Nuansa Mahasiswa (Notes on 14 Shafar 1439)

Seharian ini perasaanku naik turun. Entah karena faktor biologis yang memang sedang terjadi atau sebab keadaan yang terlalu menjadi-jadi.

Bismillahirrohmanirrohim.
Alhamdulillahirobbil’alamin.
Astaghfirullohal’adzim.

LAGU ENAK
Pagi-pagi disetelin Genji dan Mas Ling lagu enak. Suaranya mungkin nggak, tapi liriknya mbeeeeeh mantap jiwa. Band UNS namanya Fisip Meraung, judulnya “Balen” hehe.

SAFARI MUSHOLA UGM
Ini cita-citaku dan Nabila sejak beberapa minggu lalu. Betul-betul kami inginkan bisa bersafari di mushola-mushola tiap fakultas, hehe. Mencari-cari suasana, menemukan banyak fenomena. Mungkin itu berangkat dari kejadian beberapa waktu lalu kami sholat Ashar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis lalu bertemu dengan Pak Slamet, penjual kripik yang susah-susah menghindari satpam biar bisa masuk ke kampus. Aku dan Nabila ingin lagi bertemu dengan momen begitu.

Sayangnya karena jadwal kami yang tak menentu, dia sibuk menjadi panitia English Day dan aku luntang-lantung memastikan keberesan amanahku, jadilah itu ditunda-tunda.

Sampai Hari Jumat barokah menyisakan kelas yang hanya sebentar. Kami selesai kurang lebih pukul 09.00 WIB sebab hanya ada tes speaking. Hasil tesnya? Kupasrahkan pada-Nya. Bodohnya aku yang kurang persiapan, mana maju pertama tanpa bahan. Huh.

Balik lagi. Akhirnya aku dan Nabila sepakat hari itu menuju mushola FISIPOL UGM. Bareng Rofiqoh juga. Alhamdulillah jamaah kita bertambah, setelah kemarin ngajak yang lain ternyata belum tergugah. Malah ada yang nyeletuk, “Halah paling Ahimsa mau cari imam.” Hehe. Nggak mau mengiyakan, meskipun hati mungkin menyimpan keinginan. Haha. Nah loh.

Oke. Di mana ya musholanya? Wah, itu. Belum tahu. Makanya nyari.

Sampai sana, sholat tahiyatul masjid dan dhuha. Sudah selesai. Enak, mantap jiwa. Tapi cerita nggak berhenti di situ. Hehe. Aku mau menceritakannya, cuma ndak di sini, rada fulgar soalnya. Kebodohan yang hakiki. Biar Allah izinkan aku menyimpan kenangan yang memalukan itu.

Terakhir, kami menuju kantin Fisipol yang kata sahabatku, Atim Ratnawati, enak dan punya menu baru. Hmmmm. Rada lumayan sih secara harga. Tapi ada poin plus lain di kantin yang satu ini. Proses pembayaran tiap stand-nya sangat teratur, begitu terorganisir. Si pembeli bayarnya di tempat kasir utama. Jadi nanti seluruh stand-stand akan mengambil hasil penjualan dari sana. Ughhh. Keren, keren.

DALAM DRAMA ADA DRAMA
Kemarin nggak jadi latihan drama, akhirnya bahas kostum, sebab beberapa pemain berhalangan. Cuma sebentar habis itu semua bubar.

Kira-kira pukul 11.51 saat seorang sahabat hendak ijin sholat, tapi ditahan sebentar. Aku merasa ndak ada guna pula dia di sana, akhirnya kuingatkan masalah jam dan itupun masih ada ketidakrelaan dari sahabat lain. Beruntung setelahnya diijinkan. Alhamdulillah, “beberapa” sholat. Sisanya, aku bertanya, dia jawab sambil bergegas—ndak tahu kemana. Semoga tiada henti rahmat dan hidayah-Nya membasahi jalanmu, sahabat.

Sebagian kami yang perempuan pulang. Aku masih menemani bu sutradara yang sedang makan. Eh, tanpa terencana kita malah banyak bercerita. Ada banyak drama… di dalam persiapan drama.

Aku nggak tahu, mungkin aku kurang peka atau bagaimana. Cuma dari sudut pandangnya, ada banyak perasaan tertekan di antara teman-teman. Bu sutradara cukup idealis, menurutku, pekerja keras juga. Meski kadang ambisius, tapi itu bagus, keren, dan memang perlu orang-orang begitu. Kali itu ditumpahkannya kekesalannya pada beberapa orang yang dia nilai kurang paham masalah kerja beginian.

Duh, maafkan aku, kusampaikan kejujuranku, “Maaf ya, sahabat. Aku itu orangnya terlalu mikir positifnya mulu, hehe. Nggak sejalan jadinya. Kamu bilang dia gini gini, dia gitu gitu, tapi di kepalaku isinya iya nggak papa itu proses belajarnya dia.”

Lalu sebuah kalimat betul-betul menegaskan keterbukaan dirinya, “Iya, nggak papa. Malah kudu begitu jadi ketemu dengan pandangan orang lain juga kan.”

Kemudian lagi-lagi kagum aku padanya yang berinisiatif mengadakan forum terbuka. Wadah bagi mereka—yang belum tersentuh. Aku senang mengetahui ibu sutradara memiliki spirit “merengkuh yang belum tersentuh”. Alhamdulillah, semoga barokah setiap jalan.

Bismillah.

KAMPUS APA INI? (SOAL IMAM)
Cerita ini yang ingin kutumpahkan malam tadi pada seorang sahabat. Tapi kok rasanya panjang. Akan kubuat postingan tersendiri, setelah tugas hari ini terpenuhi.

CURHATAN SEORANG SAHABAT
Aku sedang akan membalas pesan di handphone ketika sahabatku mengalihkan perhatian berkata ingin menumpahkan kegelisahan. Kumatikan benda itu untuk menyimak semua keluhan.

Dia sedang dilanda galau rupanya. Dalam satu wadah pergerakan, gimana sih kalau ada simpan menyimpan perasaan? Uwadaw.

Pembahasan yang kadang selalu menarik perhatian. Kusampaikan kata sahabat Abyan ketika nggak sengaja ada banyak sahabat sepantaran duduk-duduk di kantor pergerakan, ” Sebenernya umur kita udah sesuai lho bahas begituan. Kita udah mahasiswa, bukan pelajar lagi.”

Dan aku baru sadar saat itu. Oiya, ya.

Sahabat perempuanku tadi bercerita pelan bahwa ia sedang “coba” dibaperkan. Ia mengaku, “Aku nggak baper untuk sekarang, tapi nggak tahu ke depan.” Aku senyum—paham. Lalu disuguhkannya model-model pembaperan itu. Menurutku, itu bukan lagi ngode. Itu terlalu jelas, terlalu bablas. Hehe, pengalaman.

Ia bertanya, “Kamu kalau diginiin baper nggak?”

Bingung aku menjawab, tapi kucoba jujur mengatakan bahwa aku yang dulu dan aku yang sekarang itu beda. Entah momen apa yang mencipta. Bukan aku mau bilang sok-sokan mengatakan aku kebal dengan pembaperan, tapi sekarang aku bisa milah mana yang memang memikat mana yang perlu dihujat. Ehehe.

Padanya kubilang : easy come, easy go. Memang. Makin cepet dan mudah dia datang ke seseorang, makin mudah juga dia melirik ke seberang dan berpindah ke lain orang.

Lagi-lagi kuakui, aku bukan sok-sokan, tapi aku pernah jadi orang yang “salah” soal beginian. Maka perihal gombal-gombalan, jauh-jauhi pembaperan dan cukup diabaikan, kalau kebablasan baru diberi tindakan.

Kemudian iseng-iseng obrolan kami lari menuju controlling hati masalah pembaperan. Hehe, aku jadi ingat seorang anak SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta menanyaiku di forum, “Caranya menghindari pembaperan?”

Aku terkekeh. Masalahnya aku bukan ilmuwan yang udah berpenelitian dan tahu step by step about how to control human sense. Hehe. Tapi menurutku, alasan kita mengalami pembaperan adalah untuk menemukan jawaban itu. Jadi meski sekarang aku menyuguhkan jawaban-jawaban, tiap orang lain tetap bisa lebih kreatif lagi menemukan jawaban lain dengan mengalami baper-baper lainnya. Nah. Gimana caranya ngontrol baper?

Seenggaknya, belajar dari pengalaman pribadi dan teman-teman lain, ada tiga yang akan tersuguh di sini.

1. Nikmati Siklusnya
Hehe, ini caraku. Setidaknya udah ada dua orang yang setuju atau sejalan pikiran denganku soal ini. Baper is oke. Baper sama si Kribo misalnya. Nggak perlu diumbar, nggak perlu cerita ke orang, nggak perlu dikejar. Biasa aja, nikmati jalannya. Senang dan sakitnya (lebay sih). Besok, yang nggak tahu kapan, bisa jadi bapernya ganti ke yang lain. Si Botak misalnya. Atau siapapun. Besoknya lagi ke si Rambut Panjang. Besoknya ke si Rambutan, atau siapalah. Tapi nggak perlu kebawa stress, nggak perlu terbebani. Sekali lagi, nikmati. Meskipun kekurangan di sini adalah kadang kita ragu, “Apa besok bisa setia?”

2. Jaga Aja Satu
Ada beberapa sahabat yang setuju dengan ini, mungkin juga kamu, hehe. Meski nggak sepaham tapi aku sangat kagum dengan jalan pikirannya. Kita fokus aja satu, jaga aja perasaan untuk satu, perkara nanti bukan takdirnya seenggaknya udah pernah latihan setia. Kata seorang sahabat, “Kalau nanti doaku ke orangnya nggak di acc Allah, siapa tahu Allah nge acc doa orang yang doain namaku selalu.” Hehe. Romantis abis. Hanya saja menurutku begini itu nggak nyaman. Aku akan kesulitan untuk tidak menuntut banyak hal. Juga nggak nyaman dengan perasaan merasa dituntut. Sedang, diikat aja belum.

3. Pasang Target
Biasanya anak-anak Rohis yang menggemakan spirit ini. Masang target jodoh idaman setinggi-tingginya. Mas Alfredo dulu masang Gita Gutawa, karena (cukup) mustahil juga sih diraih olehnya. Akhirnya masa SMA dia bebas dari godaan wanita yang enggak selevel sama targetnya. Sahabat kuliahku juga ada. Aku juga pernah begitu, ke Reza Rahadian, hehe. Tapi lama-lama ternyata bergeser juga dia. Haduh.

Dan masih banyak seharusnya. Lagi-lagi seberapa kreatif manusia itu menentukan. Poin utamanya adalah mengembalikan kepada Pemiliknya, “Ya Allah, telah penuh usahaku mengendalikan perasaan. Pada-Mu kukembalikan semua urusan.”

Yogyakarta, 14 Shafar 1439

Mushola Syariah Mandiri Fisipol UGM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *