Aku turut berduka atas apa yang menimpa diriku sendiri hari ini. Hihi, hilih. Juga teman-teman yang mungkin menghadapi hal serupa. Percayalah, bahwa demi ‘mendapatkan’, kadang kala kita diminta ‘mengorbankan’. Sengaja aku bold, pas bijak mode on.

Pejuang akhir tahuuuun!

Jumat, 20 Rabiul Akhir 1440 yang bertepatan dengan 28 Desember 2018 adalah sebuah hari yang membahagiakan—seharusnya. Aku sudah menyiapkan hati dan segenap jiwa untuk melakukan perjalanan yang sejak awal liburan sudah kunanti-nantikan: mengambil jarak dengan kota tercinta. Ibu, Dek Sobat, dan aku sudah direncanakan akan menghadiri pernikahan sepupu di Kabupaten Demak. Liburan beneran! pikirku. Jalan-jalan!

Kurang lebih pukul 08.00 pagi kami sudah ada di atas bangku bus Trans Jogja yang akan menggiring para pejuang liburan ini ke Terminal Bus Jombor. Tanpa kuduga-duga, kegiatan sepintas mengecek notifikasi di layar ponsel menggegerkanku. Permohonanku untuk bisa bertemu salah seorang paling penting dalam perjalanan kuliah ternyata diiyakan di saat yang tak terduga. Di atas bus, aku membaca pesan dari dosen pembimbingku, “Saya bisanya ketemu nanti di kampus jam 9.” Senyumku lebar seketika. Bukan untuk merayakan kabar gembira, tapi menahan gigi yang gatal ingin menggigit bibirku sendiri—mengkal.

Akhir tahun sebentar lagi datang. Kalau tidak sekarang aku mengambil kesempatan bertemu dan menyelesaikan urusan dengan dosenku, maka sepertinya akan sangat kecewa aku ke depan. Tapi … liburanku? Keinginanku keluar dari kota ini? Bagaimana? Ya … bagaimana lagi? Bimbang sebetulnya. Jalan, batal, jalan, batal, jalan, batal. Duhhh.

Sampai akhirnya, Ibu duluan yang menyampaikan kerelaan, “Nggakpapa, Mbak. Ke kampus aja.”

Hueee, Ibu sudah ridho. Hatiku bagaimana?

Aku mantapkan, “Memang harus ada yang dikorbankan.” Lalu aku memilih untuk mengambil yang kemungkinan tidak bisa ditunda dalam waktu dekat ini.

Kakiku yang sudah mendarat di terminal Jombor selanjutnya sudah sampai ke halte Kopma 30 menit kemudian. Yep, di kampus! Tempat yang kata orang buat mampus. Tapi, ya, inilah yang kupilih. Sambil menikmati keterlambatan sang dosen, aku pun menyiapkan segala hal yang bisa mematangkan urusanku di akhir 2018.

Alhamdulillah, akhir tahun kututup lega karena targetku kesampaian. Entah apakah tujuan utamaku tercapai atau tidak. Tapi menjadi sebuah kepuasan karena berhasil berusaha sebaik-baiknya sampai batas kemampuanku (meskipun jelas aku sebetulnya bisa lebih baik dari itu). Setidaknya aku belajar banyak, hehe.

Intinya, aku puas bukan karena hasilnya, melainkan karena sudah kupastikan hatiku berada dalam prosesnya. Aku bekerja dan berusaha maksimal, doaku pada-Nya terpanjatkan.

Mohon doanya saja yang terbaik atas usaha yang sedang kuupayakan. Tanpa meniatkan sebagai balas budi, doaku juga tersampai untuk Anda sekalian yang sedang menggapai mimpi dan merawat harapan masing-masing. Ingat, menyerah itu hanya untuk orang lemah, bukan kita 🙂

Yogyakarta, Jumadil Awal 1440

Tinggalkan Balasan