Aku suka adegan romantis begini. Saat-saat terbaik bagi rembulan, saat wajahnya bulat purnama dan penuh cahaya, jemari-jemarinya menjelma angin lembut yang melenakan. Sayangnya sekarang, pertemuan kami terhalang atap rumah.

Apa yang akan tertuang kali ini pun tidak kalah romantis. Perihal hati belakangan yang sedang betul-betul terpanggil menelisik jejak-jejak mereka yang telah berjuang di dunia fana lebih dahulu. Bismillahirrohmanirrohim, sedikit gemetar jari-jari tangan mengetik apa yang pada hati berbisik, sedikit pula kurasakan udara dingin pada ujung-ujung kaki yang tidak diselimuti. (Ngomongin perihal ziarah, kayanya memang suasananya begini, hihihi)

“Paaak, Bapak, sedang selo ndak?” tanyaku kepada Babe di suatu siang. “Hehe, kalau boleh, bisa minta tolong diantarkan ke makam Kotagede?” Sudah kuduga, sebagai pecinta wisata rohani apalagi sejarah begini, Babeku pasti menyetujui. Hihihi.

Singkat kata, ada tugas kuliah yang diembankan padaku dan beberapa teman untuk mengulik sebuah mitos di sekitaran Yogyakarta. Dan, kebetulan, kami memilih lokasi pengamatannya di makam raja-raja Mataram yang ada di Kotagede. Hari itu, dari empat anggota kelompokku, hanya sahabat Nabila Nurul Hasyim dan aku yang kebetulan bisa hadir. Aku dibonceng oleh Babe, ditemani oleh si kecil, Dek Sobat.

***

“The premise of The Canterbury Tales is that pilgrims on their way to Thomas à Becket’s tomb at Canterbury divert themselves with the telling of tales,” dituangkan oleh John Peck dalam bukunya ‘A Brief History of English Literature’ (Sejarah singkat Sastra Inggris). Ia menuturkan tentang salah satu karya fenomenal di Middle English Literature, yakni The Canterbury Tales, yang memberikan gambaran mengenai kehidupan sosial masyarakat saat itu.

Mereka senang melakukan ziarah dan saling bertukar berbagai macam cerita pada lain peziarah selama perjalanan. So sweet, bukan?

***

PESAN DALAM ZIARAH
“Kalau mau ziarah ke makam, ada yang perlu diinget,” Babe bertutur di tengah perjalanan mengendarai kendaraan. Kira-kira dilanjutkannya bahwa ada dua hal penting. Pertama, bahwa beliau-beliau yang disemayamkan di sana itu sudah kembali kepada Yang MahaKuasa untuk mempertanggungjawabkan segala yang telah diperbuat, jadi, tiada lagi kemampuan untuk mengurusi apa-apa yang di dunia, apalagi menjawab kita punya pinta. Intinya, di makam tidak perlu minta-minta. Dan, kedua, perlu diingat juga bahwa perjalanan dan perjuangan beliau-beliau sebelumnya perlu kita doakan semoga diterima sebagai amal ibadah di sisi Allah SWT.

Sampai di sana, ternyata kesemua pihak dibebaskan untuk memasuki beberapa area, salah satunya sendang (pemandian). Hanya sayangnya, terkhusus area makam itu sendiri, tidak kesemuanya diberi lampu hijau untuk masuk. Bila mengacu pada peraturan tertulis, bahwa peziarah laki-laki maupun perempuan harus memakai pakaian adat. Dan yang sebetulnya mencipta kecewa adalah bahwa khusus peziarah perempuan harus melepas seluruh penutup kepala, duh, Allohu. Maka ada rasa enggan kemudian untuk melanjutkan. Sampai ketika Babe menyampaikan keinginan pada seorang abdi yang menjaga, ternyata lampu hijau bercahaya: daku diperbolehkan memakai kerudung, dengan tetap memakai baju adat.

Nabila mantap, enggan masuk. Sobat juga ndak, kebetulan (kalau ndak salah) karena uangnya ndak cukup, hehe.

Aku masuk ke area makam bersama Babe, ditemani seorang abdi dalem. Dan… masyaAllah, dag dig dug jantung mengiringi pandangan mata yang terpukau pada jajaran nisan-nisan hitam tua. Ada banyak, jangan suruh daku menghitung saat itu juga. Siapa beliau-beliau yang diistirahatkan di sini? Sebuah pertanyaan yang hadir dengan malu-malu.

Kami melangkah di atas jalan yang telah diberi alas. Tentunya ini mengarahkan pada sebuah tujuan lain, kemana kira-kira? Abdi yang membersamai menuntun kami hingga berhadapan dengan sebuah bangunan seperti rumah. Demi memasuki bangunan itu, selanjutnya kami dipandu oleh abdi yang lain. Di dalam, tidak kalah banyak makam-makam berjajar rapi dengan nisan-nisan yang (nampak sudah diganti) lebih baru. Aku dan Babe digiring menuju sisi barat daya, di sanalah dua tokoh baru diperkenalkan padaku. Meskipun saat berdiri di situ, aku ragu sebab belum sempat menuai cerita dari kedua nama itu.

“Nika Panembahan Senopati kaliyan ingkang mrika Ki Ageng Pemanahan,” abdi menuturkan dan kemudian membiarkan kami berdoa (untuk kedua almarhum).

Aku menunggu Babe, beliau duduk merapatkan dua kakinya dan aku mengikuti. Selanjutnya, beliau berbisik, “Yuk, kita doakan beliau berdua supaya perjuangannya bisa menjadi amal ibadah.” kemudian tangan kami menyesuaikan diri untuk memanjatkan permohonan pada-Nya. Lupa-lupa ingat aku bagaimana Babe menyusun kalimat, tapi yang jelas betul-betul merasuk ke dalam sukma isinya. Aku menjadi demikian bening hatinya memaknai momen ziarah ini. “…semoga perjuangan dan pengorbanan beliau untuk bangsa dan agama menjadi amal jariyah…”

Aku pun mengamini apa-apa yang Babe sampaikan dengan tetap mencerna tiap apa-apa yang berbuah dari lisannya. Diam-diam aku menambahkan doa via batin sendiri kepada Allah SWT, “Ya Rabbi-ku, izinkan aku supaya bisa belajar dari perjalanan dan perjuangan mereka setelah ini.” Hihihi, aamiin, aamiin, aamiin.

SEPULANG BERZIARAH
Setelah ziarah itu, hal pertama yang aku lakukan adalah melanjutkan langkah penugasan: membuat laporan, hehe. Tapi lebih dari yang demikian itu, rasa hausku akan perjalanan hidup  almarhum-almarhum yang kutemui di sana semakin luar biasa mengganggu. Mau tidak mau aku harus memenuhi dahagaku.

Ki Ageng Pemanahan yang ternyata merupakan ayah dari Panembahan Senopati ini ternyata dulu menjalin interaksi baik dengan Sultan Hadiwijaya Pajang, atau Jaka Tingkir. Keduanya merupakan murid Ki Ageng Sela. Lewat Ki Ageng Pemanahan inilah nantinya akan lahir raja-raja Jawa. Dan, betul, selanjutnya Panembahan Senopati atau nama aslinya Sutawijaya menjadi raja pertama Mataram Islam yang kemudian kelanjutannya masih berdiri di tanah Yogyakarta ini sebagai Kraton Ngayogyakarta.

Tidak cukup dahaga itu terpenuhi di sana. Tanpa sengaja menemukan informasi dan sengaja mendalami, ternyata kisah-kisah lain raja-raja Mataram baik yang dulu maupun yang sekarang pun mengundang banyak keterkejutan. Mengenai Mataram yang sejatinya hadiah dari Kerajaan Pajang, mengenai perjanjian Giyanti yang dulu di kelas aku abai memahami, berdirinya Kraton Ngayogyakarta, mengenai kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono IV yang sebentar sekali, mengenai spirit juang Sultan Hamengkubuwono IX, dan sebagainya. Wah, masih sedikit yang kutemui, tapi rasanya banyak sekali.

Semakin hari semakin dicecar hujatan dan pertanyaan, “Apa yang sudah kamu lakukan hari ini?” Sedang sosok-sosok senior saat itu mungkin di usia segini sedang berpikir dan berapi-api menghadirkan solusi atas masalah yang dihadapi, sedang memberikan kontribusi untuk masyarakatnya sendiri, sedang fastabiqul khoirot. Sedangkan aku? Akankah semakin menipis hasrat membasahi diri dengan keringat perjuangan? Akankah semakin lemah keinginan untuk terjun payung menikmati udara perjuangan? (Serius, ini kuketik sambil membayangkan terjun payung beneran-tiba-tiba pengen)

Allohu, memang mengupas jalan hidup senior-senior di atas dan melakukan napak tilas akan menimbulkan impuls-impuls demi meningkatkan semangat yang ganas. Meskipun tetap kembali lagi, apakah setelahnya betul-betul akan dieksekusi?

Satu kutipan, “Seperti dinyatakan filsuf Spanyol, George Santayana (1863-1952), “orang yang tidak bisa belajar dari sejarah akan dikutuk mengulang sejarah itu lagi”.” Dan betapa aku sangat takutnya membaca kalimat itu yang merupakan buah tangan Peter Carey yang diselundupkan oleh Tempo ke dalam buku biografi Hamengku Buwono IX.

Maka, sebelum kututup pintu mengusaikan temu lewat tulisan ini, ijinkan aku merapikan baju dan memakai jasku. Jas merah-ku. Jas merah hadiah pemberian Bung Karno. Jas merah; jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Hehe, salam dari pembelajaran yang tak pernah mengenal waktu.

Yogyakarta, 16-21 Ramadhan 1439

KETERANGAN:
Tulisan ini diterbitkan edisi KORAN (Kontemplasi Ramadhan), silahkan menikmati dan menghujaninya dengan tanggapan demi membangun peningkatan 🙂

Tinggalkan Balasan