Waktu itu, kami berdua lagi berusaha menuntaskan paragraf untuk latar belakang proposal skripsi masing-masing. Haha, ngomongin skripsi jadi ketahuan kan usia kuliahku sudah tidak muda lagi.

 

Yah, gitu deh. Aku sama Ijah lagi sampingan di kelas Proposal Writing. Iseng-iseng dia nanyain pendapatku, “Ada yang bilang untuk nulis satu kalimat, kamu butuh membaca satu buku. Menurutmu gimana?”

 

Hmmm. Aku diem. Sambil mikir. Sampai akhirnya mantep bilang, “Aku … nggak setuju.”

 

Sekarang aku ada di masa yang sangat menarik, teman-teman, di mana rasanya hal yang sedikit dan banyak betul-betul terasa yowis ben. Berbicara soal pengalaman, tentu kalau diminta menentukan kita pengen jadi orang yang punya sedikit atau banyak pengalaman, pasti kita automatically nyaut mau jadi yang banyak pengalaman. Yoi, kan! Makanya nggak heran kalau banyak temen yang mondar-mandir ke sana-sini memanjang lebarkan isi curriculum vitae (CV)-nya dengan beragam pengalaman.

 

Aku nggak bilang apakah yang sedikit atau yang banyak salah satunya itu lebih baik atau salah satunya lebih buruk.

 

Barusan dapet kata-kata magis dari buku-nya Mas Fadh Pahdepie, “Hidup ini bukan tentang berapa lama kita menjalaninya, tetapi berapa dalam kita memaknainya.” (hal. 173, buku Muda Berdaya Karya Raya) Kata-kata itu mencubitku banget yang jadi segera tersadar, bahwa sebanyak apapun hal yang udah kita lalui, semuanya itu akan sangat sangat suwangaaaat sia-sia, kalau nggak ada makna yang bisa kita petik dari sana. Sebanyak apapun pengalaman kita, kalau itu nggak bermakna, ya apa lho gunanya?

 

Makanya, pernah kan kita ada di momen yang rasanya itu wah banget, keren banget, pengalaman yang kata orang-orang “sumpah ya aku pengen banget kek kamu”. Tapi sejujurnya kalau kita bener-bener rasain, hati kita tuh nggak klek di momen itu. Rasanya “makna”-nya nggak ada. Sekeren dan sekaya apapun kelihatannya pengalaman itu, ya akan percuma. Atau kalau enggak, hal-hal yang sifatnya kecil dan terasa sangat sederhana, kadang malah memberi kita ruang kebahagiaan yang luasnya tiada terkira. Entah ya, kok bisa ya.

 

Hehe, berangkat dari sana, aku jadi mantep untuk jawab pertanyaan si Ijah di kelas waktu itu. “Banyak dan sedikit¬† bacaan itu bukan yang paling penting menurutku, tapi sejauh mana kita bisa¬† memaknai dan memanfaatkan apa dari yang kita tahu. Kadang baru tahu sedikit, tapi dari yang sedikit itu kita bisa kreatif nentuin mau gimana nyampeinnya. Kadang, ada yang banyak tahunya, banyak infonya, tapi pas harus nulis satu kalimat bingung mau nyampein yang mana.”

 

Gini kali ya hidup (wadidaw), kita akan dilenakan dengan makin banyaknya pengalaman dan pengetahuan yang kadang malah menggoyahkan langkah kita. Kita jadi bingung itu semua buat apa. Kita lupa bahwa hal yang banyak dan tumpah ruah itu harusnya bisa direfleksikan. Ada makna yang harus ditarik untuk menyatukan semuanya. To help us find the real reason why we are here, what life actually is. (yakduh, filosofis sekali, sok paham dikitlah ya soal hidup sambil habis ini jalan lagi nyari pemaknaan hidup lainnya, sapa tau ini kurang tepat, tapi tulis dululah wkwk).

 

Aku nulis ini juga karena terdorong habis ketemu dengan orang-orang luar biasa. Pengalaman mereka mungkin nggak kaya, kalau ditulis di CV ya cuma full di riwayat pendidikan sama biodata. Tapi, aktivitas mereka yang sederhana seperti contohnya jadi pengajar TPA bener-bener membuatku kagum banget. Tulusnya mereka. Kesungguhan mereka. Ada rasa betul-betul “memiliki” pengalaman dari pekerjaan mereka, wah itu sih kaya dan mahal banget! Aseli!

 

MasyaAllah. Tapi, tentu, tidak berharap diriku dan dirimu habis baca ini jadi stop mencari pengalaman-pengalaman baru. Tentu, pengalaman baru itu wajibun, supaya kita bisa lebih baik dari diri kita saat ini. Nah, poin yang utama adalah semampu apa kita kemudian memaknai pengalaman lalu dan pengalaman yang baru-baru. Biar nggak eman. Biar nggak percuma, hehehe.

 

Well, terima kasih Ijah sudah bertanya waktu itu. Terima kasih juga kamu karena sudah membaca.

 

Foto ini sama temen-temen Rumah Dongeng Mentari (RDM). Salah satu yang memberi pengalaman berarti dan bermakna insyaAllah. Hehehe pas ini lagi acara di museumku* loh wkwk, Museum Dewantara Kirti Griya (MDKG).

 

Salam dariku,

Yang harus mencoba belajar lagi soal hidup,

Ternyata hidup lebih dari sekadar itu,

Ahimsa sang manusia pembelajar uwuwu

 

 

 

*Bukan museumku secara literal ya teman-teman, museum yang diamanahkan padaku untuk kubantu hidupkan. Hehehehee