“Mbak, aku ki bingung e. Kok tak delok ning langit ki ana jenengku karo jenenge de’e, Mahfud kae lho, ditulis karo malaikat!” (Mbak, aku itu bingung. Masa aku lihat di langit ada namaku dan namanya, itu si Mahfud, ditulis oleh malaikat!)

***

Selasa, 29 Mei di tengah hawa kental puasa alias lapar yang luar biasa, Allah SWT menghadirkan anugrah berupa tanggal merah, hehe. Sekali-kali libur kuliah. Wah, sebetulnya hari itu adalah hari kejepit di tengah-tengah ujian akhir. Jadi timbulah rasa “senang-senang tak tenang”, ada sedikit waktu untuk istirahat dan menyiapkan materi yang belum sempat kudapat di kelas.

Walaupun begitu, sejatinya nggak betul-betul terlaksana juga idealisme liburan itu. Sebab ada agenda yang mengejar untuk dipenuhi. Sebuah rapat kepengurusan acara dijadwalkan mulai pada pukul delapan tet. Eh, ternyata pada waktu tersebut belum banyak yang terjaga-pun aku juga. Huhu, malu. Sekian hari telah berlalu dalam Ramadhan, tapi spirit kebangkitan rasanya belum benar-benar merangsang. Rajin masih ala kadarnya, malas makin menyala pijarnya. Astaghfirulloh. Betapa diri begitu sangat kecewa pada langkah yang sudah tercipta. Tapi bagaimanapun juga, hari itu cukup membuat sebagian waktu terasa produktif tanpa diduga-duga.

Kuliah pada tanggal merah.

Singkat cerita, setelah dimulai dengan sangat ngaret, rapat usai tepat sebelum Adzan Dhuhur tiba. Aku hendak pulang kala itu, seperti biasa, sholat di rumah sebagaimana tugasku. Tapi beberapa detikku ternyata diambil oleh seorang mbak-mbak yang meminta bantuan untuk dibukakan pintu masjid. Walhasil, waktu sudah mepet sekali dengan Dhuhur. Kumantapkan, ya sudah, diminta sholat di sini.

Tidak sengaja pada mbak-mbak tadi aku menatap matanya yang bersamaan berhenti juga di pandanganku. Dag, dig, dug. Sedikit janggal, bukan karena ada bunga bertebaran atau alunan musik yang melenakan. Ini tidak seperti yang Anda sekalian bayangkan. Saya masih waras untuk menata perasaan.

Daku sekadar ragu, kaya pernah liat. Dan beliaulah yang memulainya duluan memecah kesunyian, “Ndak asing ya kayanya. Putrinya Pak Ashad bukan?”

Allohu akbar! “Iya, Mbak! Saya juga ndak asing sama Mbak. Namanya?”

“Husnul,” lalu dijabatnya aku. Sambil kubarengi, “Ahimsa.”

Asyik kami mengobrol, baru basa-basi, hehe. Ternyata beliau aktivis PPNA, wow, nice, good. Luar biasa sekali. “Saya sering ke sini kalau mampir sholat,” katanya.

Tiba-tiba obrolan kami terpotong oleh seorang ibu yang tiba-tiba mendekat. Aku tersenyum me-monggo-kan si ibu ikut duduk. “Mbak, aku ki bingung e,” wajahnya terlihat antusias sekali mengungkapkan gelisahnya. “Kok tak delok ning langit ki ana jenengku karo jenenge de’e, Mahfud kae lho, ditulis karo malaikat!”

Meskipun tidak sedang berkaca, tapi aku yakin sekali keningku berkerut.

Selanjutnya biarlah langsung kuterjemahkan dalam bahasa Indonesia ya. “Aku sudah dilamar sama dia, katanya pengen sama aku. Tapi kakak-kakakku itu lho, malah nyariin dia jodoh yang lain. Masa dia dijodohin sama Wina sama Hilda (ini namanya aku buat ngawur, lupa soalnya, hehe).”

Mbak Husnul sempat melirik padaku yang juga masih bingung. Tapi ia segera mengikuti alur cerita yang ibu itu sampaikan. Dibawanya sambil suatu kali menanyakan, “Ibu rumahnya dimana?”

Diam-diam Mbak Husnul ternyata memperhatikan si ibu lekat-lekat. “Masa aku dibilangin stress sama kakak-kakakku, disuruh pakai cadar, dibawa ke Pakem,” begitu kurang lebih cerita si ibu yang tumpah kemana-mana hingga sulit rasanya kukumpulkan maknanya.

“Mereka nggak suka kalau aku jadi sama dia. Pengennya mereka, aku disingkirin. Kan aku takut, Mbak. Kalau aku diracun, atau malah dibunuh sama mereka gimana?”

What the…? Aku merinding. Kok pembahasannya ngeri.

“Aku sampai udah ngomong ke Sultan, tapi malah sama abdi-abdinya aku dibilang orang stress gitu.”

Ya, setidaknya setelah itu aku jadi paham bahwa pribadi di hadapanku ini sedang dalam kondisi yang tidak baik. Dan, mungkin membutuhkan tempat bercurah. Beruntunglah aku, diberi pengalaman berhadapan dengan momen yang satu ini.

“Terus aku sama dia gimana ya, Mbak? Masa nggak dibolehin kakakku? Tapi di langit ada nama kita lho. Malaikat yang nulis.”

“Nah, kalau sudah berusaha, ya, tinggal sekarang dipasrahin ke Allah, Bu,” seru Mbak Husnul yang menurutku wow sekali di situasi begini bisa mengarahkan pembicaraan ke ini ke hal yang positif. “Kan jodoh nggak ada yang tahu. Kalau Allah mengizinkan, ya bisa aja.”

“Oh, iya tho, Mbak? Allah yang tahu jodohnya ya? Jadi aku bisa sama dia kalau Allah bolehin ya?” lugu sekali pertanyaan-pertanyaan itu turun dari bibir sang ibu yang gemetaran. “Tapi kakak-kakakku itu malah nyariin dia pasangan yang lain…”

Aku sekadar memberanikan diri ikut-ikut bagaimana Mbak Husnul mencoba mengarahkan obrolan, “Percaya aja, Bu, sama yang di atas. Pasti diberi yang terbaik.”

Poin selanjutnya yang juga menjadi arahan positif dari Mbak Husnul adalah, “Iya, Bu, tapi Ibu juga harus yakin kalau keluarga itu pasti mau ngasih yang terbaik buat kita. Jadi kalau Ibu diajak ke rumah sakit atau diminta minum obat itu karena mereka sayang sama kita, bukan karena mereka nggak suka sama kita.”

Aku pun jadi ikut berpikir setelah beliau berkata demikian. Mungkin begitu cara orang-orang seperti ini perlu diajak mengobrol.

“Oh gitu ya, Mbak?”

Dan, tidak lama kemudian sang Ibu pun berpamitan setelah membetulkan kerudungnya yang sekadar ia sampirkan. Ada kalimat lucu yang disampaikannya ketika melakukan itu, “Aku ki Islam tulen lho, Mbak.” Hehe, masyaAllah.

Aku dan Mbak Husnul memperhatikan langkahnya yang segera mencapai motor. Kataku kemudian kepada Mbak Husnul, “Begitu dan masih bisa mengendarai motor, pakai helm lagi. MasyaAllah.”

Lalu kami berdua menyibukkan diri mereka ulang kejadian tersebut sambil memaknai segala sesuatunya. Dan, sejujurnya kala itu, aku seperti sedang berkuliah. Kudengarkan dengan seksama pemaparan pribadi di hadapanku ini yang ternyata merupakan lulusan Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Allohu, pantas saja.

Di awal, sempat Mbak Husnul menahan diri untuk tidak berucap apapun. Pertama karena disangkanya Ibu tadi adalah tetanggaku. Kedua, karena ia sengaja mengambil beberapa waktu untuk memastikan situasi dan kondisi sekitar. Yang ini menurutku keren banget, walaupun ya agak apa banget. Hehe, Mbak Husnul ingin memastikan bahwa sang Ibu tidak berpotensi melakukan kekerasan. Ugh, dari segi persenjataan nggak ada, pun dari segi jarak juga tidak terlalu jauh maupun dekat. Dinilai, aman.

Selanjutnya karena sudah tahu “oh ini tipe yang pengen ngajak cerita, bukan yang berbahaya”, ia pun masuk ke alur pembicaraan yang dibawa oleh sang Ibu. Dibuat suasananya nyaman dulu sambil mencoba memahami sejauh mana si Ibu mengerti tiap kata yang kami sampaikan.

Pun, sebuah catatan yang teramat penting dari segala tetek bengek percakapan tadi adalah “mengarahkan”. Menurutku sih begitu. Aku belajar dari Mbak Husnul kalau jangan sampai kita habiskan waktu mendengarkan tanpa memberi barang sedikit energi positif padanya. Yakinkan dia untuk percaya diri. Dan juga yang nggak kalah penting adalah membangun rasa percayanya pada keluarga. Karena seringnya di banyak kasus, orang-orang begini malah ragu dengan ajakan keluarganya yang berniat menyembuhkan (lewat obat, rumah sakit, rehab, dll). Padahal keluarga adalah yang paling dekat dan paling berpotensi memberikan dukungan padanya. Sehingga, jangan sampai ketika orang-orang di sekitar mulai memberikan cap padanya “orang stress atau sejenisnya”, malah keluarganya urung memberikan support.

Hehe, membicarakan soal ini aku jadi ingat topik di kelas Hyacinth soal “Mental Health” (kesehatan mental). Seorang sahabat, Mbak Fajar, waktu itu di kelas menyampaikan, “Dalam kondisi begini orang-orang sebetulnya sedang membutuhkan yang namanya ‘love’. Bukan sekadar membuat orang lain mencintai kita, melainkan yang paling penting adalah membuat kita mencintai diri kita sendiri.”

Kepercayaan diri. Hihi.

Melihat pada diriku pribadi yang selalu merasa “rendah” dan belum apa-apa ternyata jadinya bisa berbahaya. Iya, mungkin aku banyak kekurangannya. Iya, mungkin di kelas aku banyak ketinggalannya. Tapi, bukan berarti lalu memberikan cap jelek dan buruk pada diri sendiri menjadi sebuah solusi. Malahan, itu perlu jadi gerakan untuk membangkitkan spirit.

Dan bila memang ada rasa sakit, ada kesedihan, ada ketidakmampuan meredakan pasang surut perasaan, penyelesaiannya tidak mesti dipendam. Terkadang malah menjadikannya perasaan diam-diam, ugh, lebih menyakitkan. Orang-orang akan lebih memahami kita saat ada sebuah pengakuan, “Aku sedang merasakan ini.”

Yang namanya kode, kadang susah diraih orang lain. Ingat, nggak semua manusia itu peka. Maka, Sangu Delle dalam TED Talks pernah mengingatkan, “Talk to your friends. Talk to your loved ones. Talk to health professionals. Be vulnerable. Do so with the confidence that you are not alone. Speak up if you’re struggling. Being honest about how we feel does not make us weak; it makes us human.”

Kembali lagi aku diingatkan bahwa setiap proses yang aku jalani ini mesti disyukuri. Ini merupakan kebanggaan selama aku yakin yang aku pijak adalah jalan kebaikan. Semenyedihkan apapun kata orang, walaupun ini sulit tapi aku harus terus bangkit. Sebiasa apapun kata orang, walaupun rasanya ndak ada kerlip-kerlip yang menunjukkan kalau para tokoh besar pernah melewati ini tapi siapa yang tahu besok cerita ini bisa kubagi lewat sebuah biografi?

***

Alhamdulillah. Aduhai, andai dalam tiap kuliah dapat kumaknai kesemua teori sebagai impuls untuk menggugah, pasti baik sekali. Harus kucoba lagi dan lagi untuk mengaitkan segala hafalan dalam buku dan pemahaman dalam diskusi kelas menjadi sebuah refleksi demi mewujudkan aksi-aksi dalam dunia di luar sana.

Bismillah, Allah, mohon ridhoi hamba.

Yogyakarta, 22-29 Ramadhan 1439

Tinggalkan Balasan