Jalan Pembebasan Seorang Penyakitan

Aku tidak tahu sakit apa yang menyerangku semengerikan ini. Memang tidak meriang, tidak batuk, tidak pilek, tidak pingsan, tidak sembelit, tidak pusing, intinya tidak ada gejala sakit seperti biasanya. Pokoknya aku hanya merasa sakit. Penyakit ini datang tiba-tiba dan membuatku uring-uringan. Gejalanya cuma satu: aku mengalami kesulitan berkata-kata. Bagiku itu adalah penyakit yang parah sekali.

 

Sekarang aku jadi merasa cepat beranjak tua dan mudah lupa. Contohnya saja kemarin saat aku kebetulan berhasil menemui sebuah kata, lalu saat diminta mengeluarkannya di esok hari aku sudah lupa. Kurogoh kantong, ternyata bolong. Kuraba otak, ternyata kosong. Lalu baru beberapa menit menemukan yang baru, dahiku mengernyit lagi–lupa, “Mmm, apa ya tadi?” Aku hanya bisa garuk-garuk kepala sambil nyaris mengumpat–tapi tiba-tiba nggak jadi karena lagi-lagi lupa, “Tadi, aku mau mengumpat soal apa ya?” Hih, gemas kan ya!

 

Aku sudah muak semuak-muaknya dengan penyakit yang tidak ketulungan ini. Jadilah aku berusaha berobat kemana-mana, mulai dari pengobatan fisik hingga konsultasi jiwa. Tapi efeknya tidak seberapa, selama dirawat aku malah jadi boros istirahat dan makin sedikit dapat tempat untuk bertemu kata-kata. Diberi obat juga rasanya sia-sia. Aku jadi lebih gampang tertidur dan menghabiskan waktu dalam mimpi kosong tanpa kata-kata. Mungkin itu efek dariku yang sebetulnya gagal menemukan kata-kata untuk menjelaskan pada dokter maupun psikiater soal apa yang terjadi padaku. Akhirnya pun solusi yang diberikan banyak nggak nyambungnya dengan sakitku sebenarnya–yakni, kesulitan menemukan kata-kata.

 

Hadeeeh, hadeeh!

 

Sudah banyak secara bergantian aku dijenguk oleh kerabat jauh dan dekat. Mereka menunjukkan belas kasihan dan doa-doa, tapi, lihatlah! Ini menyakitkan mengetahui betapa diri mereka sehat sentosa saat unjuk kata-kata di hadapanku berupa ucapan turut berduka dan ungkapan doa semoga lekas sembuh. Aduh, aku juga mau sehat dan pulih seperti mereka! Tapi bagaimana?

 

Hingga suatu saat, aku memberanikan diri untuk menerima undangan seorang teman:

 

Hari itu, 13 April pada Sabtu siang, aku dipertemukan dengan seseorang–dokter pikirku. Namanya Mas Latief S. Nugraha yang tanpa stetoskop dan jas putih melainkan pakaian semrawut dan serba seadanya. Aku datang ke hadapannya dengan keadaan masih sakit-sakitan. Seriusan, keadaanku masih sakit sekali, tapi kupaksakan datang.

 

Di awal perjumpaan ia langsung menyodorkanku obat, padahal aku belum ngapa-ngapain. Ngomong pun tidak. Obat yang diberikannya tidak berupa cairan dalam botol, tidak berupa kapsul atau tablet, tidak yang diwadahi plastik atau alumunium, sebagaimana obat-obat yang mungkin akan kau temui di etalase apotek. Obat itu dibungkusnya dalam bingkai lima lembar kertas ukuran A4 yang ia sebut dari awal sebagai “makalah pematerian” berjudul Mencipta Puisi. Meskipun tidak lantas menyembuhkan, tetapi obat ini cukup menyegarkan. Dalam pikiranku, whoaaa, tumben sekali, ada dokter secerdas ini.

 

 

Lalu, setelahnya aku diberi wejangan.

 

Momen itu sungguh luar biasa. Lumrahnya di lain waktu aku kesulitan berkonsultasi dengan para dokter dan psikiater, tapi pada hari itu di depan orang ini aku mampu mengusaikan semua keluhanku. Kusampaikan, semakin hari ketidakmampuanku dalam berinteraksi dengan kata-kata menjadi makin parah. Bahkan aku telah berusaha mengeluarkan kata-kata panas sekalipun tapi yang keluar hanyalah keringat dingin. Rasanya diriku sakit semua dan linu-linu. Iya sih, kalau badan linu tinggal dipijet. Tapi kalau jiwa, gimana coba mijetnya?

 

Kata dokter Latief yang ternyata penulis, “Lagi mandeg kamu. Aku juga pernah begitu. Semua penulis pasti merasakannya.”

 

Habis itu aku diusir jal. Uh, bukan dari ruangan itu, melainkan dari keberadaanku sekarang.

 

Paragraf berikut ini isinya adalah pesan dia terhadapku. Dia bilang, bisa jadi, ada pergaulan yang memenjarakanku dan membuat aku berada dalam kemandegan. Aku mungkin kehilangan atau bahkan belum punya (dari awal) seorang perawat yang disebut-sebutnya sebagai “partner”. Dia bilang “partner” itu yang berjodoh dan mau bergerak bareng, intinya mencegahku dari sakit-sakit semacam beginian. Ya bukan pacar juga. Tapi yang ada klik-nya, baik teman, keluarga, kenalan, siapapun deh, yang paling tahu dan paham soal kita dan kita juga paham soal dia. Kapanpun mau berkata-kata dia siap mendengarkan, juga kita siap menerima respon, bahkan kadang-kadang siap nggak siap ya nggak masalah. Ketika kata-kata yang lahir secara tiba-tiba meletus, pun tidak masalah, kita sama-sama ngerti. Gitu sih katanya, yang bilang udah punya partner sendiri untuk diskusi soal karya puisinya dan siap sedia untuk saling menghujat bersama. Mendengarnya, aku tidak lantas membenarkan semua yang dia bilang, tapi memang ada beberapa hal yang entah bagaimana bagiku seolah dia jadi super tahu soal aku.

 

Katanya, penting bagi sesosok makhluk hidup untuk punya ruang kecil berupa hubungan intim dengan pribadi-pribadi yang “sangat” nyambung dengan dirinya sendiri. Saling berkeluh kesah, saling menumpahkan rasa, saling membanjiri kata-kata. Mmmm, mungkin memang selama ini aku terlalu enak-enak aja untuk membiarkan semua orang hilir mudik dan bersapa ria dalam dunia sosialku. Tapi, payahnya, aku tidak pandai bersegera memanfaatkan itu demi menemukan satu dua atau berapa yang kita sama-sama menyadari ada klik di situ.

 

“Aku nggak menyalahkan pergaulanmu. Tapi bisa jadi seperti itu.”

 

Ia menegaskan itu. Aku juga tidak bermaksud begitu terhadap diriku sendiri, aku mau sehat tanpa menyalahkan sesuatu. Tapi juga, menegaskan dalam kalbu, ada sebagian diriku yang mengaku kalau selama ini merawat silaturahim belum sepenuhnya bisa kulakukan. Malah lebih sering mondar-mandir nggak jelas sok-sokan berkelana cari obat baru di tempat baru. Padahal sebetulnya obat-obat ada di sekitarku, dan aku hanya perlu istiqomah melakukan perawatan dan sabar menunggu khasiatnya.

 

Biarlah penyakit itu pergi bebas

Aku ingin terlepas

Sehingga kata-kataku tidak lagi kebas

 

Kata-kata, oh, kata-kata. Bila benar aku sudah terlalu jauh main-main dan lupa untuk menjagamu, maafkan ya. Bersama-sama, mari kita bebaskan diri dari penyakit ini. Semoga setelahnya, kita bisa lebih intim merawat satu sama lain.

 

Yogyakarta, 10 Sya’ban 1440

 

*Latief S. Nugraha saat itu diundang sebagai salah satu pembicara di kegiatan Workshop Cipta dan Baca Puisi. Pelaksananya Sanggar Puisi Lincak (FIB UGM), di mana sebetulnya aku memang diamanahi menjadi salah satu orang yang (semoga) ikhlas menggerakkan roda komunitas puisi ini. Ia hidup dan tumbuh di fakultasku, nyaris mati tahun lalu, tapi kebetulan kami bertemu dan kenal dengan beberapa orang-orang yang bermaksud belajar ikhlas juga. Di antaranya kusebut saja Gilang yang akhirnya jadi ketua, Agung dan Dana yang akrab sekali dengan perjalanan puisi, Dita yang selalu cerdas dan berani, Fadia yang walaupun sibuk-sibuk produktifnya masih mau menemani, Syifa yang selalu setia dengan komunitas ini, Guru yang selalu kukagumi karena geregetnya saat melafalkan sajak puisi, Indah yang belum ketemu sih kita tapi semoga segera, dan semua-muanya. Merekalah yang berani untuk duduk penuh keikhlasan di Lincak ini.

 *ditulis sehari sebelum hari pencoblosaan (agak tidak berhubungan ya kegelisahanku dengan keadaan?)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *