“UGM!”

“Pancasila jiwa kami,
bangkit untuk negeri,
UGM bersatu,
bangkitlah nusantaraku!”

Beberapa anugrah sudah diberikan Allah kepada saya yang sungguh masih kurang bersyukurnya. Jujur saya menyesali banyak hal, inspirasi yang Allah tebar, belum satu pun yang saya beri kesempatan untuk diabadikan. Semalam dua malam, ada yang berbisik, “Besok aja menuliskannya, Hims, jangan malam ini, kamu kecapekan. Kamu butuh bangun pagi sebab besok kamu harus bekerja lagi.” Saya seolah lupa pada Ibnu Rusyd yang nyaris tidak pernah tidur demi memenangkan hasrat rohani untuk berpikir dan berkarya. Saya entah bagaimana terus mengikuti bisikan itu yang ternyata malah membuat diri tuli pada hati nurani yang ingin menyerat setiap kisah tiap hari.

Malam ini, setelah sering kali memberikan janji “nanti-nanti” tanpa adanya kejelasan kapan beraksi, malam ini saya putuskan untuk menuliskan.

Jujur, saya lelah. Hehe. Kalau boleh jujur lagi, kelelahan ini merupakan bagian dari persiapan PPSMB 2018. Sebetulnya “lelah” sedikit terbaca negatif ya, padahal saya berulang kali mengatakan ingin menebar impuls positif. Allohu. Tapi ruang keluh kesah ini, bolehlah ya saya manfaatkan. Bismillah, demi menemukan spirit untuk bangkit lagi.

“PPSMB Palapa 2018!”

“Cita kita tuk nusantara, jayalah Indonesia!”

Hari-hari di dalam bulan Juli ini penuh terisi dengan jadwal tidak terduga untuk menyiapkan diri sebagai Cofas (Co-Fasilitator) yang ideal. Beberapa akan saya kupas sebagaimana berikut ini.

Bentoisme
Kalau diartikan mungkin maksudnya yakni paham Bento. What is Bento, or who is Bento, then? Hehe. Bento, actually, is the name of coordinator of Co-Fasilitator. Dia menyusun materi dari Bento yang sebelumnya telah dibahas dalam materi Cofasiologi, tapi kembali diperdalam dalam agenda Bentoisme. Bersama sub-koordinator gugus Sardjito (Fakultas Kedokteran), Ibunda Diana, setiap pasangan diminta untuk melakukan role play di kelas sesuai kasus-kasus yang diberikan. Seperti misalnya bagaimana menghadapi Gamada sulit, mengalami lampu padam, dan sebagainya. Saya bersama sahabat Bastian bagaimana? Kritiknya tepat, kami berdua sama-sama masih canggungnya.

Intinya di pematerian Bentoisme ini, terdapat rumus yang perlu kita miliki selaku Cofas, yakni: (1) Compassion atau berbelas kasih kepada Gamada. Setiap penugasan dan hukuman selalu yang diberikan selalu didasarkan pada rasa kemanusiaan. Jadi, ndak ada yang namanya perpeloncoan atau semacamnya. (2) Competence atau berkompeten. Cofas memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan tanggungjawabnya. (3) Conscience atau berhati nurani benar dalam menghadapi setiap keadaan. Meskipun memiliki rasa belas kasih, kita harus selalu membuka mata untuk kebenaran. Kalau keliru diingatkan, kalau salah diluruskan. (4) Leadership atau memiliki jiwa kepemimpinan. Jelas kita diharapkan bisa mengarahkan teman-teman Gamada sesuai tujuan PPSMB.

Cofasisme
Bisa dibaca juga “Cofas is me” merupakan agenda yang tidak terlalu berbeda dengan Bentoisme. Tapi, pasti ada bedanya. Bedanya apa? Hihi, sub-koordinator yang mengevaluasi kami bukanlah dari gugus Sardjito. Kami dihadapkan dengan sub-koordinator yang lain, namanya Ibunda Hera. Sebagian menangkapnya sebagai pribadi yang cukup spaneng, tapi bagi saya sendiri, ya ndak juga. Mungkin karena pada beberapa kesempatan saya melihat beliau adalah pribadi yang interaktif kepada banyak orang.

Kami diingatkan beberapa tugas penting Cofas, yakni (1) pengelolaan administrasi dan logistik seperti penilaian dan presensi, (2) bukan sekadar panitia yang melaksanakan kewajiban, dan (3) menjadi inspirator dan role model bagi teman-teman mahasiswa baru.

Pada role play kedua ini, saya dan sahabat Bastian cukup dibuat terbang karena sudah lebih baik dari sebelumnya. Hanya satu dua catatan supaya kami berdua tidak terkesan menghafal materi. Selanjutnya saya juga belajar dari penampilan teman-teman yang lain mengenai tips public speaking yang ideal: pandangan harus menyeluruh ke seluruh audiens, pentingnya memiliki retorika panggung, perlunya apresiasi melalui tepuk tangan dan penyebutan nama, serta keberanian kita untuk mendekati Gamada secara personal.

Mini ToT (Training of Trainer)
Lagi-lagi kegiatan yang sama, hanya saja waktunya lebih lama. Ini dilaksanakan dalam dua hari berturut-turut. Dua sub-koordinator baru dipertemukan pada saya, yakni Ibunda Fika dan Bapak Joshua. Untuk pematerian ToT dan role play kali ini, kita nggak dibarengi dengan teman-teman Cofas satu gugus. Saya dan Bastian tidak bertemu lagi dengan teman-teman di gugus Sardjito. Kami bertemu dengan gugus-gugus yang lain.

Berkatnya kami semakin mendapatkan gambaran akan kemajuan dari pasangan-pasangan yang lain. Ada yang lebih bersemangat, ada yang lebih pandai mengelola pematerian, ada yang lebih interaktif, ada yang lebih pandai meninabobokkan, macam-macam.

Sayangnya bukannya tambah meningkat, tapi saya dan sahabat Bastian mendapatkan beberapa catatan yakni pembagian yang kurang merata hingga nampaknya Bastian lebih mendominasi. Hehe, kalau boleh jujur, sebetulnya kadang saya ndak enakan untuk menuntut padanya, “Saya juga pengen job bicara yang itu.” Tapi itu juga bertubrukan dengan keinginan saya yang lebih sering pasrah atas kemauan orang lain, padahal di beberapa kesempatan itu bisa jadi masalah. Mau nggak mau, saya harus belajar untuk menata ambisi tapi juga berani untuk menyampaikan keinginan hati. Biar adil terhadap diri dan orang lain, hihi.

Public Speaking
Agenda paling akhir yang saya lalui adalah pematerian mengenai public speaking dari para dosen-dosen keren. Ada Bu Wulan Tri Astuti atau Miss Pinky seorang dosen Sastra Prancis yang menurut saya memang cerdas sekali membawakan materi sehingga sering menggelitik perut selagi memahamkan isinya, juga Bu Iva Ariani dari bagian Humas UGM yang keilmuannya mengenai public speaking dan public relation baik sekali, juga Mbak Saka Kotamara brand ambassador SGM yang banyak mengupas soal pentingnya personal branding, serta yang terakhir merupakan pembicara yang tepat sekali menyajikan kelezatan penutup; Mbak Analisa Widyaningrum, alumni Psikologi, yang membungkus motivasi dan inspirasi dan menghadiahkannya pada kami.

Setidaknya pada pematerian akhir itu, saya betul-betul merasa diingatkan bahwa salah satu dorongan yang tidak boleh dilupakan saat kita merasa dalam kemalasan adalah perjuangan dari dua insan yang nggak pernah ada capeknya demi menjamin kita punya pendidikan. Siapa lagi? Babe yang nggetih ke sana kemari bekerja, Ibu yang setia dan bekerja keras mendampingi Babe dan memenuhi kita punya gizi. Serius, saya dibuat menangis sejadi-jadinya di ruangan Grha Sabha Pramana karenanya.

Di hari selanjutnya setelah pematerian, masing-masing kami baik dari divisi Cofas maupun yang lainnya dievaluasi oleh para dosen mengenai kemampuan public speaking-nya. Cukup puaslah saya kalau dibilang seperti guru saat berada di depan. Tapi, sedikit tidak puas juga karena tidak mendapatkan kritik yang tepat untuk menentukan di titik mana saya butuh perbaikan. Saya tahu bahwa diri masing kurang, tapi sebab oleh sang dosen kesemuanya banyak diberi apresiasi, kadang jadi kebingungan menentukan what should I do then to improve my ability? Haduhhh, kudu belajar sendiri.

***

Saya betul-betul menikmati kesemua lelah yang menganugerahkan saya peningkatan ini. Tentu saja, alhamdulillah. Hanya saja, ada yang membuat diri begitu dilema belakangan ini.

Beberapa hari yang lalu, dua orang pribadi dari gugus Sardjito telah memutuskan untuk mengundurkan diri. Untuk alasannya, saya yakin ada amanah di luar yang menuntut mereka melakukannya. Huhu, lalu bagaimana dengan saya?

Pada saat hari terakhir agenda Public Speaking, sebuah amanah tertanda 14 Juli 2018 sudah saya tinggalkan, meski tidak sepenuhnya sebab saya sudah sempat memasrahkan. Tetapi, tetap bagi saya artinya meninggalkan. Sebab raga ndak bisa ke sana. Amanah apa itu? Apa lagi? Fortasi (Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa) 2018 PD IPM Kota Yogyakarta. Sebuah momen orientasi siswa bagi pelajar Muhammadiyah di Kota Yogyakarta. Saya merasa begitu menyesal belum bisa memenuhi amanah di sana.

Saya bersyukur atas bisa mendapatkan peningkatan lewat pematerian Cofas tapi di sisi lain penyesalan juga begitu besar atas peran yang semakin berkurang di Fortasi. Serius, sedih sekali. Saya tahu ini dilema yang berat. Meski saya hanya Cofas di PPSMB, tapi amanahnya besar. Sedang di Fortasi saya berada dalam amanah mengatur acara, bagaimana mungkin saya lepas begitu saja? Kedua amanah ini sejalan secara visi, tapi untuk saya menjalankan misinya akan saling bertubrukan akan jadwalnya.

Jujur saya dilema, dilema yang sangat. Saya ndak mau hanya menjadi sebuah keluh kesah dalam batin. Saya betul-betul mengharapkan Allah menegaskan posisi saya, hingga mampu menguatkan niat dalam segala keputusan. Aamiin ya Rabb.

Sedikit waktu saya tersisa di dunia, semoga urusan-urusan ini bukan membuat saya makin dijauhkan dengan-Mu, lebih-lebih semoga dengannya bisa membawa saya punya bekal yang cukup menuju akhirat-Mu.

Yogyakarta, 4 Dzulqa’dah 1439

Tinggalkan Balasan