KORAN 5: Lighting Women

Baru tadi malam sebuah obrolan mengisi acara penutupan pentas drama kami, mahasiswa Prodi Sastra Inggris 2017 FIB UGM. Obrolanku dengan Raden Mas Alexander alias Sahabat Alex alias Mas Alex yang sebenarnya melanjutkan apa yang sempat kami singgung di agenda latihan. Jadi, singkat cerita, beberapa waktu lalu saat latihan…

Mathilda Claressa alias Sahabat Ressa selaku sutradara sedang memberikan motivasi yang kurang lebih berbunyi, “Temen-temen nanti pas main, mau gimanapun kondisinya tetep lanjut main ya. Ada apapun di luar panggung kalian tetep harus fokus.”

Segera dibalas iseng oleh Sahabat Alex, “Nanti kalau ada lahar Merapi ke sini terus gimana?” dengan wajah tanpa ekspresi selayaknya biasanya.

Aku yang kebetulan di sampingnya mengikuti alur bercandaannya lalu berbisik, “Ya kan keren, Mas. Nanti muncul di headline koran ‘SASTRA INGGRIS 2017 TETAP MEMAINKAN DRAMA KETIKA LAHAR MERAPI DATANG’ hehehe.”

Masih juga dilanjutkan olehnya, “Harusnya laharnya dateng pas final battle.” Sebab saat itu adalah puncak dari alur drama kami, pertarungan terakhir sang tokoh utama. “Kan mendukung efeknya.” Lalu aku tertawa, receh, hehe.

Kemudian tak terasa waktu berjalan cepat. Sampai akhirnya semalam setelah drama dilangsungkan, aku katakan padanya, “Selamat, Mas. Ternyata laharnya nggak jadi dateng.” Terus dengan wajah yang masih dan selalu datar, Mas Alex menuturkan, “Thanks, God!”

Cek selebihnya lewat IG @sasingugm17

Singkat paragraf, agenda ini adalah salah satu rangkaian acara Class Project Sastra Inggris 2017. Selain exhibition (pameran) dan penyusunan buku antologi, inilah persembahan kami, sebuah panggung teater sederhana tapi membuat terlena berjudul “The Sword of The Hope is Now Yours” yang mengangkat cerita mengenai salah seorang legenda terkenal, Raja Arthur. Pentas ini melibatkan seluruh keluarga Sastra Inggris 2017 dan beberapa senior. Ibunda Ashika sebagai pembimbing, Fithrotul Izzah alias Sahabat Ijah sebagai ketua atau pimpinan produksi, Sahabat Ressa sebagai sutradara, Dea Levana alias Sahabat Dea sebagai koordinatorku, dan juga sahabat-sahabat lain yang deras mengalir keringatnya untuk pentas malam tadi. Semoga perjuanganmu dibalas. Hehe.

Lalu, aku? Aku ngapain?

Daku hanyalah butiran debu, ugh. Aku membersamai Sukma Restu Purwati alias my Permission Soul of Purwati, alias Sahabat Sukma, menjadi manusia-manusia yang mencerahkan segenap panggung. Kami berdua menjelma menjadi lighting women. Sebuah pengalaman baru, sebuah keberangkatan dari yang kemarinnya ndak tahu sekarang lumayanlah lebih paham caranya ceklak-ceklik lampu.

Tapi siapapun kami, sepanjang dan seterjal apapun perjalanan yang dilalui, hal paling penting adalah bagaimana kita mampu memaknai. Dan pagi ini, sambil menunggu adzan Shubuh, rentetan hikmah-hikmah yang kemarin aku pelajari rasanya enggan menghilang tanpa sempat diserat di sini.

Alhamdulillah, sangat-sangat bersyukur bisa berada di tengah-tengah pribadi dengan karakter-karakter yang mencipta letup-letup emosi. Eaaak. Emosi bukan hanya yang isinya api-api, bahkan sebenarnya malah kebanyakan merasa hepi sekali.

Kalau dibilang kehadiranku memberikan banyak kontribusi, ya ndak juga. Kalau dibilang usahaku membawa banyak solusi, ya ndak juga. Tapi melihat perjuangan dari sahabat-sahabat lain yang lebih berdarah-darah, jujur aku merasa banyak mendapat inspirasi dan motivasi. Kalian keren sekali.

Pernah aku dibaperkan pada hari-hari sebelum momen pertunjukan, ketika Sahabat Nabila pun dibersamai Sahabat Ijah menyiapkan beberapa properti drama berduaan. Sedangkan aku lebih memilih menyibukkan diri dengan kekosongan kegiatan, astaghfirulloh. Dan luar biasanya, keringat-keringat yang bercucuran sama sekali nggak menggodanya untuk berhenti melanjutkan puasa Ramadhan-nya. Aduhai, idamannya.

Ndak lupa juga saat-saat aku kebetulan menemani Sahabat Ijah bertemu dengan Ibunda Ashika untuk membahas beberapa komunikasi yang kurang terjaga. Duh. Kubayang-bayangkan, berada di posisi sahabat yang satu ini, susah juga, berat ternyata. Tapi kenyataannya ia masih berusaha mengupayakan supaya semua hal-hal, khususnya teknis, bisa berjalan dengan maksimal.

Juga, sedikit iba berbaur bangga ketika pada suatu momen latihan malam hari, Sahabat Rofi yang sungguh mulia sekali, dalam keadaan sakit masih menyempatkan diri hadir. Setelah sebelumnya memenuhi tugas sebagai panitia di kegiatan lain, ia masih bisa-bisanya berkontribusi dalam kegiatan ini.

Aku ingat betul ketika pertunjukan berlangsung, ada satu momen dimana koordinasi yang awalnya indah dibangun menjadi sedikit kurang terarah ketika di panggung. Dan pada sutradara, Ressa, tentunya muncul panas dingin dalam dada. Tapi kontrol pada dirinya cukup mengesankan ketika terdapat adegan yang tidak bersesuaian dengan yang sudah digariskan, dia tahu, the play must go on. Ressa-lah yang banyak mengerem dan memacu tanganku untuk menggerakkan kontrol lampu. Untuk semua pengalaman luar biasa itu, ugh, thank you.

Pun, sempat ketika dalam sesi latihan, terdapat momen di mana Sahabat Ezra alias Bang Ezra yang menjadi tokoh utama dalam drama menuangkan segala kesungguhannya dalam pertunjukan. Sampai-sampai aku ndak sadar, Ressa yang membuka mata lebar-lebar, kalau Bang Ezra sempat berdarah kakinya (literally berdarah, Sahabat). Luar biasa sekali. Allohuakbar, totalitas tanpa batas.

Pun, dalam ketidaksengajaan bertukar cerita dan berbagi sejujur-jujurnya sebagai diriku sendiri pada lain manusia, di situ, aku belajar banyak.

Ketika mengobrol dengan salah satu pemain, Mas Zaki, banyak-banyak sambatku masalah akademik yang kerap berbentur dengan agenda organisasi akhirnya tumpah ruah. Dan betul-betul olehnya diingatkan bahwa idealis sok-sok bisa menyeimbangkan itu boleh, tapi perlu juga realistis bahwa pada akhirnya kita perlu memiliki kecenderungan untuk menentukan jalan perjuangan yang mana yang perlu diprioritaskan.

Obrolan dengan Sahabat Soeti di kamar mandi juga memberikan banyak gambaran padaku soal banyaknya warna-warni masyarakat yang mungkin aku belum banyak tahu. Rasanya lucu. Jadi lebih tercerahkan, bahwa berada di antara berbagai ragam latar belakang yang berbeda, bisa jadi malah menumbuhkan kepribadian dalam diri untuk lebih memiliki sikap toleransi. Awww, tambah diingatkan, ncen aku kurang adoh le dolan.

Aduhai, ini kalau kutuliskan semua impuls yang dibagi oleh tiap pribadi rasanya banyak sekali, tapi ya memang banyak sekali. Tertulis maupun tidak bukanlah pembanding antara yang berkontribusi dengan yang tidak, bahkan sebetulnya si penulis sendirilah yang malah merasa kurang banyak berperan. Meskipun pada kenyataannya, semua orang tetap memiliki perannya, bahkan seorang sahabat pernah menyampaikan, “Bahwa kontribusi terkecil adalah merespon di grup.” Hehe. Jadi, sengaja dan ndak sengaja, banyak hal yang dalam momen singkat memberikan berjuta manfaat. Apalah hamba yang hanya mampu berterima kasih dan berdoa semoga segala perjuangan mendapatkan balasannya.

Sahabat Alya, Femi, Felissa dan kawan-kawan yang sebelum hari ini telah berupaya keras mengumpulkan kreativitas untuk exhibition. Sahabat Ezra dan kawan-kawan yang bersabar mengopyak-opyak seluruh lapisan mahasiswa mengisi bunga rampai satu angkatan untuk antologi. Sahabat Soeti dan kawan-kawan yang bisa-bisanya menyiapkan berbagai keperluan pertunjukan, jauh-jauh dari Bantoel, yaaa walaupun nggak sejauh jarak di antara kita (hmmm). Sahabat Nabila dan kawan-kawan yang luar biasa menyempat-nyempatkan diri menyiapkan properti, gotong-gotong ke sana sini. Sahabat Sasa dan kawan-kawan yang walaupun independen tapi bisa tetap memenuhi segala tanggungjawab. Sahabat Ijol  dan kawan-kawan yang keren sekali menyiapkan kostumnya, selain memesan jahitan, gercep juga menggarap jahitan sendiri, ugh. Sahabat Pelangi dan kawan-kawan yang mbok wis cocok tenan kalau bisa jadi seleb Youtube ngasih tutorial make up-an, haha. Sahabat Tsabita dan kawan-kawan yang luar biasa menyambut dan mengatur posisi sekalian audiens, hehe, jadi pengen ngelamar kalian jadi among tamu resepsiku (nah loh?). Sahabat Tyas yang sudah mau memeras otak demi menemukan gerak tari yang cocok.

Sahabat Nat, Salma, Mas Lingga dan kawan-kawan yang sudah membantu mengucurkan dana-dana tambahan demi keberlangsungan kehidupan. Sahabat Lila, Genji dan kawan-kawan yang oh my Allah desainnya banyak banget tapi dikerjakan begitu cepet. Sahabat Fakhri dan kawan-kawan yang sudah berbaik hati mengamankan kendaraan dan jalannya pertunjukan. Sahabat Ando, Toha dan kawan-kawan yang sudah mematangkan banyak hal demi menghadirkan sentuhan musik dan memastikan keluarnya suara di saat acara. Para sahabat aktor dan aktris (uwadaw) yang membuatku meleleh dengan acting yang super-duper membaperkan. Sahabat Ajeng yang begitu idaman menyusun berbagai keperluan administrasi. Sahabat Dea yang walaupun jadi senat tapi masih bisa mencuri waktu demi mengingatkanku dan kawan-kawan yang lamban ini. Sahabat Ressa yang sepenuh hati membersamai dari pagi sampai besoknya lagi ngompor-ngompori para artis kita. Sahabat Ijah yang harus banyak membagi fokus akademik dan amanah-amanahnya. Pun, Ibunda Ashika yang baru sadar juga kami berdua kalau pernah berada dalam satu almamater SMA, makanya setelah itu sapaanku berganti padanya: ibunda kakak kelas. Pun, lagi, terkhusus untuk Sahabat Sukma, thank you sekali sudah menjadi separuh jiwaku malam tadi. Kita betul-betul saling melengkapi (kok ngeri?). Muehehe.

Lighting women!

Oh iya, terkhusus Sahabat Ressa yang di sesi evaluasi telah berhasil menumpahkan segala gelisah di hati, ada satu kutipan dari seorang tokoh luar biasa, bahwa, “Ketika tetesan air mata telah sampai di akhir perjuangan, itu membuktikan bahwa sudah banyak hal yang kamu lakukan.” Ugh. Terus ada yang tanya, “Siapa e tokoh itu?”

Siapa lagi? Ahimsa W. Swadeshi, muehehe. Nggak ding.

Tapi, serius, bahwa segala hal yang berhasil dilepaskan lewat kelegaan (menangis sebagai contohnya) adalah bukti bahwa sebelum-sebelumnya telah betul-betul kita memberikan kontribusi lewat hati-pikiran-dan-tenaga untuk satu tujuan: malam tadi. Masalah kekurangan untuk evaluasi, pasti ada. Tapi yang terpenting adalah banyaknya pengalaman yang bisa jadi pembalajaran setelah ini. Hihi, kutipan yang betul-betul kutipan dari tokoh yang betul-betul tokoh, Rhenald Kasali, “Setiap langkah yang terasa berat, artinya Anda sedang meningkat. Setiap langkah yang terasa biasa, artinya Anda turun tingkat.” Nah, sahabat-sahabat, selamat meningkat!

Terakhir, pribadi yang masih sedikit kontribusi memohon maaf atas segala salah kata dan salah tingkah. Sampai bertemu dalam momen-momen luar biasa selanjutnya. Barakallahulakum!

Yogyakarta, 11 Ramadhan 1439


CATATAN :
Dokumentasi-dokumentasi tambahan menyusul karena belum ada gambar yang mencapaiku 🙁

KETERANGAN :
Tulisan ini diterbitkan edisi KORAN (Kontemplasi Ramadhan), silahkan menikmati dan menghujaninya dengan tanggapan demi membangun peningkatan 🙂

2 comments on “KORAN 5: Lighting Women

  1. Himsaaa, kenapa ya aku mau netes ngebaca ini :") makasih banyak ya udah jadi lighting women kami! Kalau kamu sangat apresiasi kontribusi orang-orang, jangan remehin kontribusimu sendiri. Tiap kontribusi, mau sekecil apapun itu, matters.

    Omong-omong, play kemarin emang bikin baper sampai aku pun juga sempat bikin refleksi yang kuposkan di blog pribadi hehehe. Duh, baca tulisanmu jadi rindu masa-masa latihan sampai jam 10. Terimakasih ya, sudah diingatkan kembali dengan baiknya. Peluuk <3

  2. Sahabat Femi, sorry for being late in reply. But Im so happy to read your respond :"))) InsyaAllah belajar lagi utk mengapresiasi diri sendiri ben ndak pesimis huehue. Thankyuuuu!!!!!

    I'll see your words soon di blogmu. Pastinya pengalaman yg membaperkan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *