Tulisan kali ini dimulai dengan pertanyaan yang agak ngelawak. Sekilas kalau dipikir, “Halah, jawabannya lak yo jelas, Ahimsa. Ya iyalah, orang masih bisa ngetik lancar jaya nih lho. Buat apa ditanyain?”

Hehe. Entah. Kadang aku menjadi orang yang sangat menyukai pertanyaan. Bukan pertanyaan macam soal ujian nasional yang sudah “pasti” jawabannya, melainkan pertanyaan yang mengajakku berkelana, yang untuk menjawabnya aku harus menarik napas panjang, menghadapkan wajahku ke langit, membiarkan kepalaku berkeliling tamasya ke tempat-tempat terpencil yang tidak tersentuh oleh sekadar tubuh.

“Masih hidup hari ini, Ahimsa?”

Pertanyaan itu tidak ingin kusia-siakan kunjungannya ke rumahku. Apalagi aku tahu dia-lah tamu yang membawa banyak oleh-oleh untukku, si tuan rumah. Maka izinkanlah, kali ini kusambut ia dengan sebaik-baik jawaban.

Meskipun tentu saja, jawabannya sebetulnya bisa apa saja. Namun mengingat tahun-tahun ini adalah tahun yang meresahkan, rasanya aku tetap harus berusaha menemukan jawaban terbaik untuk menuntun langkahku ke depan.

Tahun 2020 lalu, betapa banyak cerita baru dibuka dan cerita lama yang ditutup. Walaupun cerita di dalam hidup kadang tidak bisa kita sederhanakan seperti kantor bank yang buka-tutup. Kadang terbuka hari ini untuk direnggangkan esok hari, atau ditutup hari ini untuk didekatkan esok nanti, atau lebih kompleks lagi. Tidak ada yang tahu, dan aku tidak dalam rangka memprediksi hal-hal yang tidak tentu itu.

Mari bicara soal hari ini. Amanah-amanah menghampiri dan menuntut untuk segera dipenuhi. Sedang di beberapa kondisi, jiwa dan ragaku tidak sepenuhnya siap. Kadang malah tertimpa kelimpungan, keresahan, kelelahan. Apalagi ketika semakin banyak sosok yang mempertanyakan, menyudutkan, melemparkan ujaran, “Kapan? Bisa kan? Udah mau selesai kan?”

Kemudian aku merasa dikejar-kejar banyak hal, diburu-buru untuk cepat, diminta untuk bergegas. Memang rasanya bisa saja kuikuti, kujalani, kulalui. Satu per satu akhirnya bisa juga terlewati. Lantas habis itu harus berurusan dengan hal lain lagi. Menghadapi itu, kadang aku hanya bisa tersenyum menyemangati diri sendiri dan berkata, “Gapapa, gapapa. Bisa, yuk, bisa.” Walaupun kadang semua usaha me-“gapapa”-kan itu terasa palsu. Aku jadi menyerupai mesin. Bekerja, bekerja, bekerja, tanpa tahu buat apa.

Aku masih bisa merasakan napasku. Hembusannya. Suaranya. Paru-paruku yang kembang kempis mengikuti waktu yang terus bergerak. Jantungku yang kurasakan masih jelas berdetak. Semuanya tanpa kupaksa, tanpa kuminta, masih setia untuk bekerja sebaik-baiknya. Membuatku hari ini tetap ada. Tentu ini semua tidak akan mungkin tanpa seizin Yang Maha Mengatur Segala. Untuk itu, alhamdulillah, segala puji bagi-Nya.

Lantas, bila sadar masih hidup…

Untuk apa? Kenapa?

Pertanyaan yang selalu ingin kelemparkan berulang-ulang pada diriku di tiap langkah, di tiap kesempatan. Tidak masalah soal apa yang kulakukan, kapan dan dimana dilakukannya, bagaimana aku melakukannya, asal betul-betul disadari ada alasan baik di baliknya.

Pada suatu hari, seorang kakak senior di dalam suatu organisasi baru saja menawariku sebuah amanah baru, “Gimana? Mau nggak, Hims?” Aku tidak bersegera menjawabnya. Bingung. Tawaran ini sudah menghampiriku beberapa hari lalu, dan kini saatnya aku harus memberi jawaban.

“Makasih, Pak, sebelumnya,” bukan bapak-bapak beneran maksudnya, hehehe, sebab lebih senior jadi kusapa saja demikian. Kataku lagi, “Cuma karena ada beberapa alasan, sepertinya saya belum dulu.”

Lalu, aku menyampaikan beberapa alasan yang jadinya terkesan malah kaya orang curhat, hihihi. Intinya sebenernya bahwa aku belum menemukan alasan yang tepat dan kuat untuk menerima tawaran itu. “Saya lagi merasa kehilangan orientasi, hehehe. Saya bingung mau ngapain dan harus apa. Saya kaya lagi nyari saya tuh siapa. Nggak tahu yaaa, ini kayak bukan saya aja gitu rasanya,” ocehku.

Beruntunglah, lawan bicaraku saat itu begitu sabar dan pengertian. Disimaknya sungguh-sungguh dan ditanyai aku beberapa hal. Katanya, ia bisa memahami apa yang kuresahkan. Lalu, ada saatnya ia bercerita soal apa yang melandasi keputusannya di setiap tindakan, kenapa ia mantap mengambil peran di suatu wadah pergerakan, mengapa ia masih terus mau berjuang. Kira-kira begini tuturannya:

“Aku cuma mikir di setiap jalan yang aku lalui, aku selalu pengen menyingkirkan sampah-sampah yang berserakan, Him. Aku pengen benahin apa yang ada di hadapanku. Kalau ada hal buruk atau hal yang kurang, aku ngerasa ini kayanya emang sengaja aku ditaruh di sini, diperlihatkan hal itu, untuk diminta memperbaikinya.”

Sehingga amanah-amanah yang ia pikul, sebutnya, selalu ia arahkan untuk perbaikan. Ia ingin menjadikan apa yang kurang sesuai yaaa dibenahi, apa yang kurang baik dijadikan lebih baik, apa yang sudah baik dijadikan lebih meningkat lagi. Huhu, sounds very simple yaaa, but interestingly itu cukup kuat untuk mendorong kakak seniorku ini berbuat banyak. Dia lho di kampus aktif banget, di organisasi perannya diharapkan banget, bahkan “tempat main”-nya udah level nasional. Uwuwu, aku sebagai remahan rempeyek sekarang merasa lagi dimakan oleh kata-katanya.

Mungkin bener, kadang kita nggak butuh kalimat yang ndakik-ndakik atau gagasan-gagasan edan untuk sekadar memotivasi diri sendiri supaya mau bergerak. Kita bahkan bisa memulai dari hal-hal sederhana, dari alasan-alasan kecil yang mulia.

Menyoal makna hidup, alasan mengapa hari ini aku masih hidup, sudah sering daku diingatkan oleh pesan-pesan-Nya:

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Ya Rabb. Hanya saja, apalah arti sebuah pesan bila tidak sampai maksudnya pada yang diberi pesan. Apalah arti kata-kata firman-Nya, bila tidak ada upaya seorang hamba untuk meraih maknanya. Maka di saat seperti ini dimana aku kehilangan hilir atas apa yang aku lakukan di dunia, tepat rasanya bila kumulai dari mencari hulunya. Untuk apa? Kenapa?

Menjadi khalifah dan terus beribadah adalah sebuah alasan besar yang setiap manusia dilahirkan untuk memenuhinya. Lalu, bagaimana aku menafsirkannya? Terkhusus untuk diriku sendiri. Sebab tentu, setiap orang memiliki cara terbaiknya masing-masing untuk menjadi khalifah dan melakukan ibadah.

Maka izinkan kuingatkan diriku pribadi bahwa di dalam hidup ini, daku ingin terus menerus “dididik dan mendidik”. Dididik oleh kehidupan dan mendidik kehidupan. Dididik artinya mau belajar. Mendidik artinya mau memberikan manfaat pada sekitar. Insyaallah. Kedua hal itu, “dididik” dan “mendidik” yang dihubungkan oleh kata “dan” terus bisa menjadi pegangan. Mohon doakan.

Salam dan doa terbaik untukmu, dariku yang masih terus menggali makna atas keberadaanku. Uwazekkk. Hihihi.

Jadi, masih hidup kan kamu, Sahabat?

Yogyakarta, 28 Rajab 1442