Induk kekhawatiran adalah misteri.
CERITA PERTAMA
Jumat, 29 April 2016

Sebuah cerita yang sejujurnya belum ingin aku sampaikan, bahkan pada kedua orangtuaku sekalipun, padahal ini sangat genting. Tetapi entahlah, aku punya alasan lain untuk itu.

Beberapa saat yang lalu, mungkin sekitar kurang lebih dua minggu, aku sedang disibukkan dengan kegiatan “Open Recruitment Panitia PIN (Pekan Islami Namche)”. Kebetulan karena aku merupakan EO di Rohis, sehingga kegiatan Oprec ini merupakan tanggungjawabku. Hari itu, Jumat, Oprec untuk kelas X sengaja kami adakan di waktu mentoring yang biasanya dilaksanakan di aula sekolah. Aku bersyukur sekali karena ada beberapa temanku yang sukarela meluangkan waktu untuk membantu berbagai hal demi berlangsungnya pendaftaran calon panitia tersebut. Salah satu di antara mereka ialah Fatma, yang juga merupakan kawan sebangkuku di kelas XI IPA 7.
Kami sempat mengerjakan lembar administrasi itu di kelas, di mushola, dan terakhir seingatku di aula. Berpindah-pindah karena situasi dan kondisi yang mendesak. Aku dan beberapa temanku begitu menikmati momen kesibukan itu, hingga tak menyadari bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan baru saja terjadi.

Handphone-ku dimana ya, War?”

Pertanyaan Fatma itu membuatku menoleh dan diam sejenak menunggu rangsangan yang diterima saraf telingaku meneruskannya sampai ke otak. Kemudian sepersekian detik ia berhasil mengalahkan suara bising di aula. “Nggak kamu bawa tadi? Ketinggalan?”

“Aku lupa naruh kayanya,” katanya. “Kalau nggak di sini, ya di mushola tadi.”

“Terus, sudah kamu cari?”

Jawabannya tidak mengenakkan, “Sudah. Nggak ada.”

Eh, hei, tadi dia bilang apa? Mushola? Sungguh? Itu mengingatkanku pada sebuah kejadian lain sebelum semua ini. Hal yang nyaris sama persis. Misteri hilangnya handphone di mushola sekolah.

Ketika itu Rohis Ash-Shaff SMA Negeri 6 Yogyakarta sedang memiliki agenda Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa) untuk kelas X. Semacam kegiatan pesantren kilat tetapi bukan ketika Bulan Ramadhan dan lebih memfokuskan tujuannya pada penguatan ukhuwah dan keimanan siswa-siswi SMA Negeri 6 Yogyakarta khususnya kelas X. Di tengah-tengah padatnya rapat sempat terjadi sebuah kejadian yang masih aku ingat betul bagaimana kronologinya.

Jihan, yang ketika itu menjadi koordinator acara Mabit, sorenya kami melakukan ibadah sholat Ashar bersama di mushola sekolah. Sepertinya sudah sangat sore hingga yang aku lihat di sana hanyalah kami berdua, kecuali teman-teman lain yang sedang rapat di ruang kelas dan tukang yang masih sibuk membenahi renovasi sekolah.

Seusai memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim, selanjutnya kami kembali menuju kelas untuk mengikuti rapat Mabit. Tidak ada masalah dan tidak ada yang mengganjal sampai bisikan itu datang ke telingaku, “War, handphone-ku dimana ya?” begitu Jihan mengungkapkan.

Ekspresiku berubah panik tapi tenang. “Di saku?”

“Mushola, tadi terakhir aku tinggal di mushola,” serunya sambil beralih kembali ke mushola.

Lari-lari kecil kami yang berusaha nampak tenang sepertinya sulit dikontrol. Pada akhirnya sedikit kecewa kami menemukan bahwa ponsel tersebut tidak ada di sana. Jihan tidak memperkenankan aku untuk bertanya kepada teman-teman yang rapat karena ditakutkan akan memecah konsentrasi rapat. Tetapi beberapa teman ada yang memilih membantu mencarikan.

Hingga lewat sore kami mencari-cari ponsel itu, bahkan setelah rapat selesai. Hasilnya pun nihil. Sayangnya tidak ada yang memiliki nomor ponsel Jihan ketika itu. Aku sungguh seolah bisa merasakan bagaimana panik dan khawatirnya ia. Entah takut atau khawatir, tapi semua ini jelas membuat gelisah dan tak tenang.

Lagi-lagi kisah itu terulang pada pengalaman sahabatku yang lain, yang sekarang itu Fatma.

Bagaimana tidak membuat resah?

Salah satu hal yang membuatku iri sekaligus terharu adalah mereka masih bisa terlihat tenang bahkan dengan aksen (serta cara berbeda) mengatakan hal serupa: kalau nggak ada, nggak masalah, nggak apa, aku ikhlas. Kalimat yang tidak semua orang bisa mengungkapkannya bukan? Yang membuat mereka gusar hanyalah, “Aku cuma bingung cara ngomongnya ke orang tua.”

Kedua pengalaman sohib tegar ini memberiku pelajaran untuk menghadikan sikap ikhlas untuk apapun. Kalau soal kemana kedua handphone itu, benar sih kita semua penasaran.

Apakah sekolah yang salah karena sistem keamanannya kurang?
Apakah pihak takmir salah karena ponsel itu hilang di mushola?
Apakah kedua temanku itu salah karena tidak menjaga barangnya dengan lebih baik?
Apakah tukang atau salah satu peserta rapat bisa jadi kandidat tersangka?

Tapi biarlah itu menjadi urusan Tuhan, asal di hati sudah meraih rasa ikhlas kenapa harus jadi beban pikiran? Karena sebuah pengalaman adalah pembelajaran bagi semua pihak, maka kesalahan ini adalah proses untuk memperbaiki diri. Benar? Siapa tahu ini adalah jalan untuk menguji teman-temanku?

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahman : 13)

CERITA KEDUA
Senin, 2 Mei 2016
Hari dimana aku menulis cerita pertama tadi adalah waktu aku mendapatkan sebuah pengalaman mencengangkan. Jumat, 29 April 2016.
Hari itu seusai dhuhur aku sedang membuat lembar presensi untuk kegiatan Oprec “Nasyid Akhwat SMAN 6 Yogyakarta” 2016 yang akan dilaksanakan sekitar pukul 13.00 WIB nanti. Menyadari waktuku tidak lama lagi, aku segera buru-buru menyusul teman-teman peserta Oprec yang telah bersiap di ruang Ava 1 ketika itu. Kubereskan seluruh barang-barangku yang tersebar di mushola.
Sampai di sana acaranya ternyata telah dibuka dengan Mbak Nisa dan Mbak Refi sebagai master of ceremony-nya. Kami melalui kegiatan tersebut dengan begitu menyenangkan, terpukau melihat bakat dan kemampuan teman-teman dalam bermusik.
Sekitar pukul 14.30 WIB kegiatan tersebut selesai. Aku bersama sohib tanpa batasku, Fatma, langsung menuju ke acara ulang tahun teman kelas kami hari itu, Dinar. Betapa ramai dan hebohnya anak-anak ketika menikmati sajian di acara tersebut. Kalau yang namanya foto-foto mah sudah jadi andalan di setiap momen. Menyenangkan sekali sekaligus gila sekali mereka!
Di tengah ributnya acara tersebut, aku merogoh saku rok dan mencari-cari ponselku. Sepertinya ada di tas, jadi kemudian aku mencarinya di saku tasku. Tidak ada. Lha, dimana? Panik, panik, tapi tidak sampai histeris untungnya. Aku pinjam handphone temanku untuk mengebelnya, tetapi tidak dijawab. Wah, membuat khawatir saja. Berbagai hipotesis tiba-tiba tersusun mendetail dan terstruktur dalam kerangka otakku. Tetapi tidak ada satupun yang aku yakini.
Handphone-ku dimana eh?”
Jadilah aku tamu yang telat datang dan cepat pulang kala itu (untuk bagian ini, maafkan aku Dinar). Fatma setia menemaniku kembali ke sekolah. Kami rela berputar-putar kembali ke Ava 1, ke mushola, menuju kelas, melapor kepada Waka Humas, bertanya pada Pak Satpam, berhenti di masjid sejenak mengeluarkan seluruh isi tasku. Tapi percuma, tidak ada tanda-tanda keberadaan ponselku. (Terima kasih Fatma, untuk bagian ini aku sangat terharu).
Sudah banyak waktu aku habiskan untuk mencari handphone itu.
Benar-benar di titik tersebut aku bisa mengingat dan dengan jelas membaca perasaan baik Jihan maupun Fatma ketika panik mencari handphone-nya. Betul dan tepat sekali apa yang mereka rasakan. Aku bisa mempercayai bahwa dalam hatiku ada benih keikhlasan yang menunggu untuk ditumbuhkan. Tetapi entah bagaimana aku merasa ia kesulitan tumbuh.
Sebuah cerita selipan.
Sebelum ini ketika handphone Fatma hilang, hari setelahnya ponselku pun mengalami masalah dan tidak mau hidup. Aku benar-benar kesal tetapi ya sudah mau bagaimana. Hingga ketika babeku mengetahuinya, ia menawarkan untuk memberiku ponsel baru. Meskipun agak tidak enak (karena yang aku tahu keuangan keluargaku memang sedang tidak sehat), tapi aku mengiyakan (jujur, ini tidak enak). Kemudian beberapa hari setelahnya babe memberikanku ponsel baru (tidak mahal tetapi spesial, untuk bagian ini, aku sangat berterimakasih Babe).
Nah, rasa tidak nyamanku menghambat tumbuhnya rasa ikhlas tersebut.
Jika hanya masalah hilangnya ponsel aku takkan terlalu mempermasalahkannya. Tetapi, jika mengingat dari mana aku mendapatkannya sepertinya “perasaan ikhlas” menjadi terasa jahat. Orang tuaku pasti mengusahakan sekali untuk setiap pengeluaran untuk kehidupanku. Jadi aku pikir telah memahami perasaan Jihan dan Fatma ketika merasa tidak enak pada kedua orangtuanya.
Sepulang dari sekolah, tanpa membawa ponsel aku langsung melakukan aktivitas soreku seperti biasa. Bekerja di toko buku Shopping dan membeli tempura untuk usaha dana majalah sekolah. Jujur saja pikiranku benar-benar berat saat itu.
Sampai di rumah aku memilih untuk tidak menceritakannya kepada kedua orangtuaku dahulu sebelum menemukan cara penyampaian yang baik. Kuputuskan untuk hanya menceritakan secara sederhana kepada adikku yang pertama, Juang, meskipun aku tahu dia takkan menggagas banyak masalah itu. Tetapi cueknya membuatku lebih tenang karena itu artinya kemungkinan kecil untuk ia menceritakannya pada orangtuaku. Bagiku saat itu aku hanya butuh teman cerita.
“Doain ya, biar besok ketemu,” pintaku padanya yang segera diiyakan sambil berseru aamiin lirih.
Malam itu sebab peningnya kepalaku, nyawa bangkit sepertinya enggan berkelana lagi dalam tubuhku. Aku tidur lebih cepat dari biasanya, apalagi memang aku sedang tidak dalam keadaan boleh beribadah sholat. Namun sekitar pukul 20.00 WIB aku digugah oleh suara ibuku yang mengatakan bahwa ada dua orang teman yang mengunjungiku. Aku penasaran.
Nata dan Alma. Ada apa mereka ke sini?
Kemudian Nata menyodorkan handphone-ku yang menjadi jawaban atas pertanyaanku.
“Loh, kok ada di kamu?” aku terkekeh.
“Evinda sama Ero yang masukin ke tasku,” Nata dan Alma juga ikut tertawa. Ternyata ponselku tertinggal di mushola kala tadi siang, karena dipikirnya aku tidak akan kembali maka Evinda memasukkannya ke tas Nata, tetapi ia lupa mengatakannya. Informasi keberadaan handphone-ku baru diungkapkan Evinda di grup Line kami ketika ada yang menanyakan keberadaannya.
Aku bersyukur sekali. Satu hal lagi.
Sebenarnya ponsel itu bisa dikembalikan esok hari, tapi aku benar-benar terharu dengan kedua temanku ini yang rela malam-malam mengantarkannya ke rumahku. Untuk bagian ini, aku berterimakasih.
Kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, yang memberiku hidup hingga saat ini dan mampu menuliskan pengalaman ini, aku berterimakasih. Juga atas kejadian hilangnya handphone-ku sesaat yang memberiku pelajaran atas rasa ikhlas. Mengujiku untuk sabar, itu sangat bermanfaat.
Berkenaan dengan foto paling atas yang telah aku pantaskan untuk menjadi prolog, akan aku sematkan kalimat berikut ini:
Bahwa ketika sesuatu menimbulkan pertanyaan, di sanalah kemudian bisikan membawa pikiran negatif, dan memunculkan kekhawatiran, serta bisa jadi berakhir pada kegelisahan. Tetapi yang bisa melaluinya, itulah orang-orang yang ikhlas.

Tinggalkan Balasan