Sabar ya, Yang

“Sapa? Sapa sing nakali, Nduk? Kene, kene, tak jewer e bocah e,” lalu didekatinya dua kakakku yang usilnya luar biasa sambil mencubit daun telinga masing-masing mereka.

 

malah nggak ada Eyang pas ini 🙁

 

Seperti biasa, aku berseteru lagi dengan kedua kakakku. Dan seperti biasa juga, kemenangan selalu di tanganku setelah kuangkat senjata ampuh berupa “tangis super” di hadapan Eyang, hehe. Pada akhirnya, pasti dua kakakku yang akan terkena marah dan mendapat hadiah jeweran (cubitan telinga) dari Eyang. Ya, meskipun bukan rahasia lagi bahwa Eyang sebetulnya tidak pernah betul-betul mencubit dan berlaku kasar ke cucu-cucunya, mana mungkin beliau begitu. Tangan beliau memang berlagak menarik daun telinga kakak-kakakku, namun sebenarnya ya nggak diapa-apain. Beliau cuma “acting” demi melegakan hati cucunya yang sedang menangis biar merasa sudah dimenangkan.

 

Mengenai itu, aku tahu karena pernah juga kubuat adikku menangis. Jadilah, aku yang giliran terkena “jeweran boongan” Eyang. Nggak ada sakit-sakitnya sama sekali, ciyus dah. Jemari Eyang cuma ditempelkan ke telingaku sambil ia memberi kode biar aku berhenti menggoda si adik.

 

“Oh, ternyata nggak dicubit betulan,” kataku dalam hati. Hihihi, senang karena saat itu aku nggak merasakan sakit. Tapi juga sedikit sebal, selama ini merasa dibohongin. Hahaha.

 

___

 

Begitulah Eyang, selalu hangat dan menyenangkan bagi cucu-cucunya. Eyang Mustaqimah, namanya. Sejak kecil, bisa dibilang aku yang paling dekat dengannya, secara jarak dan interaksi. Mungkin karena saat itu Babe dan Ibunda masih berada dalam satu atap dengan Eyang. Kalau diingat-ingat, semua cerita masa kecilku nggak terlepas dari Eyang. Semuanya, mmm, nyaris semuanya, Eyang selalu berperan di sana.

 

Orang yang mengajariku bisa membaca dan menulis dengan baik, Eyang orangnya. Maka ndak aneh buatku kalau Eyang yang lebih sering membangga-banggakan aku saat di taman kanak-kanak. Walaupun sebetulnya itu sederhana. Kayak aku bisa hafal doa naik kendaraan darat, lulus tes baca pas daftar SD, juga dapet hadiah pas kartinian. Eyang selalu bangga, selalu!

 

Itu sampai sekarang ya. Bahkan Eyang ngecap aku tiap malem rajin baca buku. Padahal aslinya memang ada buku di depanku, tapi di atasnya ada ponsel. Kan sama aja boong kalau dibilang “rajin baca buki”. Tapi tetep aja, ntar kalau ada tamu dateng, pasti aku dipuji-puji, “Kae lho, Wardah, saben bengi rajin banget maca buku.” Gimana nggak baper saya mah?😳

 

Juga, orang yang mengajari dan membantuku berlatih sepeda, Eyang-lah orangnya. Dulu Babe membelikanku sepeda yang kebetulan tempat duduknya terlampau terlalu tinggi bagi tubuhku yang ideal (yang keliru tinggi sepedanya ya, bukan tinggiku yang ideal). Akhirnya, Eyang-lah yang berbaik hati memegangkan sepedanya setiap kali aku hendak mendaki sepeda lewat pedalnya.

 

Pun yang selalu menjadi teman jalanku, Eyang-lah orangnya. Toko jajan di Taman Sari, pasar Beringharjo, Baturaden, pantai selatan, ah, semua itu selalu punya kenangan indah soal Eyang. Bahkan dulu saat Eyang masih rajin menganyam dan mengkristik, pasti aku diajak membeli kain dan benang. Lalu aku juga diberi porsi kain dan benang sendiri supaya bisa ikut-ikut berkreasi. Saat-saat itulah aku ingat sekali menjadi pribadi yang sangat feminim dan senang membuat hiasan pernak-pernik. Bahkan termasuk saat dulu sangat addicted dengan BoyBand Smash, sampai pengen menghadiahi Bisma (salah satu personilnya) kreasi kristikku. Gelaseh, emang, produktif dan sangat meng-ide sekali aku dulu!

 

Kembali ke soal Eyang. Pokoknya apapun yang Eyang punya, ndak mau dinikmati sendiri dan selalu maunya dibagi sampai ke semua cucu-cucunya. Meskipun jauh di mata, tapi bagi Eyang cucu-cucunya dekat di hati. Sering sekali, untuk yang rumahnya jauh, dikiriminya masakan buatannya atau sekadar oleh-oleh yang didapat dari sanak saudara yang bertamu. Aduhai, Eyang. Bahkan, tiada lupa juga dengan tetangga sekitar rumah, Eyang memintaku berbagi apa yang lebih di rumah kami. Saat hari-hari biasa, atau yang paling romantis adalah saat sahur di bulan Ramadhan, duh, Eyang memintaku mengantarkan beberapa lauk dan nasi ke rumah  reot seorang tetangga. Di sana, kulihat seorang anak perempuan dan tiga anak lelaki bersama Ayah yang menua dan Ibu mereka. Ya Allah, sungguh baik sekali Eyang yang selalu memikirkan orang lain, sebelum diri sendiri. Bagaimana mungkin aku lupa bersyukur dikaruniai seorang Eyang luar biasa dalam hidupku?

 

Eyangku ini…

 

…ialah pencerita yang menyenangkan. Eyang adalah pendengar yang selalu antusias. Eyang adalah senior sekaligus teman. Eyang adalah guru. Eyangku, … terima kasih.

 

___

 

Hingga sekarang, nyaris untuk kedua puluh kalinya, matahari kembali menyapaku dari langit Yogyakarta, kota kami tercinta. Sinarnya terik. Mataku sampai harus menyipit ketika menantang wajahnya. Matahari yang dulu kuanggap bola besar yang bersinar, baru kusadari betapa ia sungguh-sungguh sangat besar, tapi bukan saja bola. Dia … kehidupan.

 

“Eyang, badhe dhahar napa, Yang?” satu persatu mencoba merayu Eyang yang sekarang lebih akrab dengan kasur dibanding dapur, tempat favoritnya. Jawaban Eyang sama, hanya geleng-geleng.

 

Dulu, pasti kalau aku enggan makan, Eyang langsung berperang melawan kengeyelanku sampai mau tidak mau aku mengalah. Apapun Eyang usahakan, menanyai lauk apa yang kumau, memastikan aku ambil nasi yang cukup, sayurnya ada, dan sebagainya, dan selengkapnya. Oh, Eyangku, bagaimana aku bisa tidak sedih mengingat usahamu yang luar biasa untuk memastikan kesehatan dan giziku? Sekarang, sulit sekali membandingkan dengan bagaimana usahaku merayumu.

 

Malam-malam Eyang sering mengeluh sakit. Kadang pusing, kadang sampai muntah-muntah. Rasanya dosa sekali kan bila muncul padaku rasa gemas dan sebal? Mengingat Eyang sama sekali tidak pernah mengeluhkan apapun tentang susahnya mengurusku. Mengingat Eyang selalu bersemangat menuruti keinginan cucu-cucunya dengan bijak. Mengingat Eyang yang begitu tulus sayangnya, sayang setulus-tulusnya.

 

“Dek, jaga Eyang ya,” bisik Babe yang menelurkan amanah dari kata-katanya. Allohu. Atas segala kebaikan yang Eyang berikan selama ini, tidakkah ‘kurang ajar’ bila aku lari dan menghindari amanah ini? Ya Allah, jangan, jangan sampai hamba termasuk orang yang merugi. “Eyang … Eyang … semoga cucumu ini bisa membersamaimu ke surgaNya.”

 

Sekarang, ini adalah waktu-waktu berat untuk Eyang. Sekarang, matahari mulai membuatnya bingung antara siang dan malam. Sekarang, kadang Eyang jadi lupa kapan harus marah dan kapan harus ramah. Sekarang, Eyang harus belajar ulang. Begitu juga aku, di sisinya.

 

Lirih sekali kukatakan, “Eyang. Sabar, ya, Yang.”

 

Yogyakarta, 26 Jumadil Awal 1440

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *