Kami sama-sama kebingungan dan buta jalan soal pembahasan cinta-cintaan. Wadidaw. Ketidaktahuan kami akan masa depan membuat maju-mundur-maju-mundur adalah keputusan yang sekarang bisa dijadikan alternatif tidak solutif. Pasalnya, mayoritas keputusan itu hanya hasil ‘godhogan’ hati yang memang sedang berada dalam temperatur tinggi.

Akhirnya, hari ini kami mematikan kompor itu dengan saling bicara: apa sih aslinya yang ada di dalam hatimu? apa sih tuntutan kalbumu? apa sih yang diminta perasaanmu?

Tepat sebelum hangus seluruh isinya, matilah kompornya.

Lalu, kami nyalakan lagi kompor itu—kali ini, secara perlahan: stop, jangan diikuti semua tuntutan hati itu, kamu tidak akan sanggup.

“Aku dulu sempet ngrasa sebel sama kamu, karena …. blablabla …. Kalau boleh jujur ….blablabla.”

“Huweee iyaaaa aku juga pas kamu lagi …. blablabla,” seruku.

“Ya ampun, kok kita baru ngobrolin sekarang sih?! Tahu gitu kan aku bisa ngerti!”

“Iya, aku juga baru paham posisimu sama posisiku sekarang ternyata gini.”

Itu semua adalah momen tersambungnya kesadaran, bahwa duh ternyata ada hal-hal yang sifatnya perasaan sempat membuat kami tidak saling nyaman.

Begitulah akhirnya, sadar tidak berdayanya aku dengan berbagai kemungkinan di dalam kehidupan. Naik turun pasang surutnya emosi rupanya disebabkan oleh sekadar asumsi-asumsi.

Maka nasehatku pada diri sendiri adalah sebagai berikut. Asumsi dan emosi itu, tentukan batasnya. Pegang itu erat-erat. Berdiri di situ. Jadi Swadeshi yang merdeka di sana. Sambil mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi, lantunkan: laa haula wa laa quwwata illaa billah.

“YaAllah, bimbinglah kami!” doakan itu.

Pembelajaran darinya sebagai dosen percintaan, kalau boleh aku ‘sok-sokan merasa’ sudah lulus kuliahnya, “Ada bedanya, Hims, antara kamu cuma suka-sukaan sama orang dan serius beneran menjalin hubungan. Kalau setiap waktu kamu merasa pengen si dia liat kamu selalu sempurna dan baik terus, itu masalah, kamu bakal susah, itu suka-sukaan doang. Tapi kalau serius, ya kalian bakal sama-sama paham kurang lebihnya masing-masing dan bisa saling menerima.”

Hehe, thank you, Bu Dosen. Tapi ingin rasanya kutambahkan. Kan, namanya mahasiswa harus ikut mengembangkan gagasan pengajarnya, bukan menerima semua doktrinnya. Dan, ya jadi inget lantunannya Tulus, “Jangan cintai aku apa adanya, jangan. Tuntutlah sesuatu, biar kita jalan ke depan~” Satu poin tambahan, yakni bahwa kalau kita mantep ‘oke mau bareng’ harus ada visinya ke depan, ada tujuan, ada yang pengen dicapai barengan. Gitoh, haha.

Maaf ya, Sahabat-sahabat, bagi yang membaca dan merasa ini topik yang terlalu dewasa dan masih jauh untuk diraba. But, you know, waktu tidak mau menipu, usia-usia kami penuh godaan untuk dipersinggungkan dengan pembahasan soal ini. Bedanya sama dulu di zaman SMP atau SMA, kita dituntut untuk lebih bisa menempatkan diri, “Harusnya, gimana sih cara terbijak untuk mencintai dan dicintai?”

Kukuhkan hatimu.

Yogyakarta, 20 Jumadil Awal 1440

Tinggalkan Balasan