Novel Kuntowijoyo yang Tercicip Pertama

Oh my Allah. Jadi ternyata baru sadar, tulisan ini belum kelar tapi terlanjur keluar. Niatnya nanti dulu, karena kemarin tepar. Eh, nggak tahunya mungkin sebab terkantuk-kantuk terketuklah “post” allohu. Kodarullah, ya.

Maka, bismillah pagi ini kuperbarui.

Bukan hanya sebab sering terbaca nama Pakdhe Kuntowijoyo di buku-buku sejarah, melainkan juga dari pemaparan Babe. Beliau tahu banyak atau bisa dibilang senang berguru pada sosok Pakdhe Kunto. Maka sebuah cita-cita lama untuk bisa mengobrol dengan Pakdhe suatu kali. Beberapa buku pemikirannya sebetulnya telah tersedia di depan mata, tapi mengapa, duh Ahimsa, malas gerak menjadi alasan yang menghambat itu cita-cita.

Akhirnya terpenuhilah beberapa waktu lalu ketika habis diusaikannya novel buah tangannya, Pasar. Sampul depan cetakan terbaru bergambar wajah seorang kakek yang nanti akan kita kenal sebagai salah satu tokoh utama dalam cerita, Pak Mantri.

Judul buku : Pasar
Penulis : Kuntowijoyo
Penerbit : Mata Angin
Halaman : 378

Sebagai mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya, khususnya yang mengambil program studi kesusastraan, menjadi sebuah panggilan untuk bisa “setidaknya mencoba” menganalisis karya sastra ini. Hehe. Kemampuan yang belum mumpuni mohon bisa dimaklumi. Sekalian latihan untuk menerapkan ilmu di bangku perkuliahan, bismillah. Kali ini, pribadiku mencoba menganalisis watak tiap-tiap karakter yang ditemui.

Sebelum masuk kepada analisisnya, akan tersuguh beberapa teori klasifikasi karakter dalam sebuah cerita, yakni berdasarkan (1) kepribadian yang dimiliki atau dialami oleh seorang tokoh, (2) sudut pandang seorang pembaca terhadap seorang tokoh cerita. Dalam pengklasifikasian tokoh-tokoh suatu cerita, analisis seseorang dan orang lain bisa berbeda. Tidak ada pernyataan bahwa hanya ada satu jawaban benar, melainkan semua bisa dibenarkan tergantung dengan ketepatan argumen dan sudut pandang yang digunakan dalam menilai seorang tokoh.

KLASIFIKASI KARAKTER, berdasarkan :

(1) Kepribadian yang dimiliki atau dialami tokoh

  • Static character (Karakter Statis) : a character who never get personality changing in a whole of story (seorang tokoh yang tidak mengalami perubahan kepribadian dalam keseluruhan cerita).
  • Dynamic character (Karakter Dinamis) : a character who undergoes personality changing after facing an accident or moment or event which influences him/her (seorang tokoh yang mengalami perubahan kepribadian setelah menghadapi sebuah kejadian yang mempengaruhi karakternya).

(2) Sudut pandang pembaca

  • Flat character : a character who has simple personality so that the reader can critize she/he easily (seorang tokoh yang memiliki watak sederhana sehingga mudah dinilai oleh pembaca). Misalnya tokoh pedagang yang galak, warga yang kolot, peri yang baik, musang yang jahat, dan sebagainya dikisahkan begitu gamblang. Tokoh-tokoh ini biasanya selalu ada di buku dongeng anak-anak.
  • Round character : a character who has complex personality so that the reader sometimes feels difficult to decide the personality of this character (seorang tokoh yang memiliki watak kompleks dan sulit ditebak kebenarannya, sebab alur ceritanya pun tidak sederhana). Tokoh ini tidak akan dimunculkan dalam cerita anak-anak sebab kesukarannya menentukan watak sang tokoh.

KARAKTER dalam NOVEL PASAR :

  • Mantri Pasar : dynamic character, round character

Mengapa? Sebab terdapat perubahan dalam diri Pak Mantri Pasar sendiri yang awalnya egois dan lebih membela burung-burung daranya daripada kenyamanan pedagang, tetapi pada akhirnya lebih memilih bersikap bijaksana dan merelakan burung-burungnya setelah mengalami banyak masalah (dynamic character). Di awal cerita, pembaca dibuat gemas juga oleh tokoh Pak Mantri yang kesannya menjadi tidak bijak, namun pada akhirnya nasehat-nasehat Pak Mantri ke tokoh Paijo dan cara-cara menyelesaikan masalah kembali menegaskan sosok Pak Mantri yang sesungguhnya (round character).

  • Paijo : dynamic character, flat character

Mengapa? Tokoh Paijo yang awalnya digambarkan sebagai pribadi yang tidak punya prinsip pada akhirnya berhasil memutuskan untuk tetap setia kepada Pak Mantri usai menghadapi masalah-masalah yang menumpuk (dynamic character). Sedari awal cerita dikisahkan bahwa sosok Paijo itu polos.

  • Kasan Ngali : static character, flat character

Mengapa? Intinya sedari awal dia dikisahkan sebagai tokoh yang kaya dan sombong, suka main perempuan, dan tentunya selalu berseberangan dengan Pak Mantri.

  • Siti Zaitun : dynamic character, flat character

Mengapa? Awalnya Siti Zaitun dikisahkan sebagai pribadi yang “sempat” sopan, lalu menjadi berubah sebab ketidakbijakan Pak Mantri dalam pengelolaan pasarnya, dan setelah semua perjalanan itu dia berhasil melihat bahwa Pak Mantri sebetulnya orang yang bijak sehingga ia kembali menghormatinya.

  • Pedagang-pedagang : static character, flat character

Mengapa? Pedagang-pedagang digambarkan senang bersorak-sorai melakukan banyak hal secara beramai-ramai, banyak menuntut, dan sebagainya.

Hehe. Alhamdulillah. Kira-kira begitulah apa yang bisa tersampaikan oleh pribadi yang masih harus banyak belajar lagi. Dan sekali lagi, setiap kita punya analisis sendiri-sendiri, kalau berbeda it’s oke waelah ya, asalkan ada alasan kuat yang mendasarinya. Semangat menggugat pendapat saya! 🙂

Yogyakarta, 24-25 Rabbiul Akhir 1439

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *