Ada yang ganjil. Allohu akbar, allohu akbar, laa illaha illallah, allohu akbar, allohu akbar, wa lillah ilham. Kalimat takbir-takbir yang thoyyibah mengisi lorong-lorong dalam telinga, menggema di dalam kepala dan dada.

Rasanya ganjil. Dibanding Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, ini betul-betul ganjil. Betapa Ramadhan sedikit sekali kusambut dengan ibadah jasmani maupun ruhani. Sungguh, sesungguh-sungguhnya, dalam menulis ini daku tidak ingin menyudutkan “urusan dunia” sebagai penghambat, itu tentu kebijakan yang kurang tepat. Semua kembali lagi pada si empunya pilihan dan akulah sang pemilih itu yang bertanggungjawab untuk itu.

Sudah diperingatkan oleh berbagai kejadian dan perkataan, tapi tidak juga bersegera bangkit menyadari waktu yang semakin sempit. Walhasil, kini Syawal sudah menghimpit.

Beberapa waktu yang lalu, daku memang sangat payahnya berada dalam kurungan pesimisme luar biasa. Bayangan akan dosa, salah, dan lupa baik di masa lalu atau saat sekarang memunculkan ragu yang demikian dahsyatnya melemaskan pergerakan, “Mampukah aku meraih bayangan masa depanku?”

Bahkan sampai muncul pertanyaan, “Atau aku tidak akan memiliki masa depan?”

Dan kenyataannya, rasa pesimis itu masih bersisa sampai sekarang. Terbayang berbagai celah aku berlaku payah selama Ramadhan, membiarkan kesempatan ibadah terlewat dan menenggelamkan diri pada aktivitas minim manfaat, aduhai akankah ini membawaku pada langkah yang lebih baik ketika Syawal dan bulan-bulan selanjutnya?

Takut dan khawatirku semakin menjelma raksasa, kalau-kalau segala kualitas malah semakin mencipta naas. Ramadhan yang pergi meninggalkanku dengan kecewa karena tiada sambutan yang menyenangkan, sembari ia menutup pintu diberitakannya pada Syawal yang sudah menunggu giliran bertamu supaya tidak perlu berbaik hati padaku yang akan mengecewakannya jua. Astahgfirulloh. Akankah begitu?

Sungguh pesimis itu mencipta lengah padaku.

Bersamaan dengan segala gundah gelisah, seorang dosen yang kutemui di kampus imajiner berbagi ilmunya, beliaulah Prof. Haji Abdulmalik Karim Amrullah.

“Orang yang berakal tidaklah berduka hati. Karena kedukaan itu tiada ada faedahnya. Banyak duka mengaburkan akal. Tidak dia bersedih, karena kesedihan tidaklah memperbaiki perkara yang telah terlanjur. Dan, banyak sedih mengurangi akal. Orang yang berakal menyediakan obat sebelum sakit, menyediakan payung sebelum hujan. Tetapi kalau penyakit datang juga, padahal obat telah sedia, dan bajunya kena hujan juga, padahal payung telah di tangan, tidaklah dia kecewa, tetapi dia sabar dan rela dan dicarinya usaha untuk mengatasi. Orang yang berakal tidak ada tempat dia takut selain Tuhannya. Kalau timbul takutnya dengan tiba-tiba, diselidikinya apa sebab dia takut. Dari salah, atau hanya dari rendah himmahnya?” (Dalam buku Falsafah Hidup, page 38)

Betapa malu semalu-malunya aku, ketika menyadari akal lepas kendali dan membiarkan pesimisme itu masuk sendiri ke dalam hati. Bayangan mengenai salah dan lupaku yang akan menghabisi setiap kesempatan berbuat kebaikan di masa depan ternyata membiarkanku buyar untuk berpikir lebih bijaksana.

Betapa malu semalu-malunya aku, bahwa kebaikan akalku telah disinggung oleh sang profesor. Seyogyanya orang berakal yang menyadari kelirunya dalam laku, segeralah ia tahu kemana selanjutnya harus melaju, bagaimana di kemudian hari bisa memperbaiki. Sehingga rasa pesimis yang sudah memberikan cap merah tanda larangan pada perubahan rasanya sangat-sangat ganjil dimiliki pribadi yang mengaku berakal.

Allohu akbar, allohu akbar. Ampuni hamba yang lemah dan sempat tergoda untuk menjadi lengah. Semoga dengan banyak rasa sesal yang mengamuk ingin segera dikeluarkan dapat kujadikan benih-benih demi menumbuhkan peningkatan yang berbuah manis.

Asyhadualla illaaha illallah, astaghfirulloh, as alukal jannata wa a’udzubika minannaar, allohumma innaka afuwwun tuhibbul afwaa fa’fuanni.

Yogyakarta, 30 Ramadhan 1439

Tinggalkan Balasan