Pernah dulu diminta Pak Quthub menyarikan sebuah video yang padat isinya di YouTube soal “The Paradox of Choice” ke dalam sebuah tulisan. Menarik sih, salah satu yang dibahas, bahwa makin punya banyak pilihan, orang malah tambah galau jadinya. Aku mengimaninya.

Agak curhat, sekarang aku mulai berkutat dengan tugas akhir perkuliahan. Salah satu yang membikin maju mundur cantik adalah keraguanku terhadap topik dan metode penelitianku. Jujur, belum pernah sama sekali mengerjakan yang demikian secara serius. Sudah terhitung tiga kali membaca sumber yang berbeda dan tergoda untuk mengubah apa yang sudah kutulis panjang lebar.

Aku tahu ini cuma soal pilihan. Tapi memilih tidak sesimpel itu kan? Atau akunya aja yang ribet?


Kalau menurut teori The Paradox of Choice, mengambil keputusan di antara banyak sekali pilihan akan membuat tambah pusying. Di video, si narator bercerita bahwa ia pada satu momen terkesan dengan seorang temannya yang saat mereka masuk ke toko es krim langsung bisa menentukan mau es krim rasa apa. Sedangkan dirinya sendiri harus melihat seluruh menu berulang-ulang sampai akhirnya yang dipilih adalah rasa es krim yang biasa dibelinya.

Gambar es krim jadi pengen es krim beneran 🙁

Kadang kita takut bahwa pilihan yang diambil bukanlah yang terbaik. Kita jadi merasa perlu memahami dan mengenali semua pilihan itu luar dalam, menghabiskan waktu untuk mengamatinya. Lalu, berakhir kebingungan dan saat akhirnya sudah mengambil keputusan, sering kali muncul perasaan tidak tenang bahkan kecewa. “Padahal pilihan yang lain kayanya lebih bagus!” Heuuuu!

Salah satu yang perlu disadari adalah bahwa pilihan apapun itu baik. Kita hanya perlu mengeliminasi pilihan-pilihan itu dan segera putuskan sesuatu. Sesimpel itu. Tentu dengan tetap berusaha menimbang mana yang lebih manfaatnya, mana yang lebih mudharatnya.

Hehe, tentu aku sebagai yang menulis juga garuk-garuk kepala saat ini kalau ditanya bagaimana dengan diriku sendiri. Tapi, semoga dengan menulis ini aku jadi diingatkan kembali. Bismillah, betapa banyak pilihan yang disuguhkan padaku tapi sebagai makhluk yang tidak sempurna, tentu aku tidak bisa memilih semuanya.

Semua pilihan adalah baik. Dengan memilih apapun, hidup kita akan baik-baik saja.

Termasuk soal hati, semoga turut mantap langkahku nanti. Tetap duduk di tempatku berada saat ini atau segera melangkah pergi? Tidak ada yang salah kan untuk apapun keputusanku nanti?

Aku suka bangeeeet dengan kutipan dari Pak Aji, guru Biologi masa SMP, yang sangat uwu, “Jadilah seperti biji kedelai. Dimanapun kamu jatuh, di situlah tempat terbaikmu untuk tumbuh.”

Walaupun itu didebat oleh Ibuku, yang katanya, “Lebih mudah dan lebih nyebar biji rumput apa spora.” Kebetulan Ibu juga lulusan Biologi. Tapi, yah, begitulah. Entah pendapat mana yang dirimu pilih untuk ikuti, yang jelas kedua pendapat ini baik adanya. Pesannya pun sama, hahaha.

Yogyakarta, 16 Jumadil Akhir 1442