Alhamdulillah, selesai sunatan. Hehe.

Eh, bukan aku. Tulisan ini bukan membahas soal pengalaman sunatan (atau khitanan)-ku, ya kalik. Yuhuu, ini tentang dua bocah kecil upil yang jahil dan selalu mengundang untuk dijahili. Siapa lagi? Pertama, sepupuku yang juga merupakan cucu terkecil (sampai saat ini HAHAHA) di keluarga, Andranik Affan Wahyudi, panggilannya Dek Affan. Anak kelas 4 SD yang berat badannya 10 kg di atasku. Uwaduu. Kedua, adik kandungku yang beratnya mungkin sekitar 10 kg di bawahku. Dia sekarang naik kelas 5 SD, ialah Sahabat Nabi Di Kehidupan Abadi, atau akrabnya Dek Sobat.

Momen ini sungguh tidak ditebak-tebak.

Pada awal mulanya, hanya Dek Affan yang sudah memantapkan niat dan menyusun rencana hebat, “Liburan ini aku di-kres ya, Pakde!” katanya kepada pakde kita semua yang kebetulan berpengalaman dengan menyunat orang. Istilah kres diucapkan oleh Dek Affan sambil menirukan bentuk gunting, menggantikan kata “sunat” haha, lucu sekali.

Kebetulan saat itu Hari Kamis sore. Malamnya kami sekeluarga besar diundang untuk syukuran. Luar biasa sekali, alhamdulillah, sebuah momen yang jarang terjadi sebab seluruh cucu Eyang tanpa terkecuali bisa berkumpul dan duduk di atas alas yang sama serta di bawah langit yang tidak berbeda. Iseng-iseng kakak sepupuku yang paling tua mengejek Dek Sobat, “Wah ini cucunya Eyang yang cowok udah pada sunat semua ya!” sambil melirik Dek Sobat diserukannya lagi seolah-olah baru menyadari sesuatu, “Eh, Dek Sobat belum ding!”

Wah, kacau balau! Kami semua tertawa-tawa sebab menyadari itu sekadar gurauan. Tapi, bagi yang dijadikan bahan bercandaan ternyata tidak menganggapnya demikian.

Tidak berselang beberapa menit, adikku yang paling kecil itu, Dek Sobat, tiba-tiba memerah wajahnya. Pecah perasaannya sehingga suasana yang awalnya penuh dengan tawa langsung berganti dengan kecanggungan semata. Aku lebih mengurangi jarak di antara kami berdua, kubilang padanya supaya apapun perasaannya dikeluarkan saja sambil memahamkan bahwa kesemuanya cuma bercanda.

Aduhai, Sayang. Dek Sobat memutuskan untuk merengkuh ibuku selanjutnya. Ternyata tanpa kudengarkan bersama Babe juga, mereka bertiga membuahkan percakapan. Kurang lebih sesuai cerita Ibu beginilah,

Dek Sobat memprotes sambil wajahnya masih basah, “Buk, sebenernya aku udah minta dari lama kan disunat? Tapi, Ibu aja kan yang belum jalanin?”

Ia meminta pembenaran. Duh, Adikku sayang. “Besok aku mau disunat!”

Pakde Agus, Dek Sobat, dan Budhe Entin (kiri ke kanan)

Sebetulnya salah satu yang agak memberatkan di pandangan Ibu (walaupun sebetulnya disadari beliau itu seharusnya tiada boleh jadi beban) adalah belum tercukupinya kebutuhan untuk melaksanakan semacam syukuran. Sebab biasanya, tradisinya, tetangga-tetangga yang tahu akan kabar anak sunatan datang ke rumah memberikan amplop-amplop, sedang begitu tidak enaknya bila tak ada sedikit pemberian bagi mereka semua.

Cuma mantap Dek Sobat memberanikan, “Nggak usah ada acara apa-apa, besok disunat!”

Sebab ia mantap, Babeku langsung memintanya untuk mengabarkan ke Pakde Agus (yang sudah biasa menyunat). Akhirnya besok pagi betul, seriusan tanpa direncanakan jauh-jauh hari, Babe, Ibu, dan aku menemani Dek Sobat disunat.

Tanpa ada pemberitahuan dan kowar-kowar ke tetangga demi menjaga supaya ndak merepotkan malahan. (Walaupun ya akhirnya pada tahu sih…) Hihi.

***

Pengalaman ini nggak mau kutulis cuma-cuma. Salah satu harapannya supaya aku bisa ingat kisahnya, pun juga demi mengabarkan pada kalian bahwa daku bangga dikaruniai adik kecil yang keberaniannya luar biasa. Perkara sempat diejek soal terlambat sunat, pada akhirnya di tengah tekanan itu dia berhasil mengambil keputusan bijak menurutku.

Sesuai janji yang kusampaikan, tulisan ini akan aku mintai izin terhadap si empunya pengalaman utama, Dek Sobat. Baru kalau lancar jaya diiyakan olehnya, maka buktinya sebagaimana kalian membaca sekarang ini. Hehe, alhamdulillah.

Yogyakarta, 14 Syawal 1439

Tinggalkan Balasan