Pernah nggak menyimpan barang yang begitu berharga?

Sebuah kado pemberian dari seseorang yang sangat istimewa. Pemberian yang sebenarnya akan dikatakan orang lain begitu sederhana dan biasa. Mungkin hanya sebuah pena, surat, kemeja, buku, atau barang lainnya. Tapi bagi kita, yang tahu kalau ada cerita berkesan di baliknya, barang tersebut jadi demikian besar nilainya. Sebab kita tahu bahwa barang itu diberikan oleh seseorang yang sangat spesial.

Ihiiiy, begitulah kiranya koleksi-koleksi museum menjadi berharga. Ia berisikan barang-barang yang sekilas nampak ‘biasa’, sebagaimana barang di rumah kita. Seperti meja, kursi, alat komunikasi, kendaraan, dan sebagainya. Namun karena ada cerita berkesan di baliknya, yakni perannya dalam sejarah, menjadikan barang-barang tersebut begitu berharga. Keberadaannya mengikat banyak orang, termasuk kita, yang hidup di masa sekarang. Tentu kita juga akan menghargai barang-barang tersebut ketika kita ‘sadar’ akan cerita yang melatar belakanginya. Begitulah museum, begitu sayang untuk tidak kita kunjungi dan kita hidupkan.

Indonesia, negara kita tercinta ini, memiliki lebih dari 400 museum yang tersebar di berbagai provinsi. Tentu kita perlu bangga dengan hal itu. Dari Data Statistik Kebudayaan tahun 2019, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menempati urutan keempat sebagai provinsi dengan jumlah museum terbanyak yakni sejumlah 44 museum yang tercatat. Sedangkan yang tergabung dalam Barahmus (Badan Musyawarah Musea) DIY adalah 36 museum. Artinya, sebenarnya terdapat banyak pilihan museum kalau kita ingin berjalan-jalan keliling provinsi ini. Kesemuanya adalah harta kekayaan yang sepatutnya kita jaga dan manfaatkan. Jangan sampai kita teriak-teriak melakukan klaim hanya saat kekayaan tersebut sudah diaku oleh bangsa lain. Aduh, malu sekali!

Fungsi Museum: Kenapa Jadi Tempat Wisata yang Istimewa?

Setidaknya ada dua fungsi museum yang perlu kita ingat, yakni fungsi edukatif dan fungsi rekreatif. Fungsi edukatif artinya museum adalah penyedia tempat pembelajaran. Kita bisa belajar berbagai hal mulai dari sejarah perjuangan, peradaban, kebudayaan, ketokohan, bahkan perkembangan ilmu pengetahuan. Jangan lupa, jenis-jenis museum kan beraneka macam. Museum Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia misalnya, kita bisa belajar perjuangan para perempuan untuk memperoleh hak-haknya. Museum Pleret bisa mendorong kita menelusuri sejarah Mataram Islam. Museum Taman Pintar dan Museum TNI AU Dirgantara Mandala menunjukkan pada kita perkembangan ilmu pengetahuan di bidang sains dan penerbangan. Museum Tani Jawa menjadi tempat yang asik untuk belajar soal pertanian dan bahkan praktik langsung. Museum memorial seperti Museum Jenderal Sudirman atau Museum Dewantara Kirti Griya menjadi tempat yang cocok untuk mengenal tokoh-tokoh bangsa lebih dalam. Juga masih banyak museum lainnya.

Menariknya lagi, pembelajaran di museum tidak akan terkesan pasif, monoton, dan membosankan. Karena museum mempunyai fungsi istimewa satu lagi, yaitu fungsi rekreatif, dimana setiap pengunjung bisa berekreasi dan jalan-jalan seru di museum. Banyak hal disediakan untuk menunjang keseruan selama para pengunjung datang ke museum. Mulai dari tata ruang yang instagramable, fasilitas permainan yang menyenangkan, kegiatan yang unik, serta pemandu yang akan menemani kita berjalan-jalan dan siap kapanpun menceritakan isi museum. Ini mungkin yang membedakan pembelajaran di museum dengan kegiatan belajar mengajar di kelas maupun lewat bacaan buku. Kita diajak untuk melihat secara langsung berbagai koleksi yang ada di museum dan membangun imajinasi sendiri.

Saat ini, museum-museum di DIY sudah hadir untuk menguatkan fungsi edukatif dan rekreatif-nya. Berbagai kegiatan baik yang dilakukan dengan cara luar jaringan (luring) maupun dalam jaringan (daring) diusahakan untuk mendekatkan museum kepada masyarakat. Mulai dari lomba-lomba, game, diskusi, seminar, virtual tour, dan sebagainya dibuka untuk umum. Akan menjadi sayang kalau kita sebagai generasi muda apalagi yang tinggal di provinsi ini malah melewatkan kesempatan yang ada. Padahal museum ini adalah milik kita, harta kita, kekayaan kita.

Untuk Apa Ada Duta Museum?

Generasi muda memang memiliki kelebihan, khususnya dalam energi dan kreativitasnya. Mungkin inilah mengapa banyak ruang yang disediakan bagi para pemudi pemuda untuk berkontribusi dan mengembangkan diri. Tidak terkecuali di museum. Dinas Kebudayaan DIY mengadakan kegiatan Pemilihan Duta Museum DIY setiap dua tahun untuk memilih para pemudi pemuda yang bisa mendorong angka kunjungan museum, khususnya melalui kegiatan promosi.

Seperti apa bayanganmu mengenai duta museum?

Di awal tahun 2020 ini, sebuah kesempatan bagi saya belajar bersama teman-teman dari berbagai latar belakang dengan mengikuti pemilihan ini. Kami melalui beberapa proses seleksi, yakni pengumpulan bekas, wawancara penentuan 36 besar, proyek kelompok membuat bahan promosi museum, wawancara penentuan 10 besar, serta malam puncak pemilihan 3 besar. Tidak bisa dibilang puas dengan apa yang sudah saya usahakan, tetapi tetap penuh syukur atas pengalaman yang didapatkan. Bukan karena tidak berhasil juara, melainkan ada satu momen yang membikin gemas sebenarnya.

Pada saat itu, malam puncak pemilihan 3 besar, saya merasa ndredeg dan payahnya kurang mempersiapkan. Setiap kandidat diajukan pertanyaan yang sama yang bagi saya sama pentingnya untuk dipikirkan setiap kami, “Mengapa perlu ada duta museum?” Rasanya kalau tidak bisa menjawab dengan baik pertanyaan itu, perlu dipertanyakan kemantapannya mengikuti ajang pemilihan ini. Tapi itulah yang terjadi pada saya. Lidahnya kelu. Maka, sekaligus untuk melepas penyesalan di malam itu, terjawablah pertanyaan itu di sini dengan lebih tertata (begitu memang, lebih mudah bagi saya menulis dan berkata-kata, sebab sering bicara malah jadi terbata-bata, meski tetap terus belajar).

Bila tadi di depan kita sudah mantap bahwa museum menyimpan koleksi yang kaya akan nilai dan cerita, maka adanya duta museum diharapkan dapat menjadikan nilai dan cerita tersebut lebih dekat ke masyarakat. Lebih mudah diterima, lebih ramah disampaikan. Ini dilakukan melalui berbagai inovasi kegiatan, seperti promosi melalui media sosial serta acara-acara kreatif dan menyenangkan. Tentu saja pemudi pemuda punya potensi untuk melakukan ini. Sehingga dalam pemilihannya, sependek pengalaman saya dan juga buah obrolan dengan senior duta museum saya dulu, Mbak Ria Putri Palupijati, setidaknya yang diperlukan oleh seorang duta museum adalah kreativitas dan ketangguhan. Ini supaya terus bisa memunculkan ide kreatif demi mendekatkan museum kepada banyak orang. Hihi, jadi bila sahabat-sahabat berkenan mengajukan diri menjadi duta museum, mari kita kumpulkan dua modal tersebut.

Di samping berperan dalam pengembangan promosi museum, setiap pribadi yang mantap menjadi duta museum juga mendapat kesempatan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Pengalaman seru dan jaringan koneksi baru adalah salah satu di antaranya. Apalagi mengingat setiap museum memiliki kekhasan sendiri yang mana bisa digali menyesuaikan potensi diri duta museumnya. Sehingga dengan mengembangkan museum, kita juga sekaligus mengembangkan diri.

Meskipun begitu, dengan atau tanpa mengikuti ajang pemilihan ini pun, semangat duta museum dalam menghidupkan museum mestinya bisa dimiliki oleh siapapun. Setiap kita memiliki peran untuk memanfaatkan, mempelajari, mengembangkan, serta mempromosikan museum. Sebab museum adalah milik kita bersama, yang terikat oleh cerita-cerita di dalam koleksinya.

Yogyakarta, 20 Rabiul Awwal 1442

_____

Tulisan ini adalah bahan untuk mengisi kegiatan Safari Duta Museum pada tanggal 7 November 2020. Supaya kental isi kepala dan supaya cair lidah saat berkata-kata. Kritik dan saran yang membangun begitu diharapkan.

Poster Acara Safari Duta Museum (Live on Instagram @dutamuseumdiy)