Pembayaran Utang, Barokahnya Berlinang

Ini harusnya ditulis sejak dahulu kala, menyoal kejadian di pagi hari tepat sebelum langkah kaki mengendarai bus yang akan membawaku jauh dari kota ini. Minggu, 24 Desember 2017. Hari itu seharusnya ada agenda dolan bareng anak-anak PD IPM Kota Yogyakarta ke pantai, hanya saja kupikir-pikir belum sampai diriku pada persiapan yang matang untuk agenda ke Lampung, akhirnya kuurungkan keinginanku yang sebetulnya pengen tenan. Huehue. Muehehe.

Oke. Jadi lists agenda pagi itu adalah (1) membuat surat-surat yang diperlukan sebagai syarat kepesertaan (2) menyiapkan barang dan perbekalan (3) makan bareng Babe dan Ibu, kebetulan saat itu hari milad ibu, cuma ya makan-makannya bukan sekadar dimaksudkan begitu. Btw dek Juang dan dek Sobat saat itu sudah lebih dulu bergerak ke Lamongan, jadi tidak ikutan.

Alhamdulillah. Hari dimulai.

Sebab Eyang juga ke Lamongan, maka tidak ada tugas untukku membersamai beliau jamaah Subuh seperti biasa. Pagi itu aku ibadah di masjid dengan Babe dan Ibu. Tapi, telat. You know lah ya Ahimsa. Hehe. Sebelum pulang, ada mobil PDM Jogja parkir di seberang jalan, aku penasaran. Kata Ibu, nanti ada jalan sehat AMM. Otakku belum terkoneksi dengan beberapa info yang semalam barusan kubaca lewat grup IPM, maka aku biasa aja. Lalu sembari berjalan pulang, Babe dan Ibu mengajak untukku ikut ke sana. Okelah, kulakukan.

Sebelum tiba masa aku bergerak ke lokasi acara, sebetulnya ada insiden kecil yang mencipta panas antara aku dan Babe. Sebab aku sih yang terlalu keanakkecilan dan ndak mau mendengarkan, Astaghfirulloh. Ampuni. Allohu. Ini sepele cuma malah kubuat tambah gedhe. Begitulah. Maaf ya, Be. Setelah ini insyaAllah akan kuupayakan makin bijak berkata dan bersikap, harus, harus, harus. Allah, tampar aku bila terkapar. Oke, sampai di situ masalah dengan Babe.

Selanjutnya cus aku menuju lokasi acara jalan sehat (dengan mengikuti instruksi Babe sih akhirnya hehe). Ternyata sepi. Ini cerita lain, ternyata acara ini publishingnya kurang booming, kurang maksimal. Nggak papa, pelajaran, menurutku. Pengalaman hehe. Secara konsep begitu matang dan luar biasa sekali.

Fasilitas lengkap, hiburan muantap, ada senam yang lucu dan seru begitu, belum lagi snack gratis asik sekali. Hehehe. Pokoknya uwenak. Aku menikmatinya, sendiri. Hehe bareng-bareng ding. Tetangga, ibu-ibu kebanyakan, ada juga satu dua teman sepantaran, seru-seruan. Lumayan. Alhamdulillah.

Nah, cerita dimulai setelah ini…

Mungkin aku awalnya berpikir… duh, setelah ini gimana ya mau nyiapin perlengkapan? Bisa sih masih nanti. Surat-surat juga tinggal di-print. Terhitung masih pagi sekali. Nah, lalu aku memutar kepala untuk menemukan apa yang bisa kulakukan setelah meninggalkan pasar? (Lupa cerita ya, acaranya di Pasar Ngasem hehehe).

Nah. Bersamaan dengan itu, Allah memberikan kode. Sebuah ingatan mengantarkanku pada fakta bahwa ada utang yang belum kubayarkan, muehehe. Tidak perlu kusebutkan. Mungkin yang diutangi juga kelupaan. Hoho. Maka, karena berpikir akan cukup lama berada jauh dari kota kelahiran, takut-takut kalau mati di tengah jalan, sedang soal utang itu sepertinya hanya kami berdua dan Tuhan yang tahu, jadilah kupikir… sebelum aku pergi, harus dilunasi.

Aku akan meninggalkan pasar. Tapi, tentu saja, aku berkeliling dulu untuk menyiapkan bahan pembayaran utang. Hahaha. Eh. Semoga ini bukan sekadar karena ingin melunasi utang ya, tapi ikhlas, semoga yaAllah. Ampuni. Bismillah, insyaAllah begitu. Hehe. Allohu, Allohu.

Lalu kumenuju Pilek setelah semuanya siap. Yeay, cuskan, ladubkan.

Karena mau cari suasana lain, kupilihlah jalan yang jarang-jarang hehe. Lewat masjid Ash-Shiddiq, sampai mentok jokteng kulon-kidul, lalu lanjut ke arah masjid Nurul Islam… jeng jeng jeng. Ketika belum sampai kepada belokan depan, tiba-tiba sebuah suara menahan genjotan, “Wardah!”

Kubalikkan pandangan dilanjutkan melahirkan teriakan, “Eeee! Mbak Yun!”

Yuhuuu. Ternyata Mbak Yunita, Ustadzah Nurul Islam. Yakduh, lama ndak bertemu setelah ada beberapa kejadian tertentu, hehe. Barakallahulakum, Mbakku. Beliau ahli menjahit. Malu nih, kalau ngelihat perempuan-perempuan kece begini. Ahli dapur, ahli jahit, idaman suami. Haha. Okelah, nggak usah dibahas, lihat aja ntar Ahimsa ngegas. Nah, kemudian sapa menyapa itu cukup berjalan lama juga. Kerinduan terhadap suasana Badko yang hangat. Kegemasan akan tegangnya bahasan tiap rapat. Lalu sedikit menyinggung soal IPM, yang entah mengapa lalu agak geser-geser soal PKS, kemudian remaja masjid, dsb. Haduh, kalau begini, lagi-lagi jadi gesrek ati. Betapa sedikit geregetku membenahi apa yang kurang di kampung sendiri. Makin terluka juga kalau ingat sorenya setelah itu kaki akan beranjak pergi jauh, jauh sekali—rasanya bagiku.

Duh. Allohu. Terima kasih mengingatkanku yang terlalu talk much, do nothing terhadap segala kegelisahan ini. Muehehe.

By the way, di rumahnya Mbak Yun banyak kucing. Ya, aku nggak takut kucing sih. Megang, ngelus, berani. Asal nggak dikejar, atau kucingnya minta dipangku, dsb, itu geli. Kabarkan pada kucing, “Sini mendekat, tapi mohon tahu batasan Anda.” Uwo!

Setelah itupun aku pergi. Sebelumnya, ternyata alhamdulillah Allah memperkenankanku untuk membayar utang pertama ke Mbak Yun. Nggak enak lama di situ cuma ngrusuh orang kerja, haha. Setelah itu semakin mantap langkah kakiku untuk bersegera melunasi utang ini. Sebab rasanya silaturahim tidak terencana itu juga didukung oleh niat baik membayar utang ini. Allohu, romatisnya Engkau :”)

Tut turut turu rut. Yeay!

Gaspol lagi. Aku mencapai plengkung gading, lalu belok ke arah barat melalui SMAN 7 Yogyakarta. Hehe. Di situ, kukenang beberapa hal. Di antaranya kebersamaanku dengan bocil Advo, Dias, untuk mengajukan permohonan dana ke salah satu Pimpinan di sekitar situ. Deg-degan saat itu. Tapi dibersamai bocah itu aku bahagia. Mana ketika itu batin lagi banyak mengalami luka-luka, jadi sekalinya dapat Sahabat gila, cocoklah ketemu obat penawarnya. Hahaha. Oke, back to the plot.

Jadi setelah itu aku menuju ke lokasi yang sudah terngiang-ngiang dari tadi. Canggung, iya. Ini nanti gimana? Ngomong apa? Dan sebagainya, bingung juga. Tapi kubulat-bulatkan tekad. Mantap, mantap. Ayo, Hims.

Tapi, ternyata gas sepedaku tambah lambat. Hoho. Malu. Deg-degan.

Di tengah suasana begitu, ada sosok yang tanpa sengaja membantu. Seorang bapak penjual vas-vas bunga dari keramik. Eh, apa sih namanya? -_- Kok kulupa. Wait, jerami? Gerabah, nah. Itu mau ngomong. Barang dari gerabah (sumpah ini beneran ya lupa namanya, paragraf yang satu ini ditulis keluar aja kepala, tanpa disaring hahaha makanya ada adegan lupa nama segala).

Oke, jadi beliau ini penjual barang dari gerabah. Barang dagangannya diangkut dengan sepeda onthel. Beliau jarang ngendarain sih, soalnya pas itu jalan lagi ramai dan kalaupun mau dikayuh, harus naik turun. Enakan jalan kan. Nah kemudian satu lagi yang membuatku nggak tahan berada tepat di belakang beliau adalah.. di tengah panas dan ramainya suasana itu, beliau cekeran. Nggak pakai alas kaki. Allohu Akbar. Nggak kebayang aku yang begitu. Udah mancik-mancik, loncat-loncat mencari keteduhan. Huhu.

Sampai pada perempatan, sebelum betul-betul sampai pada tujuan, Allah meridhoiku untuk membayar utang lewat beliau. Alhamdulillah.

Singkat cerita, sampailah aku pada tujuan dengan langkah dan jemari yang mantap demi betul-betul membayarkan keseluruhan utang. Allohuakbar. Allohu. Allohu. Allohu. Allohu. Allohu. Allohu. Allohu. Allohu. Allohu. Allohu. Allohu. Allohu. Allohu. Allohu. Allohu. Allohu. Allohu. Allohu. Alloh! Alloh! Allohu!

Begitu romantisnya Engkau. Terima kasih. Alhamdulillah. MasyaAllah. Kuingin dipeluk oleh-Mu, lebih dekat, lebih dekat. Sangat dekat.

Terima kasih sudah membiarkanku membayar utang. Tidak hanya itu, bahkan Engkau tambahkan nikmat-nikmat yang tidak terbayangkan.

(begini, sedikit yang aku ingat pagi itu)

Yogyakarta, 20 Rabbiul Akhir 1439
Usai pada 00.08 WIB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *