Jangan baca aku, nanti kamu pusing.
Jangan baca aku, karena aku belum siap.
Jangan baca aku, karena aku masih di kepalanya dan belum sempurna untuk dituliskan sebenarnya.

Aku hanya ingin buru-buru.
Buru-buru sampai, buru-buru usai.

Celakanya, kamu sudah mau baca.
Dibilang jangan baca. Aduuh.

Besok lagi lah ya,
Kita ketemu di edisi revisi.
Doakan saja si empunya aku tetap tergerak untuk memperbaiki diri dan berhenti terlalu meragui diri sendiri.
Juga penerbitnya, mau lah ya mencetak lagi.
Semoga, oh semoga.

Dah lah.
Hus, hus, sana, jangan baca dulu.

Yogyakarta, di waktu yang jangan coba-coba dibaca