Menembus Batas Sok-sokan (Notes on 15 Shafar 1439)

Catatan hari Sabtu, 15 Shafar 1439

DADAKAN
Sebal dengan kata itu. Dadakan. Soal tugas dan tanggungjawab, sering sekali, atau bahkan nyaris selalu senang bersandaing dengan kata “dadakan”. Sepagi ini pun begitu. Makalah untuk acara Raker dan Upgrading SMA Muhammadiyah 2 nanti malam, malah kugarap baru mulai jam 8 atau 9-an. Masya Allah. Bismillah, tidak lagi, tampar aku bila terkapar!

BERTEMU SENIOR
Aku suka menyebut beberapa orang “mas-mas” dengan “bapak”. Ini juga, beliau, Pak Aufar. Dulu ketua bidang Advokasi PD IPM, tapi sebab beberapa alasan yang mengharuskan dia akhirnya meraih jalan juang barunya : membangun kampung literasi. Tidak salah menurutku. Kita tidak berseberangan, kita tetap sejalan, namun beda kendaraan. Hehe.

Sengaja dorongan untuk menyampaikan keluhan kuputuskan hari itu. Sudah penat dan merasa butuh tempat curhat. Ini masalah penguatan niat. Kupilih beliau, eh dia, sebab merasa kalah dalam memiliki mental kuat.

Pak Aufar punya banyak masalah. Tapi nggak pernah mau nyerah. Dia tahu bangun kampungnya yang begitu susah, tapi nyatanya selalu gumregah. Aku yang terlalu sok-sokan. Baru diuji mentalnya dengan becandaan, udah mau angkat tangan? Iyuh tenan.

Katanya, “Fastabiqul khoirot, Him!”

“Gini, kamu harus bisa ngelakuin 3 hal dulu, baru setelahnya kamu boleh nyuruh orang lain. Ben ora ming ngomong,” tambahnya.

Terlalu banyak amanah yang membuat jerah. Pengen dilepas cuma karena alasan nggak jelas. Payah banget sumpah. So, gaspolkan. Jazakallah, Bapak Aufar.

KALIURANG
Ada di boncengan jadi merasa nggak enakan. Barokah Allah semoga padamu, Nabila, Ririn, yang sangat membaperkan membersamai pada sebuah kesempatan. Kadang di momen begini, aku lebih merasa tidak ada guna hidup bila menyusahkan.

Waktu itu hujan deras kami rela-relakan menuju Upgrading dan Raker SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta yang lokasinya cukup tidak jelas. Mana google map begitu membuat gigit jari untuk diajak berkompromi. Tapi yang namanya hujan, entah mengapa bagiku pribadi itu selalu membaperkan. Terlalu menyimpan kenangan. Meskipun kalau ditanya kenangan apa batinku malah ikut penasaran.

Tapi malam itu aku, Nabila, dan Ririn dibuat terkesan. Hujan deras yang sekejap mengguyur, ketika kami sampai di sisi lain segera lenyap. Seakan jelas dan begitu pas batas antara hujan lebat dengan wilayah yang memberi kami rasa hangat. Masya Allah. Alhamdulillah. Setelahnya lumayan mudah kami membuka layar handphone.

PENYAMPAIAN PESAN
Dalam pematerian ke-IPM-an yang kusampaikan, semoga tiada celah niat yang salah. Belakangan aku takut sulit membedakan antara “pesan pematerian tersampaikan” dengan “menjadi pemateri idaman”. Oke, nggak tahu deh bedanya apa. Tapi menjadikan poin kedua sebagai sasaran rasanya sebuah kekeliruan besar. Iya. Karena tidak lagi ada peduli dalam diriku untuk menyampaikan pesan kebenaran.

Bismillah ya Allah, mohon ingatkan.

BEBERAPA CATATAN
1. Jangan sok-sokan, garap semua sekarang juga
2. Nggak usah berharap banyak, lillah, lillah, semua karena Allah
3. Mencipta ketulusan di setiap jalin persahabatan
2. Ingat, sedikit ilmu harus dibagi. Tapi ingat juga, kamu bodoh sekali.

Yogyakarta, 16 Shafar 1439

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *