KORAN 10: Betapa Malunya Aku (Untuk KMA)

Kepada saudara-saudariku, Keluar Muslim Alumni (KMA) Ar-Royyan, yang semoga rahmat dan barokah Allah selalu membersamai langkah juangmu. Kuserat lebih dari sepatah dua patah kata dengan malu-malu. Sebab, diri mempertanyakan: layakkah aku untuk menyampaikan ini padamu?

Semoga ditulis bukan dengan harap terbaca untuk dipuja atau dianggap ada. InsyaAllah, semoga ini demi melonggarkan ruang sesak dalam dada yang dipenuhi paduan rasa. Ada malu, ada iri, ada.. banyak lagi.

Mungkin yang akan langsung membaca ini adalah salah seorang sahabatku, Ansal alias Annisa Salma (Hehe. Iya nggak sih, Sal? Terlalu ge-er ya, haha). Ini sebab pernah pribadinya menjadi pembangkit spirit untukku kembali lagi mewarnai dinding-dinding blog yang mulai sepi. Hihi.

Selanjutnya, apa atau siapa KMA Ar-Royyan? Akan kukelupas sebab daku berpikir tidak semuanya sudah mampu mencerna perannya. Dan, semoga cerita dan keputusanku ini bisa diambil hikmahnya. Bismillah, sedikit yang kupaparkan menyadarkan bahwa sedikit pula yang kuketahui. KMA Ar-Royyan merupakan wadah bagi saudara muslim muslimah alumni SMA Negeri 6 Yogyakarta yang sangat berbaik hati dan memiliki spirit gerakan kebaikan untuk mengarahkan dan membimbing kegiatan siswa-siswi SMA Negeri 6, yang terkhusus yakni melalui organisasi siswa Rohis Ash-Shaff.

Dan perihal nama Ar-Royyan? Sebetulnya itu dicukil dari nama salah satu pintu masuk menuju surga. Ar-Royyan, pintu bagi orang-orang yang berpuasa. InsyaAllah, kalau tidak keliru.

***

Ibunda Cho, senior sekaligus inspiratorku, beberapa hari yang lalu mendempetku dengan sebuah tanya, “Gimana? Lanjut nggak?”

Pada waktu itu diri ragu-ragu memenangkan keinginan yang mana.

Pertanyaan itu muncul dalam sebuah forum Buka Bersama Rohis. Salah satu agenda serunya adalah “penulisan kesan dan pesan” dimana setiap manusia di sana diminta menyediakan selembar kertas bertorehkan nama lengkap masing-masing. Kertas itu dibagi menjadi dua kolom, kolom pertama sebagai kesan positif dan di sisi satunya kesan negatif, atau bahasa lembutnya ‘kekurangan yang perlu diperbaiki dari si empunya nama’.

Dan, penting sekali kuceritakan hasil-hasil apa yang kudapat di sana. Hehe, khususnya yang negatif. Apa saja ya isinya? Membuatnya meleleh sekaligus terkekeh.

Beberapa isinya, “Nggak pernah kethok (terlihat).”

“Jarang liat.”

“Mana batang hidungnya?”

“Mana kontribusimu?” ini aku tahu pasti Ansal yang menyeratnya. Dasar, haha.

Pun sebagainya. Allohu, dari sekian itu, tahulah dirimu apa yang kurang padaku.

Kurasakan ada gemericik air turun dari langit-langit hati yang kemudian mengisi penuh segala isinya. Setahun lalu kurang lebih kumulai memantapkan hati untuk masuk ke dalam ranah perjuangan ini, KMA Ar-Royyan. Di mana pribadi-pribadi luar biasa, yang sedari dulu kuidolakan, kebanyakan mencicipi pedas manis perjuangan di wadah yang satu ini.

Kuingat betul salah satu motivasi juga berangkat dari ketidakpuasan atas apa-apa yang belum kulakukan dan kudapatkan selama menjadi pengurus Rohis, pun OSIS. Jadilah kuharap saat itu melalui divisi Pendampingan Organisasi (PO) sepenuh upaya bisa terlaksana kesemuanya. Hanya saja sayangnya…

Apalah daya (atau akukah yang miskin upaya?) sedikit sekali tanganku menjulurkan kontribusi, sedikit sekali amanah-amanahku terpenuhi, atau bahkan tiada nampak sama sekali. Bahkan di sesi pelantikan aku belum bisa hadir. Tanpa mau menjadikannya alasan utama, meskipun itu menjadi faktor pendukungnya, adalah ketidakluwesan Babe meridhoi aku untuk datang ke sana. Beliau demikian mantap dakwahku baiknya berlanjut di perkuliahan. Namun dengan menawarkan pertimbangan alasanku di PO, Babe mengizinkannya.

Namun selama perjalanan panjang kurang lebih setahun ini, kapal yang aku tumpangi tidak henti-hentinya menemui rintangan. Bukan sekadar hambatan, melainkan juga godaan. Betapa langkah juangku berkali-kali diusik oleh kegemaran hati yang lebih mencondongkan diri pada tujuan yang lain-di ranah yang lain. Sejujurnya, di dalam menulis ini perlu kuutarakan, bahwa tidak ada keinginan menegaskan langkah juang yang mana yang lebih baik sehingga yang lain bisa diremehkan. Semoga tidak. Maka kalau iya, kebijaksanaanku tentu kurang di situ.

Hingga pada akhirnya sampailah pijakanku pada akhir periode yang menyuguhkan rasa malu. Baru kini nampak padaku banyak pribadi yang ndak kalah sibuk di dunia kampus sebagaimana sahabat Jihan (FKM UAD) yang lewat kiriman di Instagram nampak banyak kegiatan tapi masih aktif di KMA, sahabat Embun (Peternakan UGM) yang beberapa kali bersinggungan denganku saat rapat Ramadhan di Kampus (RDK) tapi masih kerap bertandang ke acara KMA, sahabat Ariq maupun Rif’at yang walaupun kampusnya sejauh mata memandang (UB) tapi setiap berpulang ke tanahnya berbaik hati untuk bersilaturahim sekenanya, dan sahabat-sahabat lain yang mungkin belum banyak kuketahui jalan juangnya.

“Kalau mau lanjut sangat boleh,” bisik Bunda Cho. “Tapi kalau dirasa belum mampu, disudahi dulu ndakpapa daripada malah mendzolimi temen-temen yang lain.”

Betul-betul maluku saat itu meronta ingin diobati. Maka selanjutnya pertimbangannya menjadi lebih jelas. Meski aku butuh beberapa selanjutnya untuk memantapkan keputusan.

Keinginan melanjutkan perjuangan di KMA Ar-Royyan begitu besar kurasakan. Geloranya, api-apinya. Apalagi sepulang dari Buka Bersama Rohis hari itu yang menumbuhkan rasa rindu dan cinta pada berondong, eh, pada manusia-manusia pejuang di sana. Hehe. Pun kulihat ini menjadi sebuah peluang besar bagiku menjaga ikatan kekeluargaan dengan banyak sahabat yang selama tiga tahun telah mengajarkan kebaikan padaku, sahabat Rohis Ash-Shaff. Kubayangkan akan terus tertuai nasehat dan arahan yang membangun di sini.
Tetapi keraguan muncul kembali, bagaimana kalau ternyata aku tidak mampu melaksanakan amanah-amanah yang ada padaku? Yang penting berusaha, Hims, ada bisikan yang entah darimana. Tapi perlu diingat perjalananku setahun lalu, itu bisa jadi pertimbangan juga. Akankah kuulang keliruku? Lagi-lagi?

Sehingga dalam memantapkan dua keputusan yang sama beratnya ini, aku mencoba mencari keselarasan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi. Sudah berpadukah? Tapi lihat saja paragraf yang aku tebalkan hurufnya, sangat jelas bahwa cita-cita yang tumbuh di sana adalah sekadar melihat apa yang akan kudapat. Sedang selalu kuingat-ingatkan diri untuk “dididik untuk mendidik”, bukan sekadar menuai didikan, meraih peningkatan untuk pribadi tapi tiada gerakan untuk membagi apa yang telah dimiliki supaya bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri. Lalu aku bertanya-tanya, “Besarkah hatiku untuk memunculkan tujuan baik memberikan sesuatu ke organisasi maupun yang lain?”

Meski daku mengerti bahwa meluruskan tujuan seharusnya bisa, tapi ada juga ketakutan jangan-jangan kalimatku “menjaga ikatan kekeluargaan” hanya bentuk lembut dari “ingin dianggap ada” sebagai respon atas kesan-kesan negatif yang disampaikan padaku. Jangan-jangan aku sekadar merasa perlu untuk unjuk muka, jangan-jangan aku cuma tidak rela kehilangan eksistensiku di sini. Kalau begitu, bagaimana? Astaghfirulloh. Kujauhkan diri dari niat-niat tersebut.

Selanjutnya, pun kucoba menimbang-nimbang apakah organisasi juga (buru-buru) membutuhkanku. Kalau tidak dirasa perlu, juga banyak pribadi lain yang ternyata telah demikian cukup membantu, rasanya bijak sekali kalau kumenangkan urusan dengan jalan juang baru. Apalagi kuingat seseorang pernah mengatakan dalam kondisinya yang sudah bertumpuk-tumpuk amanah, masih ditawarkan untuk memikul tambahan lagi, “Artinya saya yang nggak paham diri sendiri kalau apa-apa yang datang kepada saya, saya terima semua, saya lakukan semua. Padahal diri sendiri ada batasnya.”

Maka, betapa malunya aku, di hadapanmu, saudara-saudariku di KMA Ar-Royyan. Pada akhirnya setelah kosong kuisi peluangku memberi kontribusi dari setahun yang lalu, kini kumantapkan hati untuk memberikan dukungan tidak melalui struktural organisasi yang dikhawatirkan hanya menjadi “tempelan nama” tanpa kerja nyata. Biar Allah SWT yang menjadi penentu pada momen-momen mana kita bisa bertemu sehingga aku bisa membantu.

Segala keringat panas dinginmu yang tentunya lebih banyak tumpah daripada diriku, semoga oleh Allah SWT diridhoi untuk jadi salah satu alasan yang mendukung pertemuan kita di surga-Nya. Aamiin.

Yogyakarta, 30 Ramadhan 1439

KETERANGAN :
Tulisan ini diterbitkan edisi KORAN (Kontemplasi Ramadhan), silahkan menikmati dan menghujaninya dengan tanggapan demi membangun peningkatan 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *