Pakde Angkringan

Terus diingatkan akan sempitnya masa
Semakin ingin mengejar yang kurang
Terus diperlihatkan miskinnya jasa
Semakin ingin untuk berjuang

Ini mengenai temu romantis dengan sosok manis, Pakde Angkringan, semoga bisa kukupas habis.

Kusegerakan menulis setelah usai waktu Ibadah Maghrib di Masjid UII (Universitas Islam Indonesia) di Terban. Ndak mau sama sekali waktu mendapat peluang untuk membuat semua kenanganku hilang. Kata senior Pak Haedar Nashir barusan diingatkan di status WA Mas Azaki, “Catatan adalah ingatan terbaik.” maka tidak mau berpanjang lebar membuat alasan penundaan.

Apalagi belakangan sebagaimana semakin miskin pertemuanku dengan sosok-sosok saudara di pinggir, ternyata obrolan sore hari ini diridhoi Allah untuk hadir. Kutemukan momen yang which is gue nggak expect kalau bakal happens, gitu sih ala-ala @skinnyfabs ugh.

Pakde angkringan, PR-ku adalah menanyakan nama beliau yang sesungguhnya. Yah, kusapa ‘Pakde’ sebab kebiasaan nyaris ke banyak orang yang kuanggap senior dan akrab dengan lingkungan di sekitarku, kalau kakung ya Pakde, kalau putri ya Budhe. Hehe, aku lupa-lupa ingat kalau ditanya percakapan apa yang mengawali obrolan kami. Yang jelas, sempat beliau ungkapkan satu dua kekaguman pada Babeku—ternyata beliau juga mengenal Babeku cukup baik. Kekaguman itu, yang aku sendiri pun merasakannya.

Setelah dipermak dalam bahasa Indonesia, Insya Allah jadinya begini kata beliau, “Orangnya itu kalau saya lihat, sederhana. Nggak ada gengsi. Kalau orang biasanya mikir gimana caranya biar bagus diliat orang, walaupun kita ndak nyaman. Beliau enggak, ndak mikir apa kata orang, asal beliau nyaman ya dijalankan.” Saat itu terkait motor dan mobil Babe yang sederhananya minta ampun. Kusempalkan cerita waktu dulu kecil aku masih malu-malu dijemput Babe dengan kendaraan seperti itu.

Banyak pelajaran yang secara langsung maupun ndak langsung kudapatkan dari beliau. Disebutkannya perbandingan soal ‘balungan gajah’ dan ‘balungan tikus’. Cukup kita menjadi seperti gajah yang dikasih makan sedikit tetap gendut. Daripada makan banyak-banyak kaya tikus, tapi nggak pernah puas dan selalu rakus. MasyaAllah. Tercekik rasanya. Susah emang yang namanya jadi manusia itu.

Aduhai, obrolan-obrolan panjang tapi sebentar itu memberikan gambaran kecerdasan pada sosok Pakde, penjual angkringan di seberang warung buku Terban. Ndak salah kalau ternyata beliau bisa membawa putrinya belajar di salah satu kampus idaman di Solo.

Sampai nanti, semoga mampu dipertemukan lagi.

Masjid UII, 22 Rajab 1439

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *