KORAN 6: Sampai Kapan Bersahabat?

Perlu kuakui, belakangan ini adalah minggu-minggu yang menuntutku untuk menjadi super duper produktif secara (agak) terpaksa, muehehe. Kenapa? Karena hari ujian telah tiba, tugas-tugas akhir menumpuk seketika, kegiatan berjudulkan Ramadhan segera menyapa. Syukur alhamdulillah. Kusadari betul, semakin kita terjun ke dalam samudra semakin banyak keajaiban laut kita temui, pun semakin banyak yang kita perbuat insyaAllah semakin tumpah ruah anugrah inspirasi dari Allah yang kita dapati. Meskipun, tetap untukku sendiri perlu diberi catatan: tergantung seberapa baik kita memaknai.

Ada rindu menyeruak.

Kontemplasi dari kisah keenam yang ingin kubagi baru saja terjadi tadi ini. Tepatnya, tepat sekali sebelum ibadah sholat Maghrib di masjid dekat rumah, Beteng Binangun. Kebetulan pijakan sholatku berada di samping seorang perempuan paruh baya yang sudah tidak asing sebab merupakan tetangga, beliau Bu Irfan. Untuk beberapa alasan, ibadahnya perlu disokong oleh kursi, demi membantunya supaya bisa memenuhi gerakan-gerakan sholat. Di sisi beliau yang lain, seorang perempuan tangguh lainnya adalah Mbah Harjo yang juga menjadi jamaah rutin di masjid Beteng Binangun. (Sebelum aku menulis ini, belum kusadari kalau kepada keduanya aku memberikan sapaan yang berbeda walaupun usianya mungkin terbilang beda tipis; bu dan mbah, entah mengapa. Mungkin mencontoh ibu saat menyapa beliau berdua, hehe.)

Baik Bu Irfan maupun Mbah Harjo merupakan jamaah yang secara usia terbaca paling senior sekaligus paling rajin hadir di awal waktu untuk sholat lima waktu. Jarak kedua rumahnya satu sama lain tidak terlalu jauh pun tidak terlalu dekat, tapi aktivitas mereka sangat melekat, sungguh sahabat insyaAllah dunia akhirat. Bu Irfan dan Mbah Harjo, kalau boleh saya bilang, ialah role-model para jamaah yang aktif memakmurkan masjid. Selain dalam ibadah sholatnya, pun dalam majelis-majelis ilmunya. Aku bahkan masih ingat dalam salah satu agenda pengajian saat aku masih duduk di bangku SMP kalau tidak salah, Mbah Harjo mendapatkan penghargaan berupa oleh-oleh “ceret” (kutuliskan setelah menanyakan beberapa teman mengenai bahasa Indonesia-nya dan tidak ada yang tahu) sebagai apresiasi sebab beliau termasuk yang paling aktif walaupun sudah sangat sepuh. Menurutku, memang pas sekali. Hihi.

Dan, hari ini, sebuah anugrah datang dari Allah dan begitu kusyukuri.

Tepat sebelum takbiratul ikhram dilakukan oleh sang imam, suatu adegan diputar di sampingku. Sepersekian detik setelah membenahi posisi duduknya, Bu Irfan mengikuti gerakan hatinya untuk membantu Mbah Harjo menggelarkan sajadah. Beliau perlu sedikit membungkuk dan bergerak menjauh dari kursi duduknya. Aduhai, niat tenan, sungguh momen yang mahal harganya.

Keduanya membuatku berpikir mengenai romantisnya persahabatan.

Aduhai, sepasang sahabat yang tumbuh bersama dan saling mengisi hari-hari tua lewat keromantisan dengan-Mu, kepada keduanya bagaimana mungkin aku tidak cemburu?

Aduhai, sungguh momen yang mencipta cita-cita padaku juga, andai benar diridhoi diriku menginjak usia sampai sedemikian tuanya, semoga mengalami hal yang sama.

Aduhai, kepada banyak sahabat yang menemani di masa sekarang, siapakah yang nanti pada akhirnya masih bisa bersama-sama berjuang?

Allohu, bolehkah? Baik-baik kupahami betul apa dan siapa yang membersamai saat ini. Sudah betulkah kujaga kebersamaan ini untuk keromantisan dengan-Mu? Sudah betulkah kebersamaan kami saling memberikan manfaat satu sama lainnya? Sudah betulkah kehadiranku untuknya mencipta bahagia dan bukan malah duka? Sudah betulkah pandanganku padanya menghadirkan keteduhan dan bukan malah kepedihan? Sudah betulkah ucapanku padanya memberikan rasa hangat dan bukan malah menyayat?

Toh, persahabatan yang ditampilkan oleh Bu Irfan dan Mbah Harjo bukan tiba-tiba atau kebetulan ada. Namun, melalui perjalanan panjang yang sedari dulu (dan mungkin semenjak seusiaku atau sebelumnya) telah diisi oleh kehendak sama-sama ingin berbagi. Mungkin besok, mungkin nanti, setelah banyak hal yang kita isi, ada saat momennya aku menyadari, “Wah, kebersamaan kita sudah setua ini!” Lalu sahabat di hadapanku tersenyum geli.

“Mah ngopo, Hims.”

Yogyakarta, 16 Ramadhan 1439

KETERANGAN:
Tulisan ini diterbitkan edisi KORAN (Kontemplasi Ramadhan), silahkan menikmati dan menghujaninya dengan tanggapan demi membangun peningkatan 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *