Sebuah Prolog

Namanya Mbak Syifa Rahma. Seorang sahabat perempuan yang pernah mengingatkan, “Percaya diri. Gimana sih caranya? Ya itu, dari istilahnya aja udah jelas, ayolah percaya. Percaya sama diri sendiri. Kalau bukan kita yang percaya, siapa lagi?”

 

***

 

Selamat berkutat dengan aktivitas masing-masing, Sahabat semua. Salam teriring doa kebaikan terlimpah untuk setiap kita. Sehat-sehat, kuat-kuat di tengah wabah yang kita harap segera mereda.

 

Hehehe, work from home kamu menyisakan banyak waktu senggang nggak nih? Butuh bantuan lewat rekomendasi hiburan yang bisa dikonsumsi kan? Uwuu, hari ini aku mau berbagi review mengenai sebuah film berjudul English Vinglish. Film bollywood produksi tahun 2012 nih. Hihi, amaan, bukan film bucin-bucinan joget-jogetan. Durasinya dua jam lebih dikitlah.

 

 

Secara singkat, film ini mengisahkan soal perempuan bernama Sashi yang merupakan seorang ibu rumah tangga yang hidup bersama ibu mertua, suami, dan kedua anaknya. Si Sashi ini dikenalkan sebagai pribadi yang hobi banget masak, khususnya masak ladoo (khas india), ‘lulusan S3 jurusan masak’ kalau kata anak jaman sekarang.

 

Nah, hidup di tengah budaya India yang mulai mengglobal, Sashi kesulitan menyesuaikan diri, khususnya dalam berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Padahal lingkungan kerja suami dan sekolah anaknya menuntut untuk memggunakan bahasa internasional itu. Agak sedih sih ini karena anak pertamanya dan bahkan suaminya sering ngetawain. Jahad bats, ampuun. Bahkan si anak ini sampai malu ngajak Sashi ke sekolah dan suka ngomel-ngomel gitu kalau ibunya ngelakuin kesalahan. So sad tenan. Huhuu.

 

Kemudian alur cerita mulai berkembang. Sashi sekeluarga diundang untuk menghadiri pernikahan keponakannya di Amerika Serikat, waaaaw. Pesta sekaligus liburan. Kebetulan suami Sashi masih ada beberapa tugas kantor dan kedua anaknya masih harus sekolah. Sashi diharap-harap bisa lebih dulu membantu persiapan pernikahan. Apalagi semua orang tahu, ladoo buatan Sashi adalah yang terbaik untuk perayaan. Sashi awalnya khawatiiiir bangeeet. Yaaa gimana yaa, berangkat seorang diri dengan bekal bahasa Inggris yang sama sekali tidak memadai membuatnya takut. Tapi karena dipaksa sang suami, yasudah akhirnya ia mencoba memberanikan diri. H-1 bulan pernikahan dia terbang ke negara tempat Rangga ninggalin Cinta di film Ada Apa dengan Cinta (loh loh kok bahas film lain wkwk).

 

Perjalanan ke Amrik cukup membuat Sashi deg-degan super hebat. Tapi santuy sih akhirnya sampai. Setelah itu barulah di negara Paman Sam ini, Sashi menghadapi masalah baru lagi. Ia hanya mampu mengenakan bahasa Hindi dan jarang bisa terlibat di percakapan orang-orang. Huhuu sedih banget nontonnya. Termasuk saat suatu hari mau beli kopi di sebuah cafe, ia sampai dibentak-bentak oleh sang penjual karena tidak bisa melakukan pesanan.

 

“Aku ingin kopi.”

“Americano, cappucino?”

“Kopi aja.”

“Ya kopi yang apa?”

“Kopi.”

 

Huehue, ngekek. Si Sashi dibilang bodo coba 🙁 Sampai akhirnya karena gemas si penjual nulis pesenan terserah dia. Tapi Sashi kembali membikin kesalahan karena panik. Dia nggak sengaja menyampar piring dan gelas di cafe tersebut. Tidak bisa menahan malu dan mengontrol diri, akhirnya Sasi keluar dari sana. Sambil menangis. Tersedu-sedu. Huhuu.

 

Mulai dari situ, ia terdorong untuk mencari cara belajar bahasa Inggris. Hueee. Susah sekaliii. Ia menemukan sebuah kursus bahasa Inggris di sana. Harganya lumayan sih, tapi Sashi berpikir itu ga masalah yang penting bisa buat belajar. Ia pergi ke sana diam-diam setiap hari. Hihii, karena malu sih keknya. Lucu dan seru ngeliatin gimana semangat belajarnya.

 

Uwuwuu, akhirnya, terus gimana Sashi berjuang menyelesaikan pelajaran bahasa Inggrisnya? Mampukah ia? Bagaimana respon keluarganya? Huehue, menarik banget sih digali. Kalau kuceritain semuanya nggak seru deh jadinya. Tonton sendiri yaaaa hahaha.

 

 

Tapi, ada satu hal lain yang ingin kusampaikan. Selain semangat belajar bahasa, film ini menegaskan juga tentang pentingnya bagi kita untuk percaya pada diri sendiri.

 

Sashi mengajarkan bahwa akan ada masanya orang-orang di sekitar tidak bisa membantu masalah kita. Dan kita sendirilah yang mampu melakukannya. Hmmm, that’s so deep I think.

 

Berawal dari kesulitan bahasa Inggris—yang mungkin kita bisa bilang—doang, Sashi menemukan kekurangan-kekurangan di dalam dirinya. Diremehkan oleh keluarga, sulit ketawa kalau lagi pada buat lelucon, bingung kalau mau menyampaikan sesuatu, bahkan mendapat pengalaman nggak menyenangkan kayak di cafe waktu itu. Haduuuhhh. Berat banget kan yaa. Di saat yang sama, dia menemukan keteguhan prinsipnya diuji. Kecintaannya pada keluarga dan kesetiaannya pada suami. Ughh.

 

Hingga akhirnya, kubocorkan deh soalnya menariq, ia sempat menyampaikan sesuatu dalam bahasa Hindi yang artinya, “When you don’t like yourself, you tend to dislike everything connected to you. New things becomes more attractive. When you learn to love yourself, then the same old life starts looking new, starts looking nice.

 

Mueheeee, benar, Sashi. Sepakat! Terima kasih sudah mengajarkan untuk percaya pada diri sendiri, bahwa apapun yang kita punyai haruslah dijaga, apapun yang kita hadapi pasti mampu kita tangani. Tidak masalah kalau harus mencoba berulang kali dan kesulitan lagi.

 

Yogyakarta, 16 Sya’ban 1441