Sebuah lagu dari Band Armada sudah memikat telingaku sejak kali pertama kudengar di panggung Pasar Ngasem. Pulang malu, tak pulang rindu…, begitulah lirik yang langsung terpatri hingga hari ini.

Aku bisa membayangkan ketika lagu itu dibawakan oleh seorang mahasiswa atau perantau yang pergi meninggalkan kampung halamannya. Mereka menyemai mimpi dan harapan di kota yang jauh dari rumah. Untuk sekolah, untuk hidup lebih sejahtera, untuk pulang dengan bangga. Tapi siapa sangka di suatu masa di tengah perjalanan mereka akan lahir perasaan itu. Perasaan rindu ingin pulang. Sekaligus di saat yang sama, malu karena harapan yang dibawa saat meninggalkan rumah belum juga menunjukkan rupa wujudnya.

Mungkin untuk diriku sendiri, pengalaman meninggalkan kampung halaman dalam jangka waktu lama untuk mempertaruhkan harapan belumlah banyak. Tapi, lirik lagu tadi sangat erat tertancap di kalbuku. Tidak ada kemungkinan lain yang kupikirkan, selain bahwa memang setiap kita sedang dalam kerinduan dan sebagian besar malu (bahkan takut) untuk pulang.

Bukankah kita, di dalam hidup ini, sejatinya sedang melakukan sebuah perjalanan meninggalkan rumah? Niat kita pulang kembali dengan membawa pencapaian dan oleh-oleh terbaik, bukan?

Ziarah

“Him, kamu ziarah?” begitulah tanggapan beberapa teman yang agak syok karena tahu aku pergi ziarah. Bagi sebagian orang, karena sudah aktif di sebuah ladang dakwah bernama Muhammadiyah, fakta bahwa aku melakukan ziarah kubur adalah sesuatu yang wagu—atau aneh. Biasanya memang, hal ini lebih sering dilakukan oleh teman-teman di lingkungan nahdliyin.

Tapi aku tidak dalam rangka membahas perbedaan di antara dua ormas besar itu. Kebetulan saja, Bapakku adalah pribadi yang senang sekali berkontemplasi dengan jalan-jalan, berefleksi dan menata pikiran, termasuk pergi ke situs kuno, candi-candi, dan makam tempat dimana tokoh-tokoh besar di-sare-kan. Kata Bapak suatu saat, dalam niatan untuk belajar dari kebaikan beliau-beliau di masa silam.

Maka apabila ziarah, selain ke makam keluarga, doaku selalu kira-kira sama: semoga kebaikan dan perjuangan beliau-beliau selama di dunia membantu menerangi alam kuburnya, serta kami yang masih berkesempatan hidup di sini dapat belajar dari kisah mereka.

Pak Rastra (baju oranye paling kanan), teman duta museum sekaligus aktivis PMII kentel, tiba-tiba suatu hari bilang di chat WhatsApp, “Him, dah pernah ke makamnya K. H. Ahmad Dahlan?”

Dan sebagai kader Muhammadiyah, tidak perlu kagetlah dengan responku, “Ehhh belum, Pakkk. Gimana?” Pak atau Bapak adalah kebiasaanku menyapa mas-mas yang lebih senior di atasku, hehe.

Kemudian hadirlah rencana yang tidak disusun penuh keribetan. Hanya bermodal keinginan masing-masing, aku ingin belajar lebih tentang tokoh Muhammadiyah dan Pak Rastra ingin ziarah untuk mendoakan, jadilah kami mengajak teman-teman lain.

Aku menawari Salma, sohib di Nasyiatul Aisyiyah yang kurasa bakalan tertarik dengan ajakan begini. Juga Pak Rifky, teman lain di duta museum yang kapan hari mengaku akrab dengan lingkungan baik Muhammadiyah maupun NU.

Momen pas aku mengajak Pak Rifky ini agak lucu. Aku yang menyampaikan kalau ini inisiatifku dan Pak Rastra ditodong pertanyaan dahulu, “Ini acara IPM apa acara PMII?” Pas itu juga, aku ngguyu. Hahaha, “Nggak ada panji-panji ormas, Pak.” begitu kataku dan akhirnya dia mau. Di samping itu, Pak Rastra juga mengajak dua teman lainnya yang aku baru kenalan juga di hari kami berangkat.

Oh iya, selain ke makam KH Ahmad Dahlan, kami juga berkunjung ke makam KH Ali Maksum, pendiri pondok pesantren Ali Maksum. Salah satu pondok ternama milik NU di Yogyakarta, di samping pondok Al-Munawwir. Aku juga tertarik berkunjung, karena kebetulan waktu sekolah dasar dulu sempat dimasukkan sekolah sore di madrasah diniyah itu. Salah satu kebanggaanku sebagai gadis berusia tujuh tahun saat itu adalah bisa pamer ke teman-teman dan para guru bahwa aku hapal doa iftitah allohumma bait dan allohuakbar kabiro. Ehehe, emang rada sok-sokan aku dulu.

Jadilah, pada sebuah siang menuju sore kami awali pergi ke makam KH Ahmad Dahlan yang ternyata bersebelahan dengan beberapa tokoh luar biasa di pergerakan Muhammadiyah. KH Ibrahim, KH Badawi, KH AR Fachruddin—idolaku zaman Taruna Melati I, hihihi. Pun ada nama seorang perempuan di situ, Aisyah Hilal, putri KH Ahmad Dahlan. Setelah ku-browsing rupanya salah satu pendiri majalah Suara Aisyiyah.

Makam ini terletak di daerah Karangkajen, di belakang masjid Jami’ Karangkajen. Beruntung Pak Rifky punya salon di dekat situ, jadi langsung tahu oh lokasinya di situ.

Makamnya luas, ada banyak sekali nisan. Beberapa bertanda bendera merah putih dari kayu, pikirku mungkin pahlawan atau orang yang berjasa. Khusus di makam KH Dahlan, terdapat papan hijau besar bertuliskan “Makam Pahlawan Nasional”. Masyaallah.

Selanjutnya tidak lama, Ashar tiba dan kami sholat dahulu. Kecuali aku, lagi pas nggak sholat. Lalu baru berlanjut ke makam KH Ali Maksum yang ada di Makam Pathok Negoro Dongkelan Kauman.

Suasananya agak beda dari makam sebelumnya. Di sini, lebih banyak orang yang ziarah dan berdoa. Bahkan, beberapa anak terlihat santai sekali berlari-lari di antara makam-makam itu untuk main layangan sambil berteriak-teriak. Heran? Sama, aku juga, hahaha.

Pulang

Dalam setiap perlombaan, finish paling akhir adalah kembali ke start. Dalam setiap perjalanan, tujuan paling akhir adalah untuk pulang.

Inilah hal lain, di samping terdorong untuk makin mengenal kebaikan para tokoh-tokoh yang sudah berpulang, yang menjadi oleh-oleh setiap melakukan ziarah. Yakni, adanya kesadaran bahwa kami semua yang hidup ini akan tidak hidup nantinya.

Gelar kyai haji tersemat di beberapa nisan tokoh yang kami kunjungi. Bahkan di beberapa nisan lain ada yang menyerat gelar-gelar akademiknya, seperti profesor dan sarjananya. Itu mengundang ketertarikan rombongan kecil kami. Wah, ada yang gelarnya sepanjang itu.

Kemudian, tersadar diriku bahwa bahkan yang sudah bergelar dan berperan besar pun pada akhirnya akan berakhir di sini. Di makam. Di tanah. Tidak bisa berbuat apapun lagi. Tidak punya kesempatan beramal lagi.

Maka seketika, kegiatan sederhana yang tidak mengeluarkan biaya dan cuma bermodal niat saja jadi terasa begitu berkesan dan mewah. Karena pulang dari sana, aku merasa punya oleh-oleh. Sebuah kesadaran. Sebuah cita. Sebuah rasa.

Berbahagialah orang-orang yang di waktu pulangnya bisa merasa utuh dalam dirinya, dalam imannya, dalam amalnya, dalam ilmunya. Kita pasti mencita-citakan demikian. Pulang dalam sebaik-baik keadaan.

Pulang malu tak pulang rindu. Mungkin karena itu, di setiap jalan dalam hidup ini, kita manusia selalu merasa ‘kurang’. Karena sejatinya hidup adalah soal merindukan. Dimana kita dulu diberangkatkan dengan sebuah kepercayaan untuk meraih keutuhan iman. Tapi karena adanya beragam kesulitan dan godaan, kita makin jauh dari jalan untuk meraihnya, dan jadilah malu—bahkan takut—untuk pulang. Hingga kadang sebagian kita memilih menghindari—kepulangan—nya, melupakan ingatan soal kepulangan, mengabaikannya dengan berbagai kemilau di perjalanan; sibuk mengumpulkan harta dan kuasa di dunia. Dan di saat yang sama, semakin merasa kekurangan dan ‘merindukan’.

Sedangkan, bagi kita yang ingat tujuan sejak awal, segala hal yang dilakukan kemudian menjadi terarahkan. Kita seolah diberi kekuatan untuk meraih keutuhan iman. Hingga keyakinan dan kemantapan untuk pulang menjadi demikian kuat. Siap kapanpun karena memang telah mempersiapkan.

Semoga kita sama-sama bisa pulang nantinya. Dalam sebaik-baik keadaan. Insyaallah.

Orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Rabbnya, dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya.

QS Al-Baqarah (2) : 46

Yogyakarta, 14 Dzulhijjah 1441