November, Hai (Notes on 12 Shafar 1439)

Semoga barokah setiap langkah. Semoga jalan ini menuntunku semakin dekat pada Yang Menciptakan.

SAHABAT BARU
Pagi ini aku buru-buru mem-fotocopy catatan linguistic Ijah, Fithrotul Izzah, sebab kemarin kutinggalkan kelas itu setelah izin mengambil dana beasiswa. Masih sepi di sana. Tapi ndak lama kemudian ada beberapa yang datang, termasuk si dia.

Dia yang akan aku bicarakan ini, sebenarnya sudah beberapa kali kutemui. Nggak kenal sih. Cuma suatu waktu kami bertemu, dia menyapaku dan Ijah. “Halo, Kak!” ramah sekali. Kedua kalinya saat aku sendiri, pun sama. Ketiga kalinya saat aku bersama Dewi Novita, pun sama. Padahal kami ndak kenal. Aku selalu membalas senyumnya dan reflek berseru, “Pagi juga!” yang lalu disenggol Ijah dan Dewi, “Itu siapa?” dan kujawab sambil menggelengkan kepala. Muehehe. Freak? Mungkin begitu sebagian orang akan beranggapan. Padaku tertangkap gambaran : lelaki itu tidak terlihat berteman, sebab selalu nampak sendirian.

Hari ini lagi-lagi di meja fotokopian dia berseru padaku, “Maaf, Kak!” sebab merasa menginterupsi posisi dudukku. Padahal tidak. Selanjutnya dia lebih banyak menunduk. Aku memerhatikan.

Perawakannya besar tapi bukan berarti kekar, malah sebaliknya. Wajahnya putih, matanya sipit. Chinese, simpulku. Berkacamata. Bukan orang yang stylish, dia senang kemeja formal (selama beberapa papasan kuperhatikan). Tidak pemalu, tapi canggung.

Memecah diam, aku berseru, “Mahasiswa baru, Mas?”

Dia menatapku, “Hehe, enggak. Saya semester tujuh. Kakak?”

Uwadawww. Dipanggil ‘kakak’ sama senior, ini pengalaman horor. Kujawab, “Duh, nggak usah ‘Kak’, Mas. Saya maba. Angkatan 2017. Sastra Inggris.”

Lalu berlanjut, “Mas-nya jurusan apa?”

Sastra Jepang, ternyata. Namanya Mas Timoti. Unik ya? Hehe. Asli Jakarta. Di hadapanku sedang mengerjakan skripsinya. Mantap jiwa. Sudah kupastikan dia bukan pemalu. Mungkin lebih pantas disebut takut dan ragu-ragu bila keramahannya terkesan wagu. Uwww.

Lagi-lagi (semoga lillah) akan kucoba, merengkuh yang belum tersentuh, meskipun pribadiku sendiri pun kurang mampu berperan jauh.

TIKET VIP
Alkisah, departemenku sedang menyiapkan acara besar kebanggaan, yakni English Day. Kemarin sempat ramai anak-anak angkatan berburu jadi pemain drama di pentasnya dan menjadi panitia acaranya. Ughhh. Aku pun sempat tergoda, rindu masa SMA yang isinya ngevent nggak ada jeda. Tapi sebab sadar belakangan banyak amanah belum terjamah, akhirnya kuurungkan saja.

Acaranya besok 12 November. Beberapa sahabat lain yang bukan pemain maupun panitia berburu membeli tiketnya. Sedangkan aku? Hehe. Menghitung-hitung biaya bulan ini, telah banyak keluar pengeluaran untuk yang lain, rasanya perlu diundurkan niatnya. Pun aku harus ingat menabung untuk suatu target di depan, jangan sampai terlewatkan. Hehe. Jadi, fix aku ndak beli.

Sepagi ini kelas literature membangkitkan selera kami sebagai mahasiswa untuk bicara di kelas. Melantur barangkali namanya. Sebab Bu Ningrum begitu dermawan membagikan 10 tiket gratis English Day bila mana bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Ughhh. Satu lagi, tiket ini semuanya VIP, di mana sebetulnya yang duduk di bangku situ hanyalah tamu-tamu. Ughhhh. Ada godaan di dalam batinku, maka kucoba mencerna setiap tanya dan mencoba mereka-reka jawaban yang kutahu. Huhu, tapi selalu kalah lebih dulu.

Sampai pada tiket terakhir, ketika sahabat lain berseru, “Yang susah, Bu! Yang susah!” ternyata Bu Ningrum malah begitu baiknya ngendikan, “It is for one who is not the drama player, the commitee, but really want to come.”

Uwadawww, jeda beberapa detik sampai jari-jariku melambung ke atas. Takut lagi-lagi kesempatannya bablas. Bu Ningrum menunjukku, lalu memastikan, “Bukan pemain? Bukan panitia? Loh, kenapa?”

Tidak ribet kujawab. Tidak kupanjang-panjangkan cerita galauku. Tapi kusampaikan, “Karena saya ditakdirkan dapat tiket itu.” sembari mengarahka. jari pada selembar kertas di tangan beliau.

Muehehe. Setelah itu, tanpa adanya pertanyaan susah, secara cuma-cuma Bu Ningrum menghadiahkannya padaku. Aku tersedu. Baper terlalu. Alhamdulillah. Pelajarannya adalah : jangan malu.

DRAMA ANGKATAN
Beberapa waktu telah terkuras untuk latihan pentas. Menjadi pemeran utama sebetulnya membuatku sedih bila sadar belum sepenuhnya mendapat “feeling” dengan karakter ini. Aku harus bisa menampakkan ekspresi bahagia, apa yang harus kubayangkan biar terkesan nyata? Bila sedih dan galau, apa yang harus kubayangkan? Untuk meraih ekspresi sebal mengkal dan muarah, ini paling susah, sebab susah ngerem ketawa, aku harus membayangkan apa? Oke, belajar lagi, hapalin lagi.

Dan to be honest, perlahan aku dihadapkan dengan beberapa pilihan : mempertahankan prinsip atau menyamankan teman. Sometimes, they are not in a same way, I should to choose where side I am. Masalah waktu ibadah dan tuntutan sentuhan dengan yang bukan mahram, itu sih yang kerap menjadi tantangan. Kudu berani mengutarakan.

MUSYCAB IPM NGAMPILAN
Sedikit malu dan merasa bersalah karena setelah banyak kali mondar-mandir di belakang, seorang sababat idaman menyenggol, “Mbak Him, agak tenang sedikit dong. Hehe. Berisik.”

Ughhh. Rasanya malu. Langsung maaf tersuguh padanya. Akhirnya catatan lagi untukku, perlu makin bijak-bijak dalam berlaku sesuai kondisi di momen itu. Juga, satu hal lagi yang aku sesalkan : tidak jadi pendengar yang baik ketika ada pribadi berbicara di depan. Padahal daku sangat paham, respect first to get respect from the others. Astaghfirulloh.

Setelah itu kualihkan hiperaktifku untuk mengerjakan tugas dari komandan IPM Jogja, Pak Nabhan, yakni penyusunan berita kegiatan Musycab. Ditemani seorang sahabat, Rahma Aulia. Sebetulnya lebih susag menyusun tulisan itu berdua. Pikiran beda. Vocab beda. Jatuhnya malah makin lama. Tapi, bukan berarti percuma. Tukar-tukar ide malah membuatku makin sadar banyak yang belum tahu. Misalnya saat kami kebingungan memahami bedanya “prakarsa” dan “rintis” pun sebagainya.

Juga sempat ada celetuk dari Aulia, “Mbak Him biasanya kalau nulis gimana? Apa-apa ditulis. Sepeda aja juga ditulis.”

Aku tertawa. Baru terpikirkan, oh iya ya. Apa-apa ditulis. Hehe. Paling penting adalah terus mengutarakan kejujuran dalam kalbu dan mengerem bila itu ndak perlu.

Huh, bismillah.

Yogyakarta, 12 Shafar 1439

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *