkan kemana ia akan berlabuh? Sekian kalinya kukatakan, ini terlalu biasa dan membosankan. Tapi mengapa aku berniat mengorek berkas-berkas kisahnya, entahlah.
          Aku tidak pernah tahu alasannya. Namun pada akhirnya aku hanya menerima kelanjutan ceritanya bahwa Tuan Sederhana ini kemudian memilih untuk memasuki fakultas Teknologi Pertanian. Aku yakin, orang ini pun awur-awuran dan hanya asal memilih. Kedua orang tuanya pun jauh dari perkebunan namun putranya yang satu itu memutuskan untuk masuk ke jurusan pengolahan lahan pertanian, pilihan yang tujuannya antah berantah, jauh dari kehidupan lingkungannya.
          Masa kuliah di habiskannya dengan menjadi aktivis di macam-macam kegiatan. Kalau ada yang menanyakan: inikah yang membuatnya spesial untukmu? Maka jawabannya: bukan, bukan sama sekali. Laki-laki yang mau aktif di banyak hal memang keren, tapi banyak laki-laki yang melakukannya, jadi itu tergolong bukan hal yang spesial. Spesial itu, ada yang beda. Ia masih saja menjadi Tuan Sederhana.
          Sebetulnya di sela-sela kuliah, ia menyempatkan diri untuk bekerja. Ini juga masih biasa. Ia memilih menjadi seperti kedua orangtuanya yaitu penjual buku. Tidak kaya, tidak banyak untung. Hal ini tentulah jadi hal yang sederhana. Kuliah-kerja merupakan sesuatu yang banyak dipilih oleh banyak mahasiswa, sebab mungkin mereka kurang kerjaan atau bisa jadi kurang penghasilan. Bagaimanapun kesederhanaannya malah membuatku semakin bertanya-tanya apa kelanjutan ceritanya, jadilah aku lebih dalam mencari-cari tentangnya.
          Waktunya pasti tak lama untuk sampai ke semester akhir dan tinggal menyelesaikan skripsi. Namun yang namanya dua hal jika dilakukan bersamaan maka ada kemungkinan tidak berimbang. Pekerjaan lebih menjanjikan. Lelaki itu memilih untuk lebih berfokus pada kegiatannya berjualan. Biarlah skripsi menghantuinya tapi ia tidak takut. Surat panggilan seperti hujan bulan oktober yang terabaikan, sudahlah yang penting bisa dapat penghasilan.
          Maka semakin menjadi pertanyaan mengenai alasanku untuk terus penasaran tentangnya. Bukankah laki-laki ini jadi tidak lulus kuliah? Tidakkah itu bukan hal menarik untuk dibicarakan?
          Kehidupannya begitu biasa saja.
          Tetapi sesuatu hal menarik kadang bersembunyi malah di tempat tak terduga.
          Ya meski jarang ada permata jatuh di tai ayam, tapi bisa jadi kan? Semua kesederhaan pastilah menyimpan hal-hal luar biasa.
          Selama perjalanannya, tak banyak hal menonjol yang menarik dibicarakan atau menjadi obrolan. Namun lelaki ini memiliki satu kunci yang jarang ditemukan di tangan lelaki lainnya. Rasa ingin tahu dan haus akan ilmu. Hei, apakah aku lupa menceritakan kalau ia senang sekali membaca buku? Wah, keterlaluan sekali aku melewatkan bagian itu. Sepanjang ia berkelana di jalan-jalan becek pada muka bumi, tak pernah lepas buku yang menemaninya. Maka bukanlah hal aneh kan, kalau ketika butuh pekerjaan ia lebih suka berjualan buku dibanding menjual baju atau sembako. Kuncinya itulah yang ternyata membukakan sesuatu di hadapannya.

         Sampai sekarang aku masih menemuinya. Faktanya masih sama, ia biasa saja.
         Hanya saja, spesial dan lebih menarik.
         Di dinding-dinding rumahnya tergantung berbagai piagam dan sertifikat sebagai pembicara maupun pemateri. Aku hanya melihat mataku sendiri berisi kekaguman. Jika membaca para audiensnya di salah satu bingkai, aku hanya menganga sedikit kemudian kututup lagi. Lihatlah, mereka mahasiswa, sedangkan…sedangkan laki-laki itu, lulus dari universitas pun tidak. Tapi betul-betul jadi pembicara penting yang diundang untuk mengisi kuliah.
         Aku berdecak kagum.
         Hei, lihatlah. Orang ini yang kita bicarakan sedari tadi!
         Orang yang biasa saja! Lihatlah dia!
         Adakah yang bisa meramalkan akan jadi apa dia?
         Sesungguhnya jalan pilihan Tuhan mana yang akan diterima oleh lekaki sederhana? Maka jawabannya adalah jalan yang terbaik, dan tidak ada sesuatupun yang dapat mendunganya. Kalau kau berani, maka kamu bodoh sekali.

         Sudah kuangkat kepalaku sambil menyeka air yang turun dari mataku.
         Tuhan, jalan apa yang akan Kau berikan padaku, teruslah ingatkan betapa kuasanya diri-Mu. Tuhan, betapa bodoh jika aku meragukan itu.
         Aku membesarkan hatiku dengan kisah yang kutemui hari itu.
         Kisah Ayahku yang kudengar pada suatu senja.
         Kesan yang begitu menempel dan ingin bertengger di dalam benakku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *