Penebar Energi (+)


Bismillahirrohmanirrohim. Semoga apa yang tertuang terlepas dari kemelut buruk yang mencipta mendung bagi diriku, lebih-lebih bagi kalian para sahabat. Kupikir-pikir banyak sekali salah dan keliru dalam setiap goresan kata yang kubuat di sini sengaja maupun tidak menjadikannya tidak bijak.

Sekadar merasa “harus ada yang ditumpahkan dalam diriku” sehingga seringnya aku kurang memikirkan bagaimana itu akan berefek pada segenap pembaca. Kadang sebab marah, maka tergerak mencipta kalimat yang malah tidak terarah. Atau tiba-tiba ada rasa iri, dengki, maupun cemburu yang mendukungku untuk berkeluh kesah melulu. Atau tiba-tiba senang yang meluap-luap hingga tumpah membikin kata-kata yang ternyata sombongnya tidak mampu tercegah.

Mulai daku harus banyak berbenah. Berpikir setiap yang dilakukan bukan sekadar untuk pribadi, apalagi kalau isinya cuma kepuasan atau kebermanfaatan sementara. Cara pandangku harus lebih luas biar tahu selebar mana sayap bisa kukepakkan demi memayungi segenap kepentingan bersama.

Tidak semua hal perlu diungkap. Semua hal akan jadi baik diungkap bila memang punya tujuan yang bijak.

Malam ini pun kutulis kalimat sebagai pengingat. Di tengah maraknya rasa yang bermacam-macam. Dari amarah yang tertahan, sedih yang baru saja terbunuh,  hingga kebahagiaan yang kutarik perlahan dari langit biar tidak jatuh berdebum ke tanah. Kesemuanya mengisi segenap hati sampai penuh sesak berjejalan. Hingga akhirnya tidak muat menampung suara hati.

Kemudian terdengar bunyi boom!

“Alhamdulillah!” terbisik.

Semoga setiap apa yang terjadi dan terlewat dalam hidupku menjadi sebuah dorongan bagi orang-orang di sekitarku. Oleh karenanya, benar-benar kubesarkan hati supaya mau menerima amanah ini: menjadi penebar energi positif.

Yang selalu tahu bagaimana pandanganku tidak menciptakan kepedihan atau kelenaan bagi sebagian insan. Yang selalu tahu bagaimana hembusan napasku bisa selalu membawa ketenangan. Yang selalu tahu bagaimana ucapanku tidak mengundang kegelisahan, melainkan bisa membawa keteduhan. Yang selalu tahu bagaimana kulit wajahku tidak mengundang syahwat, melainkan bisa mendorong yang lain supaya mau bersama-sama berkeringat. Yang selalu tahu bagaimana biar jemari tangan dan kakiku tidak hanya sekadar pada memberi, tapi juga mengajak untuk bisa memberi, mengajak untuk mengajak memberi, mengajak untuk mengajak orang lain mengajak memberi, dan seterusnya.

Dibuka sudah tulisan ini dengan bismillahirrohmanirrohim dan dibuka juga aksi setelah ini dengan kalimat thoyyibah yang sama.

Yogyakarta, 13 Syawal 1439

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *