KORAN 1: Kontemplasi Ramadhan

Ada satu sosok yang mampu menemani sekaligus meninggalkan secara bersamaan. Ya, ada. Siapa? Kamu. Eh, oh, eh, maksudnya waktu. Hehehe. Waktu, selalu membersamai dalam perjalanan hidup sekaligus bisa jadi melangkah mendahului diri yang hanya memilih diam tanpa kemajuan.

MasyaAllah wal hamdulillah, tertera “12.00 AM” pada sisi pojok kanan bawah layar mesin ketik. Itu artinya telah diridhoi indera-inderaku untuk bersua dengan sekitar enam jam pertama Ramadhan tahun ini. Setelahnya, masihkah berkesempatan lagi?

“KORAN” pertama telah terbit. Sebuah percetakan kubangun dadakan, insyaAllah penuh pertimbangan. Para jurnalis hasil jelmaan raga dan jiwa mencoba meraup sebanyak mungkin bahan lewat pengalaman-pengalaman. Kemudian, tugas-tugas editor dan layouter pun diamanahkan kepada jemari-jemari tangan. Begitulah, “KORAN” pun terbit perdana.


Ya, KORAN. Alias Kontemplasi Ramadhan. Widiiih, membuat spirit mendidih!

Bahasanya, lho. Kontemplasi, lho. Biar terkesan intelek? Haha. Sedikit lupa darimana kata ini kutemui dan jadi betul-betul bersemayam di hati. Tetapi penggunaannya di sini adalah dengan tujuan untuk mengasah diri supaya terbiasa memakai pembahasaan yang dituntut oleh masa kini, khususnya di ranah akademik. Hehe, emang apa sih artinya “kontemplasi”?

Kata “kontemplasi” reflek kumaknai dalam Bahasa Inggris yakni contemplation. Hoho, mentang-mentang anak Sastra Inggris ya perlu macak sok paham Inggris gini ya. Muehehe, ndak cukup itu, kutambahi lagi ya “mentang-mentang anak Sastra Inggris”-nya. Akan daku sajikan pengertian contemplation via Oxford Advanced Learner’s Dictionary, ugh, yakni: the act of thinking deeply about something. Hehe, disederhanakan oleh ibu bahwa artinya adalah “renungan”, sehingga kurang lebih tulisan-tulisan “KORAN” ini bermaksud sebagai renungan-renungan yang kuupayakan untuk dilakukan selama Ramadhan. InsyaAllah, bismillah.

Yuhu! Sudah dari jauh-jauh hari aku mewanti diri supaya menyiapkan beberapa hal, termasuk merapikan memori mengenai Ramadhan yang lalu-lalu supaya mampu menjadi referensi ke depan. Sayangnya kok belum mampu terjalankan. Tapi pada dasarnya, padaku sudah muncul kesadaran bahwa sebetulnya setiap kunjungan Ramadhan selalu mengoleh-olehi cerita yang beragam, ugh. Selalu saja.

Aku memutarkan badan dan melihat ke belakang.

Seorang gadis yang beranjak menjadi siswa taman kanak-kanak memulai ceritanya di dalam Ramadhan. Sebuah pengalaman mengesalkan ketika pulang-pulang dari agenda sholat Taraweh, dia harus menahan sesak karena sedih plus takut dimarahi, ternyata sandalnya tidak ketemu saat akan kembali. Duh, siapa yang nyuri? Pulang-pulang Eyang pun angkat bicara begitu menegangkan sekaligus menenangkan. Setelah itu, cap tebal ditorehkannya pada catatan Tarawehan: ini adalah momentum pencurian sandal! Hehe.

Selanjutnya pernah pun saat peringatan Nuzulul Qur’an, sebuah tawaran untuk menyampaikan tilawah disampaikan pada gadis itu. Sebab merasa telah mampu dan sok tahu, diiyakan saja hal itu. Walhasil ketika sudah disandingkan oleh seorang teman yang akan membaca sari tilawah, gemetar juga bibir mungilnya. Kalimat “alif-lam-mim” menjadi sesuatu yang asing, ini tidak lazim, lho apa ini? Salah ketikkah? Kok belum pernah diajari? pikir sang gadis. Lalu ia hanya menatap meminta belas kasihan panitia. Terbata-bata disampaikannya, “Ini apa?” yang kemudian tanpa jawaban diselesaikanlah masalah tersebut oleh si panitia dengan menukar peran gadis kecil itu dengan teman di sampingnya. Biar yang di samping membaca ayat suci dan si gadis tadi melafalkan arti, wow nice sekali. Rasa malu seketika datang bertubi-tubi.

Pun tidak hanya sedih sebalnya saja, pernah momen bahagia dan bangga menghampiri. Ilmu-ilmu sederhana yang saat itu terpikir tidak ada gunanya ia cerna dari pondok ternyata cukup bermanfaat di lomba-lomba keagamaan. Setiap Ramadhan, panitia Tarawehan akan mencipta lomba-lomba semacam menyusun huruf Hijaiyah, cerdas cermat yang simple, acak nama nabi atau malaikat, dll. Juga, lomba kreativitas seperti menghias oncor atau obor. Dan jangan tanya kalau tidak ingin mendengarkan kesombongan gadis kecil ini, sebab ia akan meluberkan rahasia bahwa nyaris semua juara bisa ia lahap seluruhnya. Ehe, kok malah terlanjur kuluberkan? Muehehe. Meskipun sang juara cuma dihadiahi jajanan dan snack ciki-cikian, tapi percayalah, bagi seorang bocah kecil itu sebuah penghargaan yang super membahagiakan.

Ugh. Duh, banyak juga kalau gadis itu mengungkapkan kesemua-mua pengalamannya bersama Ramadhan. Hehe, siapa gadis itu? Tertebaklah, pasti aku.

Juga ndak bisa dilupa bagaimana perasaanku ketika harus pindah kampung, kembali menemui keberagaman cerita di Ramadhan, iri dan cemburu dengan teman-teman yang sudah aktif diajak tampil ini itu untuk pementasan takbiran, dan lainnya. Pernah aku sampai kesal sekali dengan Babeku sendiri, sebab dilarang ikut pentas fashion show. Katanya, ndak baik pamer tubuh dan baju. Haduh, padahal banyak teman-temanku yang ikut lho. Hoho, tapi setelah makin tumbuh, kalau ingat, rasanya ingin pada diri sendiri ada rasa ingin menghujat. Hehehe, ndak ding.

Hoho, banyak sekali memang cerita yang bisa kutuai di bulan yang penuh sukacita dan berlimpah pahala ini. Cerita soal persahabatan, soal cinta dan putus cinta, soal amanah, soal organisasi, soal buka bersama yang membuat pilu hati karena kebanyakan menguras dompet dan menimbulkan rasa penyesalan ketika terlambat hadir di Tarawehan (sesekali sih nyesel, kebanyakan biasa, haha), dan banyak lagi. Aduhai, kalimat apa lagi yang mampu memuaskan kalbuku untuk berucap syukur? Sepertinya ndak ada yang pantas dan cukup menggambarkan seluruh rasa terima kasih atas segala-galanya yang telah Allah beri.

Mengingat keseluruhannya sepertinya sangat sayang kalau hanya menunggu bakal ada cerita apa pada Ramadhan tahun ini. Meski banyak gelisah dan cobaan mengawali hari-hari belakangan, tetapi bukan berarti momen Ramadhan jadi kena imbas dan harus terabaikan. Kapan lagi ya kan mendapat kesempatan? Setelah ini, harus nih menarget sasaran. Setelah itu aku menegakkan badan, memasang anak panah, memusatkan pikiran, menyipitkan pandangan. Go!

Masa iya untuk memenangkan cerita Ramadhan, aku biasa-biasa aja? Hmm, ogah ya kan.

Maka buah perenungan-perenungan ini semoga bisa mengingatkanku di setiap jalan, bahwa tidak ada perjalanan yang cuma bercerita soal “sampai pada tujuan” tapi ndak ada darah-darah perjuangan.

Daku dipeluk-Nya dan dibisikkan oleh-Nya ayat 69 surah ke-29, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah Swt bersama orang-orang yang berbuat baik.”

Yogyakarta, 1-3 Ramadhan 1439

KETERANGAN :
Tulisan ini diterbitkan edisi KORAN (Kontemplasi Ramadhan), silahkan menikmati dan menghujaninya dengan tanggapan demi membangun peningkatan 🙂

1 comment on “KORAN 1: Kontemplasi Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *