Pamitan dan Mohon Doa Kelancaran

May peace always be upon you, ya Sahabat. Hai, apa kabar? Semoga masih ridho dirimu menjadi pendengar.

 

 

Berkali-kali sepertinya kita sering dengar lantunan firman Allah swt yang terus menyinggung diri kita, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang Engkau dustakan?” Kali ini aku merasa disinggung juga. Betapa banyak tentunya nikmat Allah swt yang dilimpahkan padaku selama ini, baik yang kusyukuri maupun tidak tersadari.

 

Selama perjalanan hidup ini yang masih sedikit terlalui, aku berulang kali tersandung, jatuh, bangkit, jatuh, menggelundung, bangkit lagi, jatuh, benjol sana sini, masih bangkit lagi. Itu semua tentunya tidak bisa kulakukan sendiri. Rasa sakit bisa jadi alasan untukku berhenti. Rasa kagol bisa jadi hambatan untukku melanjutkan. Berkali-kali kecewa, berkali-kali putus asa, begitu aku sangat bersyukur tentu saja Allah swt masih ridho menjadi pendengar paling setia. Ampuni hamba yang sering lupa, bahkan kadang angkuh hanya untuk menyampaikan doa, sungguh─ampuni hamba.

 

Wahai Sahabat,

Sebelum ini beberapa kali aku seperti memberi kode yang entah apakah itu jelas terbaca. Unggahan tulisan di blog sejak awal tahun ini mungkin jadi semacam jejak samar: penulis ini lagi berencana ngapain sih? Hehehe, ya nggak sih? Kerasa nggak sih? Muehehe. Kalau ternyata tidak ada yang menyadari, wah, malu dong aku, ge-er banget ada yang ngepoin. Hihihi. Pendek kata, aku memang sedang ingin sekali menggurat cerita soal mimpiku yang perlahan semakin terlihat nyata. InsyaAllah. Ingin sekali, sesegera mungkin.

 

Mimpi apakah itu?

 

Hehe, ini mimpi mengenai belajar di daratan yang jauh dari kampung halaman. Beda kampung, beda kota, beda- provinsi, beda- pu-lau-, be-da- ne-ga-ra-. Mungkinkah?

 

Biar kumulai dari menarik diri ke cerita satu dua tahun sebelum ini, di awal perjalananku memasuki jurusan Sastra Inggris UGM. Jurusan yang kalau kusebut bisa memicu orang cepat berkesimpulan, “Wah, pinter bahasa Inggris yaa!” Huwaduh, langsung panik kalau begitu. Hehe, sementara baru bisa meng-aamiiin-i. Perjalananku di jurusan ini cukup memberi banyak pengalaman soal naik turun iman dan panas dingin perasaan. Susah, syulit, sering nggak paham, sering bingung, sering ketinggalan, sering keteteran tugas, sering lupa kalau ada tugas (muehee, ampuuun), pokoknya bener-bener membuatku ngesat-ngesot deh di dalam kelas. Tapi kalau ditanya, “Lha, mau pindah jurusan, Hims?” Hueee, yo wegah. Pertama, i have no idea anymore whether there is another study program which would accept me or not. Kedua, meskipun syulit, tapi diriku sangat bersyukur bingit. Di jurusan ini, aku belajar banget soal keterbatasanku sebagai manusia. Banyak kesombongan dan keangkuhan dalam diriku yang tumbuh besar dan rantingnya menyebar segera bisa ditebang dan dipangkas satu persatu. Serius, deh.

 

Di jurusan aku merasa banyak sekali tantangan, banyak panggilan, banyak kegelisahan. Dan kalau aku berpikir lebih masak, itu sungguh suatu anugerah yang harusnya bisa kumanfaatkan.

 

Aku tahu aku harus bisa membuktikan sesuatu. Aku harus melakukan sesuatu. Tapi, apa?

 

Sampai pada saatnya, jadilah aku pribadi yang sukanya coba-coba. Nyicipin kegiatan ini, nyicipin kegiatan itu. Mmm, sejauh ini terasa ada baik buruknya sih. Aku jadi kurang fokus dan terkesan cuma cari pembuktian bahwa aku mampu melakukan hal-hal keren lho walaupun secara akademik ra mutu. Wesyehh. Astaghfirulloh. Muehehe. Di situ mulai nggak nyaman juga. Dan di sela-sela itu, aku tahu ada satu hal yang diam-diam lama kusimpan dan kuninabobokkan, belakangan jadi kugelitik-gelitik juga biar bangun. Dialah, mimpi untuk bisa keluar negeri. Mmmmm, memang mimpi yang biasa dan tidak yang anti-mainstream gitu sebetulnya, khususnya di antara teman-teman sejurusan, mueheee. Tapi kupikir, ini adalah salah satu kendaraan yang bisa mendorongku untuk lebih berkembang dalam kebahasaan asing—mungkin, setidaknya ini adalah satu sebuah pembenaran. EH, alasan, maksudku. Hehehe.

 

Maka, entah di masa kuliah ini sudah berapa kali kucoba dan gagal berulang kali dalam berbagai seleksi apply exchange program. Wohooo, jangan kira aku patah hati. Soal ini, aku sudah berpengalaman sekali. Di beberapa hal, gemes sih. Tapi di lain hal, kayak diingetin, yah yaudah hidupmu juga nggak berubah, ditolak yah yaudah hidup jalan lagi, besok coba lagi. Ini cuma belum rezeki.

 

Sampai pada suatu masa di awal tahun ini, sebuah program exchange yang aku apply, AMINEF UGRAD, memberikan pengumuman yang membuatku gigit jari. Ya, di sana… aku… dinyatakan… lo…

… lom biza ikutan. Hahaha, lagi-lagi. Mueheee. Tapi beda kali ini. Sekitar dua atau tiga hari kemudian, sebuah e-mail menghapus perasaan sedihku dengan sebuah informasi bahwa aku dinyatakan lolos untuk menjadi perwakilan UGM dalam International KNU Summer Program di Korea Selatan. Huaa huaaaa!!! Hidupku penuh dramaaa!!! Alhamdulillah sekali, sangat-sangat alhamdulillah. Huehueee *setelah berulang kali nyebut alhamdulillah dan setelah mengatur napas, beberapa menit kemudian* Padahal cerita soal perjalananku menyiapkan pendaftaran kegiatan ini, sungguh memberi banyak deg-degan. MasyaAllah. Tapi rencana Allah memang ndak bisa diduga-duga kan, Bos.

 

Menurutku, semua usaha yang dari awal kulakukan, semua ini bukan bersih hasil jerih payahku sendiri. Jujur, di sana ada banyak kekurangan. Sangat banyak. Tapi entah bagaimana, Allah swt masih mau memberi kesempatan. Dia yang mengizinkanku untuk menyambut kesempatan itu.

 

InsyaAllah besok pagi aku akan menuju bandara. Kalau diizinkan, maka itu akan menjadi momen ketigaku menunggangi kendaraan yang disebut orang Jawa dengan ‘motor mabur’ itu. Terus kuingat-ingat bahwa banyak yang telah berperan dalam perjalananku sampai saat ini, baik yang secara langsung membantu teknis pendaftaran dan persiapan keberangkatan, sampai yang secara tidak langsung memotivasi dan menginspirasi lewat perkataan dan perbuatan. Mungkin juga Anda yang membaca ini merupakan salah satunya. Untuk itu, terima kasih. Doaku untuk panjenengan sekalian. Barakallahulakum. Diriku mohon pamit dan mengharap doa kelancaran, semoga safar yang dimulai esok hari bisa berjalan dengan lancar dan memperoleh kebermanfaatan tidak hanya untuk diriku sendiri, tapi untuk orang banyak. InsyaAllah.

 

Laa haula walaa quwwata illaa billah. Tiada daya kekuatan selain datangnya dari Allah.

 

Dariku,

yang mau belajar soal sabar, berani, dan tanggungjawab.

 

Penginapan di Cengkareng, Tangerang, 24 Syawal 1440

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *