Katanya, “Mau berhenti?”

Aku menggeleng cepat. Gila, meninggalkan pekerjaan yang aku suka? Tidak. “Kalau nggak cuti, tapi nggak kerja. Itu jauh lebih gila,” kali ini kalbuku yang berbicara.

Katanya, “Boleh kutanya kalau tidak mengapa?”

Aku mengangguk berat. Ada rasa khawatir pertanyaannya akan semakin memojokkanku. Dia mengambil posisi sangat dekat, pandangan matanya menjerat. Dug, dug, dug.

“Dulu, kenapa kamu bersemangat sekali melakukan pekerjaan itu? Lalu sekarang, bagaimana itu hilang?”

***

Tidak pernah sekalipun kupermohonkan izin cuti menulis. Tidak pernah, tidak terbayangkan malah. Kupikir ini pekerjaan yang membuat diri bisa menumbuh kembangkan jati, laksana lantunan Fourtwnty dalam lagu Zona Nyaman-nya, “Sembilu yang dulu, biarlah berlalu, bekerja bersama hati, kita ini insan bukan seekor sapi.”

Nyatanya berbulan-bulan kudekap perasaan itu, begitu juga sebaliknya. Kami saling menguatkan. Aku menulis untuk membangun kepercayaan antara aku dan kehidupan.

Sampai suatu waktu, ada perjalanan panjang yang kulalui ternyata tanpa sadar menggerus kepercayaan itu sedikit demi sedikit. Satu, dua luka. Dua, tiga, empat, kecewa. Lima, enam amarah. Tujuh, delapan, sembilan rasa lelah. Lalu digenapkan oleh keluhan-keluhan yang tidak pernah jengah.

Aku kemudian takut, pekerjaan menulisku bukan mengasah lagi kepercayaan itu, melainkan menumpulkannya sebab ditempeli rasa-rasa pesimis setiap hari. Efeknya bukan hanya ke diriku. Tapi kepada klien-klien yang harusnya diuntungkan atas pekerjaanku, bisa jadi tertular efek pesimis itu.

Kepada sahabat yang bertanya tadi di awal waktu, kataku, “Karena saat itu aku berani mengakui, ini lho diriku. Sedang saat ini, banyak hal yang mungkin kurang bersesuaian antara hati dan apa yang terjadi, jadilah banyak ketakutan kalau tulisan banyak menjadi bualan. Intinya, aku harus mulai membenahi ini satu persatu.”

Ini merupakan sebuah tantangan besar tentu saja. Bagaimana saat jatuh, bukan saja bisa mengeluh, hingga isi tulisan yang kubuat bukan cuma sambatan dan hujatan yang mencipta peluh. Bagaimana saat diri penuh luka muncul hasrat untuk menyembuhkan tubuh dan jiwa, bahkan bisa ikut berbagi obat pada sesama. Waaa! Itu, sungguh tantangan luar biasa.

Baru daku belajar dari sebuah tulisan. Tulisan mengenai seorang yang tangguh, asmanya Yusuf as, yang dari dulu mungkin sekadar kukagumi karena terang sekali ketampanannya diungkap oleh berbagai kisah. Bahkan ada yang bilang, dari total ketampanan di seluruh dunia, maka setengahnya dianugerahkan Allah swt pada rasul yang satu ini.

Tapi, kali ini, yang aku pelajari bukanlah soal perawakan fisik beliau. Melainkan ketangguhannya melalui hari-hari. Sedari awal kisah mengenai Yusuf as, kita sering disuguhkan cerita bagaimana ia dibuang oleh saudara-saudaranya, disingkirkan dari kehidupan ayahnya, menjadi budak sebuah kabilah lalu dijual pada seorang pejabat, mengalami fitnah-fitnah, masuk penjara, dan sempat dilupakan. Rasanya, betul-betul ngeri dan tidak mengasyikkan. Daripada serentetan kejadian yang dalihku menjadi alasan untuk banyak mengeluh, tentu saja pengalaman Nabi Yusuf as lebih membuat diriku penuh rasa sesak penuh.

Tapi, apakah begitu?

Beliau menatap segala sesuatunya dengan optimis, bahkan saat-saat hidup di penjara mampu ia manfaatkan demi menebar kebaikan. Obrolan-obrolan dengan para penghuni lainnya yang terekam dalam Quran Surah Yusuf mengisahkannya dengan begitu gamblang.

Ia tidak sibuk untuk meratapi masa lalunya, tidak menutup diri dengan bersedih hati atas segala hal yang terjadi. Hidup di penjara nyatanya semakin mengasah imannya. Beliau menuturkan, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS Yusuf : 33)

Aku harusnya belajar banyak. Eh, bukan hanya belajar, tapi juga membuahkan hasil belajar itu ke dalam tindakan yang membuktikan imanku akan ilmu yang kudapatkan.

Semua pengalaman tidak mengenakkan yang datang pada kita bukan meminta untuk dipikirkan lamat-lamat, atau malah diratapi hingga masa depan kita terhambat. Syukuri, nikmati, akui sebagai salah satu penempa yang membuat kita lebih tangguh daripada dulunya. Kembali lagi, teruslah berani menjadi diri sendiri.

Then, mumpung kemarin aku nggak bilang mau cuti. Jadinya, lanjut kerja aja ya.

Salam,
Ahimsa yang punya banyak rasa*

*tidak ada sponsor good day ya,
sekadar mendoakan, “Have a nice day :)”

Tinggalkan Balasan