KORAN 3: Menjaga Hubungan

Semakin kemari, daku semakin diingatkan lagi dan lagi bahwa yang terpenting dalam perjalanan hidup ini bukanlah mengenai senangnya atau sedihnya, melainkan bagaimana kita memaknainya. Terkadang senang yang diisi canda tawa hanya akan menjadi kenangan kosong belaka ketika tiada hasil dialog dengan hati yang pada nantinya bisa kita sebut sebagai pemaknaan. Dan lebih-lebih, pengalaman sedih akan terasa sangat berharga dan eman-eman untuk dilupakan ketika padanya tertumpuk banyak pemaknaan. Walhamdulillah, kali ini sepertinya suasana sedih sendu yang harus menemaniku untuk mencari pemaknaan baru.

Beberapa kali ditampar-tampar oleh pengalaman, sampai kini diriku akhirnya pada kesadaran yang demikian. Tentang apa?

Sayangnya, daku memang bukan pribadi yang peka. Terkadang butuh digetak dengan beberapa kejadian sampai baru bisa menyadari, ini lho, kamu harusnya begini. Pada kesempatan ini, hal yang paling menyesakkan untukku pribadi adalah “menjaga komunikasi”. Aduhai, ternyata pada hal itu aku masih demikian kurang.

In frame (dari kiri): Sahabat Ririn, Bunda Nabela, Bunda Laila, Bunda Anggit, and me.

Pertama, kejadian ini pernah mendorongku untuk menulis di blog dengan perasaan membuncah tumpah-tumpah. Emosi sedih yang mencoba pasrah itu kuserat pada kiriman tanggal 25 Maret lalu, berjudul “Challenge”. Kejadiannya sederhana sebetulnya, tapi betul-betul menyuguhkan berlipat-lipat penyesalan.

“Jangan lupa nanti malam ada Rapat Konpida PD IPM Jogja di rumah dek Naufal, ini udah H-1 lho,” begitu kurang lebih pengumuman sore hari yang aku dapati saat tubuh sedang berpijak di Toko Buku Shopping untuk melakukan kewajiban rutin demi menambah pemasukan. Kutimbang-timbang betapa kontribusi untuk agenda Konpida selama ini dariku masih kurang, segeralah otak beranjak mencari solusi bagaimana supaya dapat memenuhi undangan sedangkan lokasi yang disebutkan jaraknya ya lumayan.

Kumintakan bantuan via grup PD IPM, siapa gerangan dari sekian sahabat yang baru akan berangkat dan kemungkinan bisa terlambat, muehehe. Harapanku semoga ada sosok yang bersedia membersamai alias lebih tepatnya memboncengi diriku. Ugh. Dan betul, hadirlah bunda idaman segala zaman, Anggitya Nareswari, yang kebetulan katanya berada di kos-kosan dekat kampus. Lalu segera secepat kilat kusampaikan sebuah lamaran, “Bersediakah membocengkan saya?”

Tidak lama jawabannya segera menuai ragu padaku, kira-kira, “Duh, Ahimsa! Cepetan, ini aku udah ngeluarin motor!” Segera dengan penuh rasa ketidakenakan kusampaikan keraguanku dengan beberapa pertimbangan: bunda Anggit sepertinya buru-buru karena udah siap banget, sedangkan diriku belum siap helm, pun juga aku ndak ada paketan internet yang mana bisa menyusahkan komunikasi (waktu di Shopping aku masih bisa stay in contact dengan bunda Anggit ialah hasil minta tattering sahabat di Shopping, hehe). Kusampaikan semua-mua kondisiku.

Aku tahu beliau jengah, duh, makin ndak enak ini. Sempat ada ragu yang memuncak, “Eh, atau ndak usah aja deh Bunda, kalau Bunda buru-buru.”

Tapi sebaik-baik orang baik, “Serius nggak nyesel? Udah nggak papa aku tungguin di FKH (Fakultas Kedokteran Hewan) sambil main game.” Begitu kata Bunda Anggit. Lalu entah impuls darimana, tapi aku yakin banyak didorong oleh keinginan menenangkan lawan bicara, kusampaikan, “InsyaAllah 15-20 menitan sampai.” Aku nggak yakin perhitunganku benar, pun aku juga nggak yakin itu salah. Kubayang-bayang sepertinya bisa kukejar dengan kurun waktu sebagaimana telah kusampaikan.

Maka setelah itu ada dua sasaran tujuan yang harus segera ditembak. Pertama, ke rumah untuk ambil helm. Kan nggak mungkin aku bonceng tanpa ber-helm (walaupun sebetulnya kalau boleh jujur aku kerap lupa mengenakan, juga sering lupa melepaskan kalau sudah mengenakan, hehe). Kedua, ke FKH menemui Bunda Anggit. Then, wushhhh. Bersama Pilek aku melaju.

Nah, eh, eh, ternyata perhitunganku kurang matang. Sampai di rumah, adzan Maghrib berkumandang. Lenganku ditahan oleh panggilan-Nya, dan buru-buru kukerjakannya. Semoga terhitung khusyuk, ya Rabb, batinku. Sebelumnya kukabarkan posisi dan tujuanku kemari dahulu pada Bunda Anggit lewat tattering dari Ibundaku (bunda yang betul-betul ibunda).

Ba’da sholat, kuterima pesan lagi, “Elah, Ahimsa! Aku ada helm!” Allohuakbar. Ok, makin tidak bisa kukuasai keteganganku. Buru-buru kugas Pilek mencapai FKH.

Sambil di perjalanan, kepalaku mencoba menggambarkan jalan-jalan mana yang bisa kulalui dengan cepat dan tidak terhambat. Sengaja nggak perlu aku cek-cek handphone demi menghemat waktu. Beberapa portal kampus ternyata sudah terkunci, jadi perlu aku bolak-balik memutari kampus dan mencari jalan lain lagi. Allohuakbar!

Sampai waktu yang tiada kusadari akhirnya aku mencapai sebuah gelanggang olahraga, yang kupikir-pikir ini namanya GOR Klebengan. Kubuka handphone untuk memastikan…….

….…eh, Allohuakbar! Ternyata sudah penuh dengan telepon dan pesan dari Bunda Anggit. Aku gemetar, nggak enakan. Kubuka satu pesan terbaru, kira-kira isinya begini, “Yaampun, Ahimsa ini udah lewat sejam aku nunggunya. Sekarang aku mau otw ke rumah Naufal. Bukan apa-apa, aku sebenernya nggakpapa mau disuruh sampai habis Maghrib atau bahkan Isya nungguin kamu, tapi ini emang udah konsekuensi karena kamu tadi bilang 15-20 menitan sampai, tapi ternyata malah udah sejam lebih.” Kalimat selanjutnya aku ndak ingat apakah ada lagi.

Dadaku tanpa mampu dicegah segera diserang oleh rasa bersalah sedemikian besarnya. Dahiku mengernyit menahan sakit yang diakibatkan kecerobohanku sendiri. Beberapa menit aku mencoba mencerna apa yang terjadi lalu menuliskan permohonan maaf disertai konfirmasi bahwa sejak tadi masih di jalan dan belum bisa mengecek panggilan. Kulihat sederet notifikasi “panggilan tak terjawab” dari Bunda Anggit sudah memenuhi layar handphone.

Aku kemudian membiarkan diriku menikmati jalanan, betul-betul mencoba menikmati. Sekitar satu jam selanjutnya barulah tubuhku kembali ke rumah.

Dan allohuakbar lagi! Kucek lagi ponselku sudah berlipat ganda lagi baik notifikasi Whatsapp maupun SMS. Whatsapp karena seluruh manusia di dunia ini mencari, uwadaw, kepedean sekali, hehe (maaf ya kok kesan tegangnya jadi hilang, pokoknya ini adalah saat-saat tegang, ya Sahabat). Sebenernya yang mencariku hanyalah Bunda Anggit dan Sahabat Fanindya Apriani, as known as Fanin.

Ada satu pembaperan kala itu. Bahwa Bunda Anggit ternyata belum betul-betul pergi meninggalkanku lalu lanjut ke rumah dek Naufal, huhu. Aku bingung harus sedih atau senang. Sedih karena terlanjur mengecewakan dan pulang balik ke rumah tanpa menyambut penantiannya dengan cara yang baik. Pun, senang sebab masih dianugerahi bunda yang baik yang masih bersedia menunggu bahkan meski ada perasaan pelik. Dan, semakin dadaku tercabik-cabik ketika aku tahu bahwa Fanin menghubungiku sebab ia sempat akan menjemputku untuk menuju Rapat Konpida. Tapi karena belum tahu posisi rumahku di sebelah mana, jadilah ia hanya mampu menunggu sampai di masjid terdekat di sana. Allohuakbar! Semakin gusar diriku. Beberapa waktu setelah itu aku baru tahu bahwa Fanin pun sebetulnya dimintai bantuan oleh Bunda Anggit kala itu. Allohuakbar!

Sungguh, serius, semua rentetan ketegangan itu memang mendorongku terus menyeru-nyerukan takbir. Aku merasa getir sebab tidak berdaya dengan semua hal ini.

Hari esoknya aku baru tahu bahwa akhirnya malam itu Bunda Anggit hadir rapat dengan penuh air mata bercucuran. Informasi tersebut cukup padaku menciptakan kepedihan.

Ditilik dari beberapa sudut pandang setelah aku banyak mencurahkan isi hati dan gelisah diri, memang ada beberapa evaluasi. Kalau kusebutkan semua mungkin jadinya ndak fokus. Salah satu yang utama dan menjadi topik pembahasan kali ini adalah menjaga komunikasi.

Sebetulnya dilihat-lihat kegagalanku mencapai agenda rapat adalah karena komunikasi yang tidak berjalan baik. Mulai dari keberadaan helm, kurangnya konfirmasi dariku bahwa aku sudah di jalan, dan sebagainya yang kemudian membuahkan problem-problem lain di luar dugaan. Salah satunya kehadiran Fanin, yang jelas-jelas dia ndak kepikiran menghubungiku lewat SMS, sebab mungkin ndak tahu kalau diriku kehabisan paketan internet. Aduh, duh, duh. Begitulah.

Cukup menguras air mata, air keringat, dan air… hujan (biar dramatis). Hehe, tapi begitu memberikan pembelajaran. Selanjutnya, agenda-agenda lain pun menjadi tamparan yang sama. Kedua, misalnya, saat aku menjadi penanggungjawab lomba mading di sekolah yang malah sedikit sekali menjalin komunikasi dengan ketua acara, waktu itu Sahabat Aira. Ini dikarenakan ada rasa segan dan canggung menyampaikan kondisi persiapan yang belum matang. Aku nggak enakan menyampaikan kenyataan itu, khawatir malah menyulut api-api di antara panitia. Duh, duh, walhasil kegiatannya tidak sesemarak seperti di dalam ekspektasi. Walaupun begitu perlu sangat aku syukuri karena setelahnya lagi-lagi belajar soal menjaga komunikasi.

Kemudian agenda selanjutnya yang menjadi pembelajaran untukku pribadi adalah yang diadakan belakangan ini. Sebetulnya aku tidak terlalu punya gawe di sini, tetapi sedikit banyak tanggung jawabku ada dalam kegiatan ini. Sehingga lebih tepat posisiku sebagai sosok yang terus menerus mengawasi dan menanyakan kabar segala persiapan yang dilakukan kepada ketua acaranya. Sayang seribu sayang, sepertinya sang ketua juga sedikit malu-malu dan enggan terbuka dengan kekurangan-kekurangan yang ada. Masalah-masalah yang seharusnya dikeluhkan dijawab dengan cukup pendek, “Amanlah, bisa kok, bisa.” Aku tahu, sebenarnya ada masalah. Tapi sebab ndak sampai hati memaksa-maksa menanyakan apa yang terjadi, kuabaikan dan mencoba mempercayai. Ugh sayangnya, keputusanku untuk tidak gemas menanyakan kabar malah menjadikan kacau balau kegiatan. Masalah-masalah yang menghindar dari pembahasan menjadi bertumpuk pada hari H yang ditentukan. Walhasil? Gagal total. Lagi-lagi, soal komunikasi yang terhambat oleh rasa ketidakenakan.

Allohu. Ternyata ndak baik juga kalau kita terus memenangkan rasa ketidakenakan. Hal-hal sensitif terkadang perlu dibicarakan dan diungkapkan sebelum membuahkan masalah sebab tidak pernah dicarikan solusinya.

Pada suatu momen, yang aku lupa kapan, pernah kutuliskan kalimat penyesalan yang begitu dalam, “Aku tipikal orang yang sukanya tenang kali ya, lebih sering mencari kedamaian. Untuk membahas hal-hal sensitif kadang masih berpikir. Tapi bersamaan dengan otakku yang masih berpikir, ternyata di sandingku sudah ada pribadi lain yang beraksi dengan berani. Haduh. Kalau begitu, kan kalah aku. Kata dosen idamanku, Bapak Munjid, “…” ehehe lupa kata-katanya, intinya adalah: kita harus berani membahas isu sensitif, supaya itu tidak berkembang menjadi masalah yang lebih rumit sebab nggak ada yang mau menyinggungnya. Pada yang demikian itu aku betul-betul disadarkan pentingnya komunikasi. Setidakmenyenangkan apapun yang dibahas, kita harus membahas demi menemukan solusinya.”

Maka, bismillah, akan kuusahakan untuk tetap menjaga komunikasi. Sebaik dan sebijak mungkin. Allohua’lam bisshowwab.

Yogyakarta, 9-11 Ramadhan 1439


KETERANGAN :
Tulisan ini diterbitkan edisi KORAN (Kontemplasi Ramadhan), silahkan menikmati dan menghujaninya dengan tanggapan demi membangun peningkatan 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *