Museum Affandi: Ziarah dan Napak Tilas Sejarah Affandi

“Beliau melukis seperti orang sedang kelaparan. Kalau merasa lapar, ia mengenyangkan diri dengan melukis,” begitu kira-kira kata pemandu museum yang menemani kami.

Lho? Kami? Ecie, main ke museumnya nggak sendiri. Alhamdulillah, ada yang nemenin. Ini sebetulnya sudah keinginan lama untuk bisa jalan-jalan ke museum sama si adik terkecil, Sobat. Bertahun-tahun ditumbuhkan di Kota Yogyakarta, masa iya nggak tahu banyak soal isinya. Apalagi tempat-tempat yang menyimpan sejarahnya. Malu lah ya? Sayangnya, kemarin liburan sekolah tiba-tiba aja udah selesai. Hehe, tapi … mohon maap nih, aku kan bukan lagi anak sekolah. Sungguh sebuah anugerah, liburan anak kuliah ternyata lebih melimpah! Hoho, walaupun begitu, ini juga bisa berujung masalah: apakah cuma bakal jadi kesia-siaan atau akan membuatku produktif?

Untungnya walaupun Dek Sobat sudah khatam liburan duluan, dia tetap setia menagih janji, “Kapan Mbak ke museumnya?”

Bahkan pas lagi sarapan, “Mbak, kapan?”

Pas pulang sekolah, “Mbak, kapan?”

Pas mau tidur, “Mbak, kapan?”

Pas aku mau pergi, “Mbak, sekarang?”

Haduh, haduh, karena gatel juga telingaku ditagih tiap waktu, pada akhirnya gasssss di tanggal 5 Januari, kami buat awal yang baik di tahun 2019 dengan jalan-jalan berfaedah. Lumayanlah! Alhamdulillah.

Alasan memilih Museum Affandi sebagai museum pertama yang mau dijelajahi adalah karena pemandangan dan letaknya yang menarik. Museum ini ada di tepi barat sungai Gajahwong, indah sekali dipandang. Bentuk bangunannya tidak wajar dalam arti yang baik. Ia berbeda dari museum pada umumnya yang mungkin terkesan ‘tua’ dan ‘membosankan’. Atap-atap merupa pelepah pisang dengan nuansa hijau berada di atas gedung-gedungnya. Betul-betul memikat mata. Sudah kusampaikan ketertarikanku pada bangunan ini kepada siapa saja. Mulai dari keluarga, sahabat Nabila, sahabat Salma, hingga pada akhirnya di sinilah jadinya bersama Dek Sobat aku bisa meraih kesempatan.

Sobat di atas menara tepi sungai Gajahwong (gambar diambil sendiri)

Here you go!

 

[MUSEUM AFFANDI]

Waktu buka : Setiap Hari pukul 09.00 – 16.00 WIB (Hari libur nasional tutup kecuali dengan permintaan khusus)

Alamat : Jl. Laksda Adisucipto 167, Jogjakarta 55281 Indonesia

Telepon/Surel : +62 274 562593 / affandimuseum@yahoo.com

Website : www.affandi.org

Soal harga masuk, aku kok kelewat sembrono tidak memastikan dulu. Aku dan adikku dinilai sebagai wisatawan domestik dan terkena harga Rp 50.000 untuk masuk. Untuk foto, kami juga harus menambah Rp 10.000 sebetulnya, cuma karena dompetku isinya cuma itu 50k doang dan tidak ada lagi yang mungkin kami lakukan, jadilah mohon maaf gambar-gambarnya terbatas yang kami produksi sendiri.

EHHH, by the way … Tunggu dulu, ngomongin Museum Affandi sejak dulu, jangan bilang situ nggak tahu siapa itu Pak Affandi. Hadeeeh, payah banget! Kok sama?! :)) Hehe, sebelum kakiku menapak ke sana, aku juga belum tahu beliau siapa sesungguhnya. Sebuah langkah yang kurang tepat sebetulnya. Andai aku usahakan lebih paham tentang beliau sebelum hadir ke museum, tentu akan ada gambaran untuk selanjutnya bisa mengeruk ilmu lebih banyak soal sosok Pak Affandi ini.

Oke, kukasih tahu deh. Singkat cerita, Pak Affandi adalah seorang pelukis. Muehehe, informatif bukan?

Pelukis tersohor, berpengaruh bagi bangsa, dan yang paling penting di sini: dia masih hidup … dalam karyanya.

Di museum ini, kira-kira ada tiga gedung utama yaitu Galeri I, Galeri II, dan Galeri III. Di Galeri I, kita dihadirkan hasil karya Pak Affandi di tahun-tahun awal hingga akhir-akhir masa hidupnya. Setauku, penyusunan lukisannya diatur secara kronologis, jadi lebih enak untuk napak tilas kehidupan beliau dan keluarganya. Selanjutnya, Galeri II menyuguhkan karya-karya beliau yang diperbolehkan oleh pihak keluarga untuk diperjualbelikan. Kalau njenengan tanya harganya, ugh, mohon undur diri. Ngeriiii! Sesuai dengan karyanya, harganya juga sama indahnya. Selanjutnya nanti di Galeri III, akan ada karya-karya keluarga Pak Affandi. Dari istrinya, anak-anaknya, dan sebagainya. Ternyata, bakat menulis beliau sampai turun ke anak cucunya. Terakhir, kita akan diperbolehkan untuk masuk juga ke sebuah studio lukisan. Di sana, ruang lukis untuk anak cucunya, hehe.

Jadi teman-teman, ternyata nih museum itu aslinya adalah rumah Pak Affandi dulu yang kemudian dibangun untuk menyimpan karya-karya beliau. Oya, plus, aku mau cerita kalau di museum itu terdapat gerobak cukup besar yang sebelumnya menjadi sebuah kamar istirahat. Sekarang, gerobak itu berfungsi sebagai sebuah mushola. Lucu sekali waktu kami merasakan ibadah sholat di sana. Asli aku sudah diundang untuk merebahkan badan kalau bukan karena rasa tidak enak ditunggu oleh pemandu kami. Muehehe.

sebagian foto yang bisa diam-diam diambil (diambil sendiri)

 

[ZIARAH]

Aku nggak terbayang sebelum sampai sini kalau perjalanan ini akan mengajakku juga untuk ziarah. Ziarah yang betul-betul secara harfiah. Ternyata, tokoh yang sejak tadi kita perbincangkan disemayamkan di tempat ini. Di museum ini. Bergetar aku jadinya. Bukan hanya beliau, namun juga istrinya. Makam keduanya ada di antara gedung Galeri I dan II, di mana itulah tempat karya Pak Affandi terpajang.

Ada cerita menarik yang disampaikan oleh pemandu kami. Katanya, Pak Affandi dulu pernah mengamanahkan, “Aku ingin dimakamkan di antara karya-karyaku.” dan jadilah ia berada di antara dua galeri tersebut. Lalu, istrinya berkeinginan untuk dimakamkan di samping makam suaminya. Begitulah jadinya mereka berdua ada di sana. MasyaAllah.

 

[BELAJAR APA?]

Hal paling penting yang nggak boleh dilewatkan adalah ini. Be-la-jar. Ngapain ya aku dateng ke sini? Dapet apa ya? Wajib! Wajib banget untuk dipikirkan dan direnungkan.

Dari sini, jujur, aku belajar banyak tentang semangat beliau untuk terus berkarya di setiap momen. Buktinya, banyak hal di sekeliling Pak Affandi berhasil diabadikannya dalam karya. Itulah mengapa, banyak kalimat di sana yang mengungkapkan, “Affandi tetap hidup … dalam karyanya!” Usaha-usahanya membuahkan karya-karya yang diminati banyak orang rupanya. Aku aja yang nggak tahu sejak awal mengenai beliau. Di tengah jalan-jalan, pemandu kami menceritakan bahwa Pak Affandi punya asisten pribadi bernama Pak Cung, yang juga menjadi supir pribadinya. Pak Cung ini selalu menemaninya berkeliling mencari inspirasi untuk lukisannya. Di dalam Galeri I, terdapat mobil Mitsubishi Gallant tahun 1970 yang merupakan sahabat kerja Pak Cung dalam menbantu Pak Affandi. Widiww, keren ya sampai dikenang se-mobil mobil-nya.

Aku belajar bahwa setiap hal yang ada di dalam hidup selalu bernilai dan akan lebih bernilai ketika kita bisa memaknainya. Juga, tentu akan semakin menambah nilainya ketika pemaknaan kita itu bisa sampai pada orang lain, yang mana salah satu caranya adalah dengan mengabadikannya dalam karya.

INGAT bahwa gambar/lukisan juga berbicara. Perjuangan Pak Affandi di awal perjuangan Indonesia ialah melalui karya-karyanya yang berbicara mengenai fenomena masyarakat. Salah satu karyanya yang mengundang selera ialah tentang orang Indonesia yang dipukuli seorang tentara karena telah menjadi mata-mata Jepang. Beliau juga sempat melukiskan suasana pasar Ngasem saat dulu hanya menjual burung-burung. Juga pemandangan Parangtritis, candi-candi, dsb.

Aku belajar bagaimana menjadikan karya yang kita buat selalu mempunyai tujuan. Bukan hanya untuk kepuasan, tetapi juga memberikan pengaruh kepada orang-orang dan lingkungan. Aku dan karyaku adalah bagian dari peradaban dan sejarah untuk mereka yang ada di masa depan.

tiket kami berdua (diambil sendiri)

Pemaknaan dan perenungan itu kutulis setelah selesai merampungkan jalan-jalan, dimulai pada 5 Januari 2019 pukul 12.41 WIB. Hehe, menurut catatanku. In case, you need to know where I was in that time, ealah.

10 Jumadil Awal 1440

 

Daftar Pustaka:

  1. Selebaran brosur informasi mengenai gedung dan lokasi (dapet dari museum)
  2. Foto-foto yang diberi keterangan ‘diambil dari internet’ didapatkan dari :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *