“Heh, Pel!” sebuah suara digemakan oleh Sahabat Gregorius Lingga, atau yang akrab kusapa Mas Lingga sebab memang beliau sudah tua. Haha, beliau lho yau. Ia berseru kepada sahabatku yang lain, Barbara Tarandita Pelangi Putri. Ugh, rupanya dia main kode-kode untuk minta air mineral yang dibawa Pelangi.

Hari itu adalah siang pertama Ramadhan yang menyapa kami dan kebetulan Mas Lingga maupun Pelangi tidak ada ikatan untuk berpuasa. Rupanya ada adegan pendek yang selanjutnya betul-betul menyentil. Saat itulah kulihat Mas Lingga lekas mengambil air mineral Pelangi dan dengan langkah mantap tidak ingin mencuri perhatian, ia bersegera menuju pojok ruangan. Ia hadapkan badan ke dinding, membelakangi kelas, dan segera menikmati beberapa teguk pemuas dahaga.

Aduh, secuil kebaikan hari itu, membuatku cemburu. Bukan karena juga pengen ikut minum, muehehe, melainkan karena merasa belum banyak melakukan hal semulia itu. Jangan-jangan aku malah kerap kecolongan dengan saudara sekitar. Baiknya mereka yang dalam bertingkah laku tidak melupakan siapa saja yang ada di sekelilingnya. Terima kasih impuls-impulsnya sahabat.

Sebuah pemaknaan yang coba kubangun pun sekarang soal ini. Puasa, oh, puasa, buat apa ya? Kalau cuma berbuah rasa lapar sebab nggak makan dan minum kok rasanya sia-sia. Tentu, maksud himbauan berpuasa Ramadhan tidak seremeh-temeh itu saja.

Dalam kondisi tiada mampu memenuhi keinginan makan, minum, termasuk berhubungan suami-istri begini, membantu seseorang mencipta perasaan simpati terhadap sesama. Melalui puasa, sebuah latihan menahan diri, seseorang diajak untuk turut merasakan pengalaman dan penderitaan saudara lain yang belum berkecukupan. Semoga melalui puasa, makin kuat tertancap akar-akar rasa syukur dalam diri dan makin besar-tinggi-berisi rasa kepedulian pada tiap pribadi. Setelahnya, rasa ingin berbagi tentulah tumbuh bersemi.

Kemudian, yang perlu diingat. Tidak cukup harta kita beri, tidak cukup bangga atas dua-tiga lembar rupiah yang sudah kita bagi. Tidak pernah ada berhenti untuk yang satu ini. Mengenai bagaimana merasakan penderiaan orang, kita memang harus belajar melihat jeli-jeli. Muhammad Zaenal Arifin barusan saja mengingatkan lewat tintanya dalam buku Andai Ini Ramadhan Terakhirku, “Bila sebelumnya memberi sedekah hanya karena ada pengemis datang, mulailah alokasikan dana khusus dan cari mereka yang membutuhkan. Karena banyak orang yang sebenarnya patut dibantu, tapi karena enggan meminta-minta sehingga orang kaya tidak mengetahui keberadaan mereka.” MasyaAllah, langsung tergerak jemariku memberi garis tebal di bawah kalimat tersebut. Oh iya ya, pikirku, ndak semua orang enak hati untuk mengatakan bahwa mereka butuh pertolongan. Kita perlu tanggap dalam menangkap berbagai keadaan.

Di sini memang yang disinggung ialah urusan berbau bantuan finansial, tapi lebih dari itu, apa yang hendak kusinggung adalah segala kepekaan untuk tergerak bersikap dan membantu dalam bentuk apapun-kapanpun-dimanapun. Sudahkah kita? Atau, sebelum itu, sudahkah aku? Hehe.

Sebenarnya fenomena begini kerap dihadapkan padaku. Paling sering adalah saat ibu hendak melakukan berbagai amanah yang menuntut kerja keras pikiran dan perasaan. Beliau sering menolak dibantu, mengaku sanggup melakukannya tanpa bantuanku, pergi jalan kaki karena di samping ndak bisa mengendarai motor pun juga ndak mau merepotkan yang lain. Oh, Ibu. Padahal bebannya berat, padahal sering sekali beliau susah, tapi jarang sekali (atau bahkan belum pernah terjadi) kulihat beliau ndresula. Cuma ketika setulus hati aku mengajukan diri membantunya, terima kasih-nya banyak sekali.

Pernah juga di momen lain, tidak sengaja aku mampir di sebuah mushola daerah Wirobrajan. Lagi-lagi, tidak sengaja aku menemukan sesosok wajah yang diriku ndak asing dengannya. Secara kepribadian, sekilas terlihat bahwa padanya ada yang ndak biasa. Atau lebih tepat lagi, sepertinya ia masih kurang dalam menjalin interaksi. Ah, dia kan anak yang sekali dulu itu, batinku setelah bertanya pada memori. Kusapa dan mendapatkan respon tidak terduga. Dia memandangku terpesona seolah itu adalah sapaan terbaik sedunia. Terbata tapi dituturkannya jelas setiap kata, “Makasih ya… udah inget aku.” Sedikit membuat menganga, tapi kupastikan tersenyum juga. Selanjutnya entah kemana kepalaku beranjak pergi. Yang aku tahu hari itu adalah bahwa ternyata di dunia ini, sapaan sederhana bisa saja berarti bagi banyak pribadi.

MasyaAllah. Secuil apa yang kita lakukan demi kebaikan, bisa jadi efeknya besar bagi yang betul-betul membutuhkan. Nah, sebab kita nggak tahu pasti siapa yang butuh dan siapa yang belum, tidak berhenti berbuat kebaikan adalah keputusan terbaik untuk diambil.

Famay ya’mal mitsqola dzarrotin khoiroy yarah. Begitu Allah swt menegaskan, “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” Semangat berbagi cuil-cuilan kebaikan!

Yogyakarta, 3-4 Ramadhan 1439

KETERANGAN :
Tulisan ini diterbitkan edisi KORAN (Kontemplasi Ramadhan), silahkan menikmati dan menghujaninya dengan tanggapan demi membangun peningkatan 🙂

Tinggalkan Balasan