Salam dari anak Soshum yang pede banget mau ngomongin soal termostat, hihihi. Santuy, aku dulu kan SMA ambil penjurusan IPA ya jadi pahamlah dikit-dikit. Wakakak, semoga ya.

 

Tapi sebelum ke sana, izinkan aku bercerita.

 

 

Waktu lagi nonton sebuah drama korea sekeluarga, ada beberapa adegan nggak memahamkan yang membuatku nanya-nanya terus. Babeku melempar kata-kata, yang mungkin aslinya nggak ada yang salah, begini, “Kamu kalah tuh sama adekmu pinternya.”

 

Yah, sebenernya itu sederhana ya. Aku tahu Babeku juga aslinya bukan pribadi yang suka banding-bandingin anaknya. Tapi tiba-tiba aja pas emang aku lagi mood buruk dan dapat lemparan kata-kata itu, aku jadi langsung syok terhujam dan mbrambangi dong. Nggak ngerti sarafku kok kerjanya cepet banget untuk kemudian merangsang semua ingatan soal kegagalan-kegagalan dan kekecewaan-kekecewaan yang akhirnya bahkan sampai semalaman masih menghantuiku hari itu. Soal aku yang emang secara akademik nggak terlalu menonjol kaya adik-adikku, soal banyak gagalku di berbagai kompetisi, soal apapun. Yah, memang kadang aku sampai se-“baper” itu, saudara-saudara.

 

Muehehe, agak malu ya membocorkan aib sendiri. Tapi, begini, sebagai self-reminder yang semoga bermanfaat juga bagi teman-teman, aku akhirnya mencoba menuliskan ini.

 

 

Betapa pentingnya kita untuk betul-betul berusaha memiliki diri kita sendiri.

Maksudnye?

 

Rhenald Kasali pernah berbagi rasa heran lewat bukunya berjudul Self-Driving. Waktu itu beliau menyampaikan pemberitaan mengenai seorang magister lulusan universitas terkemuka yang sempat berusaha mengusulkan agar pasal mengenai larangan bunuh diri dilegalkam. Sebab saat itu ia sedang mengalami depresi. Huehue, harus diakui kan bahwa itu bukan fenomena yang langka sebenarnya? Hehe. Bahkan satu dua temanku pun juga ada yang sempat berpikir mau mencobanya, meski tidak pernah betul-betul melakukannya. Untungnya.

 

Sekali lagi, memang penting bagi kita untuk memberanikan diri ‘memiliki‘ diri kita sendiri.

 

Anggota tubuh ini memang ada bersama kita saat ini. Kepala, tangan, perut, dan kaki. Saat kita membaca di layar ponsel ini, jemari kita bersama kita. Saat kita berkedip hari ini, mata kita bersama kita. Saat kita bernapas hari ini, hidung kita bersama kita. Tapi apakah betul diri kita sedang kita miliki saat ini? Apakah diri kita ada di bawah kontrol kita sendiri saat ini?

 

Itulah mengapa, Rhenald Kasali betul-betul bersemangat sekali mengajak kita untuk mengambil kontrol atau kemudi atas diri kita sendiri. Jangan sampai terpengaruh, jangan mudah tergantung. Kita memang bersama-sama hidup di dunia ini, tapi kita punya hidup sendiri-sendiri.

 

Beliau menggambarkannya lewat sebuah ilustrasi ringan. Kalau kita terbiasa menjadi seorang penumpang, tentu pastinya enak tinggal menunggu di atas kendaraan dan mikirnya akan sampai dengan aman. Tidak perlu gusar merasakan langsung macetnya jalan, menyebalkannya para pengendara yang kebut-kebutan, dan mungkin sesekali malah kita yang kena semprot pengemudi lain. Tetapi, sayang sekali, ketika kita hanya memilih sebagai penumpang, yang duduk cantik anteng di atas kendaraan kita sendiri namun memilih memasrahkan kemudinya pada orang lain. Pertama, kita cuma bisa ikut dibawa kemana. Entah salah atau benar, entah tersesat atau sampai, kita ngikut saja. Kedua, kita kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi pengalaman-pengalaman selama di jalan.

 

Itulah mengapa, menjadi driver bagi diri kita sendiri lebih baik daripada menjadi sekadar passenger. Kita yang menentukan arah dan laju kendaraannya. Menegangkan, tapi menggairahkan bukan?

 

Mengenai termostat, kukutip dari perkataan Jim Kwik di sebuah video yutub, ia menasehati, “Jadilah termostat, bukan termometer!” Yang apa maksudnya?

 

Sebagaimana yang kita tahu, kalau termometer adalah alat pengukur suhu. Termometer mencoba mengukur dan menyesuaikan lingkungan. Ia mengikuti keadaan di sekelilingnya. Sedangkan, termostat menjadi alat yang bisa mengontrol suhu ruangan tersebut. Ia yang membentuk keadaan di sekelilingnya. Dalam kata lain, termometer merupakan alat yang pasif, sedangkan termostat merupakan alat aktif.

 

Maka, jadilah termostat! Dimana kita bukan yang malah dipengaruhi kondisi sekeliling, tapi mengarahkan keadaan sekeliling. Bodo amat kamu mengalami hari yang buruk, orang-orang menghina dan meremehkanmu, kamu merasa gagal sekalipun, kalau kamu sebuah termostat, kamu akan tahu bagaimana tetap menjaga kondisinya agar tetap baik. Kamu tahu bagaimana mengambil kontrol atas dirimu. Kamu tahu bagaimana memiliki dirimu sendiri.

 

Salam termostat,

Ahimsoul

 

Yogyakarta, 2 Sya’ban 1441