Mari Penasaran dengan Masa Depan!

Satu, dua, tiga! Tujuh belas tahun, Him!
“Hbd”
“Happy birthday”
“Selamat ulang tahun”
“Tambah tuaaa”
“Semoga makin bla bla bla”
Terima kasih teman-teman yang sudah menyempatkan sedikit waktunya untuk mengucapkan ini, aku sangat menghargai dan berterima kasih. Semoga Allah swt membalas kebaikan kalian. Sederhana kok, bukan kewajiban, hanya saja aku berterima kasih.
Setelah sekian kali melalui beberapa kali “tanggal lahir” yang ini agak ganjil rasanya. Muncul harapan penuh diucapi selamat ulang tahun, bermimpi dapat hadiah ataupun surprise, bebas, terlintas bayangan kue ulang tahun, atau barang-barang mungil dan mewah terbungkus kertas kerlap-kerlip, pita juga balon di sana-sini, bisa mengumpulkan uang penuh untuk menraktir teman dengan tumpah ruah. Tidak ada perasaan seperti itu kali ini. Benar-benar menghilang, seolah hari ini sama layaknya yang biasanya.
Mungkin aku merasa begini karena belakangan aku merasa kere, jadi aku tidak nafsu bahkan enggan memikirkan soal surprise dan perayaan. Tetapi betulan deh, aku merasa santai, tidak berlebihan seperti biasanya. Kalau ditanya alasannya aku juga nggak paham hehe.
Sesuatu yang senang berkelana di kepalaku sekarang adalah mengenai masa depan.
“Legal warrr”, begitu kata salah seorang sohibku, Jihan, membahas soal 17 tahun ini.
Legal, didenger kaya apa aja gitu ya. Tetapi menurutku itu mampu menggambarkan sebagian mengenai apa yang akan terjadi di masa depan, tentu saja berbeda dengan sebelumnya. Bukan hanya mengenai KTP maupun SIM, bukan sekedar soal hak suara pemilu, aku bisa merasakannya, ada sesuatu yang berbeda. Mulai sekarang akan semakin banyak pintu-pintu baru di hadapanku yang awalnya cuma dapat dapat kuawang, sekarang mungkin aku telah bisa mengetahui sesuatu di baliknya. Semakin hari, hambatan dan rintangan di hadapanku bukan cuma tentang PR susah – teman nyebelin – guru nyusahin – ortu ngepoin dan sebagainya. Semua ini membuatku penasaran sekaligus sedikit ketakutan.
Malam ini kami sekeluarga (kecuali adikku yang pertama, Juang, yah dia sudah terlelap duluan) menikmati ngangkring di daerah Tamansari. Nikmat sekali. Sederhana dan murah selalu menjadi sahabat baik keluarga ini, hihihi. Menyeduh wedang gledek dan wedang uwuh, wah mantap!
Kata babe, “Ini bukan merayakan lho ya, tapi untuk menyenangkan saja.”
Aku terkekeh.
Sepertinya rasa penasaran mengenai masa depan harus dijawab satu persatu, dan salah satunya akan aku temukan di sini: keluarga. Jadi, sudah kuputuskan akan kubuka lembar baru ini. Target masa depan untuk jadi lebih baik, dengan memulainya lewat membanggakan mereka, kedua orang tuaku.
Babe, ibu, kalian masa depanku. Targetku membanggakan kalian. Sepulang dari malam itu, aku berseru agak keras dari pintu, “Semoga aku jadi anak sholehah ya!”
Aku hanya dengar ibu menyahut dengan ‘aamiin’ penuh bahagia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *