Aku tidak tahu sejak kapan aku suka menjadi seorang perenung. Aku suka saat-saat berjalan kaki di pagi hari atau mengendarai motor di tengah jalan sendirian. Aku suka menatap langit dan diam cukup lama. Ada banyak hal yang melintas dalam pikiran dan mengajakku berdiskusi di saat-saat itu. Tanpa malu-malu, tanpa ragu, tanpa takut salah, tanpa takut dinilai. Bebas sebebas-bebasnya. Merdeka semerdeka-merdekanya. Aku sangat suka diriku setiap kali melakukannya.

Pikiran yang bebas! Pikiran yang lepas!

Namun, apapun yang terlalu itu memang tidak baik adanya. Termasuk terlalu bebas. Terlalu lepas. Terlalu tercerai-berai. Maka, pikiran juga harus bertanggung jawab. Aktivitas merenung harus dibersamai dengan tujuan yang pasti; merenung untuk apa. Jangan sampai yang awalnya merasa bebas punya pikiran ke sana kemari rupanya malah jadi tidak terkendali dan hanya menimbulkan renungan kosong. Blong. Tidak ada sisanya. Sia-sia adanya.

A true smile of me

Mungkin itu juga yang mendorongku untuk membaca salah satu karya Hamka. Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang telah lama tergolek di rak buku. Sebuah usaha untuk merenung lewat simakan cerita perjalanan dua orang anak adam dan hawa. Terakhir aku melihat cerita ini di layar lebar, kesanku begitu dalam pada sosok Zainuddin yang bisa sedemikian rupa mengubah luka-luka batinnya menjadi penggeraknya dalam berkarya. Sembuh mungkin tidak, tapi ia merasa hidup iya. Mencipta kebermanfaatan apalagi. Aku ingin merenung dan belajar dari ketangguhan anak adam itu.

Aku menulis post ini di museum. Museum Dewantara Kirti Griya. Museum, yang katanya, secara bahasa berarti rumah kerja Ki Hadjar Dewantara. Tempat beliau memproses banyak pikirannya dan menghasilkan karya-karya. Meski sebenarnya beliau melakukan itu semua juga tidak hanya di sini.

Museum yang kutempati saat ini sedang tidak ramai. Pandemi mencuri cukup banyak pengunjung kami. Tapi suasana ini membikin aku punya banyak waktu luang, termasuk untuk akhirnya menulis di blog usang yang telah beberapa minggu kutinggalkan. Aku rindu. Rindu sekali. Bukan jarang aku mengintip blog untuk membuka post baru tapi juga buru-buru menutupnya karena tidak tahu harus menulis apa.

Aku ingin merenung. Itu tadi.

Belakangan aku terbiasa dengan aktivitas sehari-hari yang tiada habis. Memikirkan urusan ini, memikirkan urusan itu. Begitu duniawi. Sebabnya, berulang kali aku harus mengingatkan diri supaya hal-hal itu selalu dilandasi cita-cita surgawi. Hanya saja, memang soal kehilangan ‘momen merenung’ ini kadang membuatku merasa begitu miskin. Entahlah.

Aku belum siap menulis. Aku tidak cukup mampu memasak gagasan sampai matang dan memberikan kelezatan yang cukup lewat kata-kata. Aku seperti ingin merenung dulu.

Mungkin lewat suasana museum yang sepi ini, aku bisa berlatih. Semoga saja. Doakan ya.

Yogyakarta, 15 Muharram 1442