Waktu, terima kasih sudah menjadi teman setiaku dalam berbagai kondisi. Begini ya emang pertemanan? Kadang aku merasa terlalu lambat berjalan dan tertinggal jauh dari langkahmu. Kadang aku juga merasa terlalu terburu-buru berlari hingga lupa bahwa kita sedang berjalan bergandengan. Uwuu, beruntunglah Yang Maha Kuasa masih mengizinkan kita bersama.

Kali ini aku akan datang mengajakmu mengobrol dengan membawa setumpuk rasa deg-degan.

Tahu kan ya, ini sudah masuk tahun keempatku menjadi mahasiswa. Semester tujuh yang datangnya tidak terasa. Aku sudah mengambil mata kuliah yang rupanya sekarang sudah ada di depan mata: skripsi, tjuy. Meskipun dulu aku tahu cepat atau lambat langkah kakiku akan sampai pada persinggungan ini, tapi ternyata memang nggak se-“deg-degan” dan se-“mengkhawatirkan” saat aku bener-bener sudah menghadapinya. Huhuu.

Sebuah ssapaan dari skripsi

Aku deg-degan, wahai Waktu, temanku. Banyak sahabat di kampus sudah memamerkan progress mereka, sengaja maupun tidak. Ada yang terus dikejar oleh dosen pembimbingnya, ada yang karena punya target sendiri. Aduh duh duh, kadang pilu melihat aku yang belum melakukan sesuatu. Huhuu. Jadi ingat kira-kira setahun lalu ada kabar bahwa seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta memilih untuk mengakhiri hidup karena tertekan dengan soal skripsi yang tidak kelar-kelar. HADUUUU. Tambah was-was aku.

Gimana ya, Waktu?! 🙁

Aku masih belajar sekali untuk bisa berjalan seirama denganmu.

Dan sebenarnya, aku tahu bahwa yang sebetulnya perlu aku lakukan adalah sesegera mungkin “menargetkan” dan “merencanakan”. Akan kemanakah aku? Akan menggali tentang apakah aku? Membutuhkan berapa lamakah aku? Bagaimana caranya aku mencapai ke situ?

Ya yaa, benar katamu. Semua ini aslinya gur gari dilakoni. Aku saja yang terlalu banyak berpikir dan malah jadi menunda-nunda.

Mohon maaf ya, Waktu, kamu harus membaca ini hanya untuk sekadar menyimak keluh kesahku. Tapi itulah aku, kekuatanku adalah pada jari-jari yang lincah menyuarakan perasaan, kebimbangan, kegelisahan, kebahagiaan, bahkan termasuk untuk memantapkan langkahku sendiri. Semoga setelah ini, lepas sedikit gundah dalam kalbu dan jadi terdorong diriku untuk segera melakukan sesuatu.

Dan, untuk Waktu dan sahabat-sahabat yang mengenal sang Waktu dengan baik, berilah nasehat, pesan, atau apapun itu yang kiranya menurutmu bisa membantu aku berdamai dengan semester sepuhku. Semester tujuh.

Yogyakarta, 5 Rabiul Awwal 1442

Di tengah ujian tengah semester, huhu