On the Way dan Tidak Pernah Selesai

Halo, Sahabat! Kusapa kau di hadapan rembulan yang bulat pepat menghiasi langit malam. Tepat, pertengahan Ramadhan. Sebelumnya nyuwun sewu dan kulo nuwun, apakah dirimu sudah pernah merasakan momen ‘naik daun’? Pada saat itu, kebahagiaan dihidangkan padamu secara beruntun. Datangnya melimpah dan tumpah ruah tanpa ampun hingga wajahmu terus berseri kapanpun mendapati saban orang yang bisa kamu bagikan kebahagiaan itu di manapun. Atau sebaliknya, sudahkah dirimu merasakan betapa kehidupan kadang sangat kejam? Ketika kamu merasa kelaparan, tapi yang terhidang hanyalah kesedihan. Semua beban, kesalahan, penyesalan, kekecewaan memojokkanmu hingga merasa betul-betul sendirian, tak berdaya, dan nelangsa. Bahkan, kadang buyar juga dan nyaris percaya bahwa mati dan hidup tiada beda.

 

Bila jawabanmu untuk kedua pertanyaan itu adalah ya dan ya, mari kita tos! Berarti kita sama! Walaupun aku yakin betul momen kebahagiaan maupun kesedihan yang terlintas di pikiran kita masing-masing tentu wujud dan kadarnya berbeda.

 

Dalam kasusku, mungkin juga kamu, kehadiran keduanya tidak pernah disangka dan silih berganti menyapa. Seperti sekian waktu lalu, aku mendapatkan durian runtuh diterima di sebuah universitas yang (katanya) ternama dan menemukan banyak pengalaman mengasyikkan dalam kegiatan ospek, ternyata hanya hitungan minggu aku kemudian jadi merasa ciut dan tidak nyaman dengan ketertinggalanku di kampus soal materi perkuliahan. Mmmm, sebetulnya nggak sesimpel itu juga sih. Tapi iya, banyak perubahan bahagia ke sedih atau sedih ke bahagia yang terjadinya cepat sekali dan nggak kerasa.

 

Di situ, aku mulai berpikir bahwa emang nggak pernah ada yang namanya happy ending, sebagaimana juga sad ending. There won’t be an end, but the real end. Nggak ada yang namanya sukses yang final maupun gagal yang final, kecuali saat kita sudah menemui ajal. Banyak hal yang akan terjadi setelah ‘sukses’ atau ‘gagal’ yang sementara itu. Kebahagiaan dan kesedihan sekarang bisa berubah di masa mendatang. Bisa jadi kemarin kita jadian, besoknya putus. Kemarin rugi jualan, besoknya dapet kupon gratis makan selama sebulan. Kayak kata Herakletos, ‘Nothing endures but change.’ ‘Tidak ada yang tetap di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri.’ Kita dituntut untuk terus bertahan menghadapi segala perubahan. Sampai akhirnya kita tahu, the real end itu adalah kematian, ketika kita sudah tidak bisa lagi mengusahakan dan menghadapi perubahan.

 

Kurang lebih dua tahun sebelum ini, aku merasakan kebahagiaan yang penuh dan utuh. Bagaimana tidak? Aku menemukan keluarga baru di sebuah organisasi yang selalu membuat haru, Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Aku menemukan banyak pengalaman seru di masa-masa itu karena banyak pertemuan yang mengesankan. Aku menemukan kebahagiaan tatkala pengumuman kelulusan maupun penerimaanku di kampus yang diimpikan banyak orang. Aku menemukan kebahagiaan karena berhasil membuktikan kepada dunia bahwa aku bangga menjadi diriku! Ya! Sangat bangga!!! Bahkan aku nggak habis pikir dengan diriku kenapa bisa sekeren itu dulu. BUAHAHA, maaf ya, emang bablas songong sekali–tapi kira-kira seperti itu perasaanku. Aku selalu merasa bahagia dan bisa membahagiakan orang lain pada saat itu. Aku pemberani dan mampu mendorong orang lain menjadi berani. Aku ada dan keberadaanku bisa bermanfaat untuk banyak orang.

 

Hehe. Nah, once more, itu dulu.

 

Setahun berlalu dan aku berlayar lebih jauh dari daratan. Setelah angin segar di dekat pantai memberi kesegaran yang memuaskan, selanjutnya tanpa kuduga datanglah angin berhembus yang lebih dahsyat dan lebih kencang ke arahku. Badan perahu bergoyang, badanku terpelanting jauh dan nyaris tercebur ke dalam samudra. Aku sempat bergelantungan di pinggiran kapal. Pada saat itu, rasanya menakutkan dan semua terasa berat. Aku sampai mempertanyakan hidupku sendiri, “Rampung wae po, Hims?” Di setiap suasana ramai aku merasa kesepian. Sedangkan di setiap suasana sepi, aku merasa di dalam batinku ramai—banyak pikiran rewel membuat jengkel. Semua hal kecil dan detil berdesakan dalam pikirkan dan berebutan ingin didengarkan. Sayangnya, aku tidak bisa mempedulikan barang satu saja.

 

Akhirnya sempat aku mengajukan permohonan ke ibu untuk dipertemukan dengan seorang konsultan jiwa atau yang mirip dengan itu. Muehehe, itu sepertinya juga efek karena beberapa pembahasan di kelas perkuliahan terakhir waktu itu adalah soal ‘mental health’ dan aku merasa wah wah wah jangan-jangan ada sesuatu yang keliru nih dalam diriku, coba cek ah! Hehehe, tapi akhirnya nggak jadi. Aku berkeliling saja dan terus mencoba mencari ketenangan. Akhirnya, alhamdulillah, walaupun ndak yakin juga kalau sekarang sudah bisa dibilang menemukan ‘obat’, tetapi minimal aku sudah lebih baik dan lebih merasa agak tenang. Tadi yang badanku masih gandul-gandul di pinggir perahu, kini aku sudah sangat bersyukur bisa menancapkan kaki lagi di perahunya.

 

Belakangan dari seorang sahabat yang ternyata mengidap schizophrenia, aku belajar bahwa perlu sekali kita membebaskan diri dari beban-beban yang nggak perlu. Kita kadang tidak perlu memikirkan semua hal yang ada di sekeliling kita dan membuat diri sendiri terbebani. Menjadi bermanfaat dan berguna itu penting sekali, tapi bukan melalui jalan yang ‘pokoknya harus seperti ini’. Kadang kita harus menerima keterbatasan-keterbatasan dalam diri kita. Ada kalanya kita perlu merasa kalah dan cukup, supaya kita tidak menjadi sombong dan angkuh.

 

Maka, mengapa tulisan ini kuberi judul On the Way dan Tidak Pernah Selesai ya sebab perjalanan hidup ini mustahil kugariskan bagaimana pastinya. Aku nelangsa juga karena sering memisahkan urusan habluminallah dan habluminannas. Padahal keduanya saling beriringan menuntun kita supaya tangguh dalam menghadapi setiap perubahan.

 

Saat-saat aku merasa kering akan kedekatan dengan Allah, aku segera ingin banting setir meninggalkan segala urusan tugas, kelas, organisasi, dan segala hal-hal duniawi yang bagiku jadi penghambat suburnya hubungan dengan Allah. Aku ingin bersegera membasahi iman. Pernah memohon-mohon biar dimasukkan asrama santri, nyelonong ke pengajian ini itu apa saja, sampai-sampai Babe menegur dan mengingatkan: nggak perlu kamu harus pergi jauh mencari ketenangan, jagalah lima hal yang Bapak pesankan, kata beliau.

 

Pertama, sholat di awal waktu.

Kedua, sholat malam dirutinkan.

Ketiga, puasa sunah dijaga.

Keempat, jauhi barang haram dan yang didapat secara haram.

Kelima, berbuatlah baik kepada semua orang.

 

Bagiku, pesan itu masih jauh dari terpenuhi. Bahkan meski setelah berminggu-minggu itu disampaikan padaku. Aku masih pelupa, seperti biasa. Sehingga bisa kukatakan tulisan ini pun masih on the way dan tidak pernah selesai pada makna yang sebenarnya karena belum bisa kupastikan apakah diriku bisa memenuhi citanya. Dengan asma Allah, doakan juga, semoga aku mampu betul-betul memenuhi pesan Babe dan terus tangguh selama on the way menyelesaikan perjalanan ini. Bremm, bremmm!!! *nyalain mesin*

 

Yogyakarta, 14-17 Ramadhan 1440

 

Here, lemme share my beloved album in PPSMB 2017!

Namche di FIB <3
Keluarga Kamarindjani Soenjoto yang menemani seminggu OSPEK.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *