Momen Percintaan Para Aktivis

http://andihasniar-azzahra.blogspot.co.id/2016/01/cukup-cintai-dalam-diam.html

Aku tidak yakin dan agak ragu ketika menyematkan judul entri seperti itu. Yang benar saja, mengintip area merah muda para aktivis ini merupakan sesuatu yang menarik. Benar bukan?

Untuk sementara ini, aku mungkin belum mendapatkan banyak kacamata untuk mengintip kesemuanya yang menyorot pembahasan ini. Tetapi berbicara soal pengalaman, insya Allah akan dengan senang hati aku kupas beberapa pengetahuanku.

Sekolah Menengah Atas (SMA) ialah masa paling bergengsi yang mungkin bagi kebanyakan orang sepuh merupakan kenangan paling susah terbengkalai. Faktanya, inilah masa terakhir bagi tiap insan untuk mengenyam pendidikan sebagai pelajar sebelum merasakan pahit manisnya kehidupan yang sesungguhnya. Tentu saja di sinilah jiwa-jiwa muda banyak belajar memupuk semangat yang sering kali difokuskan pada agenda nge-event.

Baik di OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), aktif di organisasi keagamaan, maupun komunitas dan ekstrakurikuler di sekolah. Kesemuanya adalah ruang kebebasan yang ditemui bocah-bocah SMA sebagai wahana penyaluran pikiran, waktu, bahkan tenaga. Jarang kan ada anak SMA ditanyai, “Sibuk belajar apa sekarang? Ujian sekolah persiapannya sudah sematang apa?” atau jangan-jangan ini karena kemungkinan besar jawabannya tidak memuaskan, jadi tidak muncul pertanyaan macam begituan. Orang-orang cenderung memilih mengajukan pertanyaan “Sibuk nge-event apa sekarang? Acara ini kabarnya gimana? Persiapannya oke kan?” kepada pelajar SMA. Karena apa? Ya memang karena di ranah inilah para muda-mudi eksis mengekspresikan diri dalam kegiatan sekolah.

Agenda yang menguras waktu senang sekali mengambil alih banyak aktivitas para pelajar. Jadilah pikirannya suntuk mengelola acaranya. Terus bagaimana momen percintaan itu hadir?

Begini nih permainannya, melalui cinlok (cinta lokasi). Aktif dalam kegiatan mempertemukan kita dengan banyak pihak ya, dari angkatan bawah sampai atas, bahkan terkadang sampai mengundang dari yang sangat atas alias para alumni. Pertemuan dalam rapat dan berbagai wujud kerja sama lainnya memberikan ruang lain untuk beberapa teman tidak sengaja disenggol oleh perasaan tertarik, yang pada akhirnya jatuh pada area merah jambu: cinta.

Lagi rapat begitu tiba-tiba si doi mengungkapkan ide buat acara, wah langsung berasa angin berhembus menghamburkan bunga-bunga wewangian. Atau waktu enggak sengaja saling tatap-tatapan ketika berlarian mencari data keperluan, seolah-olah dunia ini cuma milik berdua, padahal jelas lagi ada di fotocopy-an sekolah yang sumpek kepenuhan. Bisa juga ketika sedang bekerja di lapangan, kemudian dipercayai megang HT dan kebetulan si doi ketua acaranya berbisik lirik lewat HT “Semangat ya” langsung deh tentram banget ya hatinya, padahal jelas-jelas ditujukan ke semua anggota kepanitiaan. Di saat ada permasalahan menumpuk mengobrol bersama demi mencari solusi ternyata bisa menjadi jebolan lain dari rasa ketertarikan juga.

Banyak momen unik lain yang mungkin menjadi pengalaman cinta para aktivis.

Tanpa kita sadari, pertemuan semacam itu terus saja bergulir. Berkali-kali terjadi tanpa ada yang berminat untuk menghitung untuk kesekian kalinya (termasuk si penulis di sini juga). Tidak ada kata berhenti, karena cinlok terus bermain di sini. Bahkan meskipun nantinya akan ada cerita-cerita yang berakhir pada “kegagalan” tetap saja plot ini dipakai dari generasi ke generasi. Siapa sekolahnya yang tidak mengalami semacam beginian? Aku yakin jarang ada yang tunjuk tangan (kalaupun ada pasti itu satu-dua, yang sekolahnya homogen berisi perempuan atau laki-laki saja).

Wah, lama-lama jadi sarang biro jodoh ya event sekolahmu.

Anak-anak SMA sebenarnya boleh enggak sih jatuh cinta? Masa nge-event tidak boleh sekalian cari pasangan? Kan sekali gayuh satu-dua pulau terlampaui. Pertanyaan tersebut menurut kalian kontroversial tidak? Mmm bau-baunya iya ya?

Kalau boleh sih boleh (asal tetap berpegang pada kodrat ya, ke lawan jenisnya). Toh, normal kan anak muda jatuh cinta? Ini kan puberty era yang tidak bisa kita langkahi. Tetapi plot cerita yang seolah-olah mengenakan “event” sebagai ajang cari jodoh, kayanya kurang cocok deh. Motifnya saja yang kurang tepat. Cari pasangan, langsung aja ke tempatnya. Apalagi melirik kita nih masih pelajar, seserius itukah menjalani hubungan? Menjadi cerdas perlu dong dalam memilih pasangan. Jangan main muterin semua pihak yang mendekati, jangan-jangan semuanya gagal, kan nggak baik juga.

Kembali lagi deh kita pikirkan: apa alasan kamu ikut kegiatan ini yang manfaatnya benar-benar bisa kamu rasain? Tidak sekerdil jawaban “cari pasangan” yang sama sekali belum kerasa banyak kebaikannya di kita. Jatuh cinta itu normal, tapi santai jangan keburu-buru, bukan prioritas. Anak SMA masih punya kesempatan.

Satu kalimat yang paling aku demen, dari seorang guru gaul di sekolah, nama beliau Ibu Ida. Cocok dan sangat memotivasi untukku pribadi.

Waktu ibu SMA dulu, ibu nggak mau pacaran, soalnya nanti fansnya ibu hilang semua.(*)

Untuk event keren dan sukses, ayo fokus! Semakin kamu punya banyak alasan bermanfaat untuk mengikuti sebuah kegiatan, kenapa enggak? Semoga bermanfaat. Selamat memendam cinta dan mencari yang sejati! Salam aktivis!

 ***

(*) Ini hanya sebagai motivasi ya, bukan maksudnya menyiratkan “setelah SMA harus pacaran”

4 comments on “Momen Percintaan Para Aktivis

  1. Waduuuuh jangan-jangan kamu guruku da:3
    Wahh, aku bahagia banget ini kamu jadi readers setiakuuu
    Mweheheheeee

    Asal motivasi utamane ngevent bukan untuk itu deh qaqa:3
    Kalo pas dapet dari anak event, berarti kebetulan:v

    Iyaaa, iyaaa bismillah^^ aaamiiin yuk cus pelaminan/?
    Allahu akbarrrrr

Tinggalkan Balasan ke Ahimsa W Swadeshi Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *